Berita

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol/AP

Dunia

Sekutu Korsel Tetap Solid Dukung Kebijakan Luar Negeri Yoon

Laporan: Muhamad Hakim Kaffah
KAMIS, 19 DESEMBER 2024 | 15:18 WIB

Hubungan Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk Yeol dengan oposisi terus memburuk. Namun begitu, para sekutu internasional tetap mendukung kebijakan luar negeri Yoon, yang lebih memihak Barat, terutama dalam isu-isu terkait Tiongkok dan Korea Utara. 

Yoon, yang terpilih pada 2022, telah memperkuat aliansi dengan Washington dan NATO serta berusaha menjadikan Korsel sebagai "negara penting global" dengan mempromosikan demokrasi dan supremasi hukum. Namun, ketegangan domestik meningkat, terutama setelah Yoon memberlakukan darurat militer pada 3 Desember 2024, yang mengejutkan sekutu-sekutunya.

Pemerintahan Yoon mendapat pujian internasional. Namun, langkah-langkah otokratisnya, seperti kebijakan keras terhadap oposisi, mulai mencemari citranya. 


Para diplomat Barat, meskipun mendukung kebijakan luar negeri Yoon, terkejut dengan keputusan untuk memberi kekuasaan darurat kepada militer, sebuah langkah yang dianggap sebagai pengingat akan masa lalu otoriter Korea Selatan. 

Beberapa analis, termasuk Karl Friedhoff dari Chicago Council on Global Affairs, mengatakan bahwa sebagian besar sekutu AS hanya peduli dengan keamanan nasional, tanpa terlalu memperhatikan masalah politik domestik Korea Selatan.

Pada 3 Desember 2024, Yoon mengejutkan dunia dengan menerapkan darurat militer selama enam jam untuk menanggulangi apa yang dia sebut sebagai "kekuatan anti-negara" yang menghalangi kebijakannya. Langkah ini, yang pertama kali sejak 1980, dipandang oleh banyak pihak sebagai tindakan yang merusak reputasi Korea Selatan sebagai negara demokrasi maju di Asia. 

Meskipun darurat militer itu dicabut setelah protes luas dari oposisi, langkah tersebut merusak kredibilitas pemerintahan Yoon, yang sebelumnya dihormati karena komitmennya terhadap kebebasan dan demokrasi.

Sekutu-sekutu Yoon, termasuk negara-negara Barat, tetap mendukung kebijakan luar negeri Korsel terkait isu-isu global seperti Laut Cina Selatan, Taiwan, dan Ukraina. 

Namun, kebijakan domestiknya yang semakin keras, termasuk tindakannya terhadap media dan oposisi, telah menimbulkan kekhawatiran. 

Beberapa diplomat, seperti Philip Turner, menganggap Yoon semakin otoriter, meskipun mereka mengakui bahwa kebijakan luar negeri Yoon tetap sejalan dengan kepentingan Barat, terutama dalam menghadapi Tiongkok dan Rusia.

Penyingkapan darurat militer tersebut juga mengejutkan Amerika Serikat, yang merasa tidak diberitahu sebelumnya. Meskipun demikian, Washington tetap mempertahankan posisinya dengan hati-hati, mengingat ketegangan yang muncul dari campur tangan dalam urusan domestik Korea Selatan. 

Hal ini membuat AS berada dalam posisi yang sulit, jika mereka terlalu cepat mengkritik Yoon, mereka dianggap campur tangan, sementara jika tidak mengungkapkan pendapat, mereka dianggap terlalu pasif.

Secara keseluruhan, meskipun kebijakan luar negeri Yoon dipandang menguntungkan bagi Barat, semakin banyak pihak yang khawatir tentang masa depan demokrasi di Korea Selatan jika Yoon terus melanjutkan pendekatan keras terhadap oposisi dan media. 

Sekutu-sekutu Yoon berharap presiden berikutnya akan meneruskan kebijakan luar negeri yang kuat, namun dalam suasana politik domestik yang lebih stabil dan demokratis.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya