Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Pesan Ekologis di Balik Peristiwa Isra Mi’raj

Oleh: Parid Ridwanuddin*
SENIN, 27 JANUARI 2025 | 13:43 WIB

ISRA Mi’raj bukan hanya perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw., tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan di bumi ini. Dari peristiwa agung tersebut, lahirlah kewajiban salat, yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga dengan alam semesta sebagai manifestasi keagungan-Nya.

Peristiwa Isra Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw., memiliki makna yang sangat dalam. Secara historis, umat Islam telah memperingatinya dalam kurun waktu yang sangat panjang guna mereguk pelajaran berharga bagi kehidupan yang senantiasa dipenuhi tantangan.

Dalam konteks ini, ibadah salat sebagai buah dari perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw., mengandung pesan ekologis yang relevan dengan kehidupan kita saat ini. Kehidupan yang dikepung beragam krisis ekologis dan atau krisis iklim, baik dalam skala nasional maupun global.


Salat merupakan salah satu ibadah ritual yang sangat penting di dalam ajaran Islam. Kitab suci Alquran menyebut kata salat (Arab: shalat) sebanyak 83 kali. Sementara itu, kata-kata yang diderivasi dari kata shalat disebutkan sebanyak 124 kali. Secara kebahasaan, salat memiliki sejumlah makna, diantaranya “berdoa” dan “hubungan”. Makna etimologis “hubungan” yang terkandung dalam kata salat terambil dari kata shilat atau shilah yang memiliki akar kata yang sama dengan shalat, yaitu shad-lam-wau.

Kata shilat atau shilah mengingatkan kita pada kata silaturahmi dalam bahasa Indonesia, yang diambil dari bahasa Arab shilaturahmi. Maknanya, menghubungkan tali kasih sayang karena manusia merupakan satu keluarga yang berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam dan Hawa.

Di dalam berbagai kitab fiqh, salat didefinisikan sebagai suatu bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw., dengan rukun dan syarat yang ditentukan, dalam bentuk ucapan dan perbuatan untuk menyembah Allah Swt, yang dimulai dengan takbiratul ihram serta diakhiri dengan salam.

Salat dapat dihayati dengan makna “hubungan” karena menjadi media yang menghubungkan antara hamba dengan Allah swt. Lebih jauh, salat juga menghubungkan antara manusia dengan alam yang merupakan manifestasi-Nya.

Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi, seorang sufi agung kelahiran Murcia, Andalusia menulis makna salat dengan sangat memikat. Di dalam kitab Fushusul Hikam (halaman 224), beliau menjelaskan bahwa salat menggambarkan gerakan kosmik yang melambangkan gerak alam dari ketiadaan menuju keberadaan. Gerakan di dalam salat terdiri dari tiga kelompok, yaitu: gerakan vertikal saat sedang berdiri; gerakan horizontal, saat sedang melakukan rukuk; dan gerakan menurun, saat sedang dalam keadaan sujud yang melambangkan gerakan pepohonan, tumbuhan, tanaman dan benda-benda abiotik lainnya.

Dapat ditambahkan, gerakan dinamis dalam salat yang digambarkan dengan gerakan turun dan naik melambangkan gerakan dinamis air, udara, dan api sebagai elemen penting bagi keseimbangan kehidupan di alam ini.

Pada titik ini, penjelasan Ibnu Arabi membantu kita memahami, salat merupakan hubungan antara hamba dengan Allah, pada satu sisi, dan hubungan antara hamba dengan alam, pada sisi yang lain. Dengan kata lain, orang yang melakukan ibadah salat pada hakikatnya sedang melakukan pertemuan dengan Allah sekaligus dengan alam yang merupakan manifestasi dari keberadaan-Nya.

Salat juga menegaskan bahwa manusia memiliki hubungan yang erat dengan keberadaan alam atau lingkungan hidup yang menjadi rumah besar bagi seluruh makhluk hidup, termasuk dirinya. Hubungan erat itu dapat dilihat dari ketergantungan manusia yang sangat tinggi terhadap berbagai sumber daya alam yang menyediakan sumber pangan dan air untuk menopang kehidupannya.

Dengan demikian, jika salat menegaskan alam begitu penting bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya, maka salat juga melarang kita untuk melakukan kerusakan di alam ini karena akan menghancurkan keseimbangan kehidupan yang telah dirancang dengan sangat sempurna oleh Allah SWT.

Hubungan erat manusia dan berbagai makhluk hidup lainnya dengan alam digambarkan oleh Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama dari Turki, laksana sebuah huruf yang tidak memiliki makna apapun jika tidak dihubungkan dengan huruf-huruf yang lain. “Huruf itu tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri,” ungkap Nursi. Sebuah huruf, baru akan memiliki makna dan dipahami jika dihubungkan dengan huruf-huruf lainnya.

Keberadaan manusia ibarat satu huruf di antara hamparan huruf-huruf lainnya di alam ini. Eksistensi manusia tidak akan memiliki makna apapun jika tidak dihubungkan dengan eksistensi berbagai makhluk lainnya yang terdapat di alam ini.

Implikasi Praksis

Melalui makna ekologis yang terkandung di dalamnya, salat seharusnya berhasil mencegah pelakunya dari berbuat kerusakan (al-fasad) di muka bumi. Dalam konteks ini, ayat Alqur’an yang menyebut salat mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-‘Ankabut 29: 45), harus dipahami sebagai satu pesan penting bahwa perbuatan keji dan munkar, termasuk berbuat kerusakan sangat terlarang karena bertentangan dengan fitrah manusia dan perintah agama.

Lebih jauh, salat wajib dijadikan spirit perlawanan terhadap berbagai bentuk krisis yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, khususnya kebijakan ekonomi dan politik serta pilihan pembangunan yang mengekstraksi dan mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas. Para pelaku salat seyogyanya memiliki pandangan kritis terhadap berbagai kebijakan atau regulasi yang disusun untuk melegitimasi beragam praktik perusakan alam.

Jika salat mengajarkan hubungan yang erat antara manusia dan alam, maka para pelakunya harus melihat bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di planet bumi adalah buah dari hancurnya hubungan erat tersebut. Hancurnya hubungan manusia dan alam antara lain terjadi karena manusia hari ini menganut paham antroposentrisme yang melihat dirinya terpisah dari alam dan menganggap manusia sebagai pusat dari alam semesta.

Para pelaku ibadah salat juga wajib melawan paham skeptisisme lingkungan yang melihat berbagai bencana dan krisis lingkungan hidup yang terjadi di planet ini sebagai bagian dari cara alam memulihkan dirinya. Paham ini dikembangkan oleh untuk “membersihkan” dosa ekologis banyak perusahaan besar yang terbukti merusak lingkungan hidup dan mendorong krisis iklim semakin parah. Oleh karena itu, pandangan semacam ini sangat keliru karena memisahkan manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dengan demikian, salat bukan hanya ibadah ritual yang yang memiliki pesan sosial, tetapi juga memiliki pesan ekologis, dimana pelakunya wajib terlibat dalam berbagai upaya penyelamatan planet bumi.

*Penulis adalah pengurus Green Faith Indonesia dan Anggota Bidang Politik Sumber Daya Alam LHKP PP Muhammadiyah

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya