Berita

Prabowo Subianto saat dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia/Repro

Publika

Mungkin Demokrasi Sejuk

SELASA, 22 OKTOBER 2024 | 20:17 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SETELAH dilantik sebagai Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto menggaungkan konsep "demokrasi sejuk." Dalam pidato pertamanya di gedung MPR/DPR, dia menekankan bahwa demokrasi harus substansial, bebas dari kebencian dan kekerasan.

Namun, gagasan ini mestinya tidak berhenti pada pidato yang berapi-api, melainkan menyentuh filosofi mendalam tentang demokrasi yang tidak sekadar pemilu prosedural atau jargon pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat. Demokrasi mestinya menukik ke yang substansial.

Mari, kita simak kembali pidato Prabowo pada 20 Oktober 2024: "Demokrasi kita harus demokrasi yang santun, di mana berbeda pendapat harus tanpa permusuhan. Demokrasi yang kalau bertarung tanpa membenci, koreksi tanpa caci maki, menghindari kekerasan, adu domba, hasut-menghasut. Harus sejuk, damai, menghindari kemunafikan. Tanpa curang..."


Dari kutipan ini, terlihat jelas bahwa Prabowo mengusulkan pendekatan baru dalam berpolitik: demokrasi yang penuh etika. Demokrasi tidak hanya soal suara mayoritas atau kekuasaan rakyat. Demokrasi harus menjamin kebebasan hidup yang damai, dengan prinsip utama tidak membuat kekacauan.

Prabowo memaknai demokrasi dalam Pancasila dengan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami, di mana rakyat memperoleh pemimpin yang dipilih secara bijak melalui permusyawaratan perwakilan. Para pendiri bangsa menekankan demokrasi ala permusyawaratan perwakilan.

Selama ini, definisi demokrasi seringkali terbatas pada kekuasaan dari rakyat, mandat diberikan oleh rakyat, namun definisi ini dapat dimanipulasi, terutama dalam politik berbiaya tinggi. Dalam konteks ini, demokrasi seringkali dibajak oleh kepentingan segelintir elite, dan bukan untuk rakyat.

Filosofi demokrasi yang lebih mendalam adalah menciptakan lingkungan yang damai dan adil. Demokrasi juga seharusnya tidak mengklaim superioritas global atau menjadi polisi dunia yang justru menyebarkan kekacauan, seperti dilakukan Amerika Serikat. 

Ketika kita mengadopsi mentah-mentah sistem ala Barat, wajah demokrasi kita yang diniatkan penuh semangat gotong royong berubah menjadi demokrasi yang penuh intrik dan hoaks. Sistem ini memunculkan kekacauan, ketegangan sosial, memperuncing perbedaan, dan menciptakan masyarakat yang semakin individualis.

Membaca sinyal dari pidato Prabowo, ada kemungkinan bahwa sistem demokrasi Indonesia akan mengalami perubahan signifikan. Salah satunya adalah kembalinya pemilihan presiden atau kepala daerah melalui MPR atau DPRD, sebagaimana sebelum amandemen UUD 1945. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan kembali ke UUD 1945 naskah asli.

Kenapa hal ini mungkin terjadi? Karena dalam sistem demokrasi dengan pemilihan berbiaya tinggi seperti sekarang, sulit membayangkan terciptanya demokrasi yang benar-benar sejuk dan santun. Pemilihan langsung untuk semua pemilu seringkali memicu politik transaksional, pencitraan semata, dan keterlibatan kepentingan oligarki.

Prabowo juga mengkritik demokrasi ala Barat yang lebih menekankan pada kuantitas suara daripada kualitas kebijakan. Demokrasi Barat, terutama yang diklaim AS, seringkali diekspor ke negara-negara lain dengan dalih misi demokrasi, namun justru memperparah kondisi di negara tersebut. Invasi Amerika ke Irak, Afghanistan, Libya, dan Suriah adalah contoh nyata.

Ironi ini menjadi alasan kuat bagi Prabowo untuk mendorong Indonesia mengadopsi sistem demokrasi yang lebih sesuai dengan karakter bangsa ?" yang guyub, penuh tepo seliro, dan menjunjung tinggi gotong royong. Ini baru bisa terlaksana dengan mengubah landasan konstitusional demokrasi kita.

Akhirnya, apakah "demokrasi sejuk" ini dapat diwujudkan atau hanya sekadar imajinasi? Sekali lagi, perubahan konstitusional tentu diperlukan untuk mencapai demokrasi yang benar-benar berlandaskan etika dan kebebasan tanpa kekacauan.

Walaupun langkah ini mungkin kontroversial, inilah satu-satunya jalan untuk menciptakan demokrasi yang santun, adil, damai, dan substansial, di Indonesia.

Penulis adalah pemerhati kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Qur'an

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya