Berita

Kerusakan akibat gempa di Tibet, 7 Januari 2025./Sixth One

Dunia

Proyek Infrastruktur Ugal-ugalan di Tibet Perparah Dampak Gempa Shigatse

KAMIS, 23 JANUARI 2025 | 06:03 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Pada tanggal 7 Januari 2025, gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,3 skala Richter melanda wilayah Shigatse di Tibet, meneaskan lebih dari 120 orang dan menciderai ratusan lainnya. Menurut SixthOne.com, setidaknya 3.600 rumah hancur.

Meskipun wilayah ini tidak asing dengan aktivitas seismik karena lokasinya di zona tektonik aktif, bencana ini telah memicu kembali perdebatan tentang peran aktivitas manusia dalam memperburuk kerentanan geologis.

Shigatse, wilayah yang terkenal dengan warisan budayanya yang kaya dan kedekatannya dengan Gunung Everest, terkena dampak yang parah. Seluruh desa hancur menjadi puing-puing, infrastruktur penting seperti jalan dan jembatan hancur, dan ribuan orang mengungsi.


Medan yang sulit dan suhu musim dingin yang sangat dingin menghambat upaya penyelamatan, sehingga sulit untuk memberikan bantuan tepat waktu kepada mereka yang membutuhkan. Dampak gempa bumi melampaui kerugian manusia dan material yang langsung.

Dampak psikologis yang dialami para penyintas, yang banyak di antaranya telah kehilangan orang terkasih, rumah, dan mata pencaharian, sangat besar. Sekolah, rumah sakit, dan biara—yang merupakan bagian integral dari struktur sosial wilayah tersebut—tidak luput dari dampaknya, yang semakin mempersulit upaya pemulihan.

Tibet terletak di salah satu wilayah dengan aktivitas seismik paling aktif di dunia. Lempeng tektonik India dan Eurasia bertabrakan, menciptakan pegunungan Himalaya yang menjulang tinggi. Gempa bumi merupakan konsekuensi alami dari proses geologi ini, dan getaran sedang hingga parah sering terjadi.

Namun, skala kerusakan dalam peristiwa terkini, termasuk gempa bumi Shigatse, telah menimbulkan pertanyaan tentang apakah aktivitas manusia memperburuk kerentanan alami wilayah tersebut.

Dampak gempa Shigatse yang begitu besar memunculkan kembali perdebatan mengenai agresivitas pembangunan infrastruktur Tiongkok yang menguasai kawasan itu yang dinilai ugal-ugalan. 

Selama dua dekade terakhir, pemerintah Tiongkok telah berinvestasi besar dalam pertambangan, pembangunan bendungan, dan pembangunan perkotaan untuk mengeksploitasi sumber daya alam wilayah tersebut dan memperkuat posisi strategisnya.

Meskipun sering disebut-sebut sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan modernisasi, proyek-proyek ini secara signifikan merugikan ekosistem Tibet yang rapuh. Tibet kaya akan sumber daya mineral, termasuk emas, tembaga, dan unsur tanah jarang. Operasi penambangan skala besar telah merusak lanskap dan mengganggu ekosistem lokal.

Proses ekstraksi sering kali melibatkan peledakan dan pengeboran, yang menyebabkan ketidakstabilan bumi dan membuatnya lebih rentan terhadap tanah longsor dan gempa bumi. Selain itu, aktivitas penambangan menghasilkan limbah beracun yang mencemari sumber air, yang berdampak pada populasi manusia dan satwa liar.

Tibet merupakan rumah bagi sumber beberapa sungai besar, termasuk Yangtze, Mekong, dan Brahmaputra, yang menjadi sumber penghidupan jutaan orang di hilir.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok telah membangun banyak bendungan di wilayah tersebut untuk menghasilkan tenaga air dan menyimpan air. Meskipun bendungan ini berkontribusi pada produksi energi, bendungan ini juga menimbulkan risiko yang signifikan. Beban waduk yang besar dapat meningkatkan tekanan pada garis patahan, yang berpotensi memicu gempa bumi. Kegagalan bendungan selama kejadian seismik dapat menyebabkan banjir besar, yang memperparah kerusakan.

Pihak berwenang Tiongkok di Tibet mengatakan mereka telah mendeteksi masalah, termasuk retakan, di lima dari 14 bendungan pembangkit listrik tenaga air yang telah mereka periksa sejak gempa mengguncang Tibet.

Menurut para pejabat, tiga dari lima bendungan yang terdampak telah dikosongkan.

Proyek-proyek ini sering menggusur masyarakat lokal secara sosial, banyak di antaranya adalah pengembara Tibet yang memiliki ikatan budaya dan spiritual yang kuat dengan tanah tersebut.

Perusakan situs-situs suci dan mata pencaharian tradisional telah memicu kebencian di antara orang-orang Tibet, yang menyebabkan seruan untuk pelestarian lingkungan dan budaya yang lebih besar.

Para ahli telah lama memperingatkan bahwa ekosistem Tibet yang rapuh tidak dapat mempertahankan laju eksploitasi saat ini. Ketinggian wilayah tersebut, tutupan vegetasi yang rendah, dan kondisi cuaca ekstrem membuatnya sangat rentan terhadap degradasi.

Setelah rusak, ekosistem membutuhkan waktu puluhan tahun—bahkan berabad-abad—untuk pulih.

Gempa bumi Shigatse menjadi pengingat nyata tentang keseimbangan yang rapuh antara kekuatan alam dan aktivitas manusia.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Presiden Prabowo Disarankan Tak Gandeng Gibran di Pilpres 2029

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:52

Prabowo Ajak Taipan Bersatu dalam Semangat Indonesia Incorporated

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:51

KPK Siap Hadapi Gugatan Praperadilan Mantan Menag Yaqut Cholil

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:44

Perluasan Transjabodetabek ke Soetta Harus Berbasis Integrasi

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:38

Persoalan Utama Polri Bukan Kelembagaan, tapi Perilaku dan Moral Aparat

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:18

Pemerintah Disarankan Pertimbangkan Ulang Pengiriman Prajurit TNI ke Gaza

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00

Menkop Ajak Polri Ikut Sukseskan Kopdes Merah Putih

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:01

Iran Sebut AS Tak Layak Pimpin Inisiatif Perdamaian Gaza

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53

MUI Tegaskan Tak Pernah Ajukan Permintaan Gedung ke Pemerintah

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:43

Menkes Akui Belum Tahu Batas Penghasilan Desil Penerima BPJS

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:32

Selengkapnya