Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Alarm Angka Bunuh Diri

SABTU, 15 FEBRUARI 2025 | 07:30 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

INDONESIA, negeri yang katanya ramah dan menjunjung tinggi nilai-nilai religius, tampaknya mulai kehilangan arah dalam menghadapi satu masalah serius: bunuh diri. 

Ironisnya, di tengah kumandang azan lima kali sehari, pengajian di setiap sudut kompleks, dan kebijakan moral yang katanya mengayomi, banyak orang memilih jalan pintas ke kubur. 

Dalam sepekan terakhir, berita bunuh diri datang dari berbagai penjuru negeri. Seorang siswi SMA di Kalimantan Selatan, setelah berbulan-bulan bergulat dengan kesehatan mental dan tekanan dari seniornya, akhirnya memilih tali nilon sebagai solusi permanen untuk masalah sementara. 


Sementara itu, di sebuah mal di Jakarta Barat, seorang pria tanpa identitas di saku memutuskan terjun bebas dari ketinggian, seolah gravitasi sahabat terbaiknya. Tak ketinggalan, seorang wanita di Bogor yang baru saja bertengkar dengan suaminya langsung mengambil keputusan yang, sayangnya, tidak bisa dibatalkan.

Tren ini bukan sekadar kebetulan. Data menunjukkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia terus naik, dari ratusan hingga ribuan kasus per tahun. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2024, terjadi 1.023 kasus bunuh diri. Dan kalau kita tidak segera berbenah, angka ini bisa terus meroket. 

Pertanyaan kita, mengapa bunuh diri semakin jadi pilihan? Apakah dunia sudah tak layak dihuni? Tidak juga. 

Penyebabnya klasik: depresi yang diremehkan, impulsivitas tanpa kendali, tekanan sosial yang makin absurd, dan - tentu saja - stigma yang membuat orang lebih takut dibilang "gila" daripada benar-benar kehilangan akal sehat. 

Konsumsi alkohol dan obat-obatan secara berlebihan juga sering berujung pada aksi bunuh diri. Kebiasaan ini dapat membuat seseorang mengalami psikosis, suatu kondisi yang membuatnya kesulitan membedakan imajinasi dan kenyataan. Jika tak teratasi, ini saja bisa menimbulkan bencana kesehatan mental nasional.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru kadang menjadi pemicu. "Jangan bikin malu keluarga," kata mereka, ketika seseorang ingin mengungkapkan perasaan. "Banyak berdoa, nanti hilang sendiri," ujar yang lain. Layanan kesehatan mental? Ya, kalau punya duit lebih dan bersedia antre lama.

Padahal, kalau kita benar-benar setia pada nilai-nilai agama dan sosial yang selalu kita banggakan, seharusnya kita menjadi bangsa yang paling bahagia di dunia. Bukankah iman dan kebersamaan adalah benteng terbaik melawan keputusasaan? Atau jangan-jangan, kita lebih sibuk menghakimi daripada benar-benar peduli?

Solusi sebenarnya ada, tapi butuh lebih dari sekadar doa dan ceramah moral. Kita butuh edukasi yang membongkar stigma, layanan kesehatan mental yang benar-benar bisa diakses, serta komunitas yang bukan sekadar kumpulan orang yang saling menilai, tapi juga saling mendukung, dijiwai nilai-nilai agama sebagai sumber kasih sayang.

Sampai saat itu tiba, kita mungkin masih akan melihat berita-berita bunuh diri berseliweran. Dan semoga, di antara deretan angka statistik yang diharapkan tak terus bertambah, kita bisa menemukan cara untuk menghentikan ajakan setani untuk bunuh diri - bukan dengan menutup mata, tapi dengan benar-benar peduli.

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Quran

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya