Berita

Jaksa Agung ST Burhanuddin/Ist

Hukum

Data S3 Jaksa Agung ST Burhanuddin Lenyap di PDDikti Kemendikbud

MINGGU, 20 OKTOBER 2024 | 11:47 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kontroversi gelar doktor Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dinilai mirip dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin yang dilaporkan Indonesian Audit Watch (IAW) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan 7 lembaga lainnya.

Sekretaris Pendiri IAW Iskandar Sitorus mengatakan, sejak medio 2021, riwayat pendidikan Burhanuddin sudah sempat dipersoalkan karena datanya yang berubah-ubah.

Ketika itu, muncul perbedaan gelar S1 dan S2  Burhanuddin yang dibandingkan antara yang tertulis dalam buku pidato pengukuhan profesornya dan daftar riwayat hidupnya yang dipublikasikan situs resmi Kejaksaan Agung. 


"Itu terjadi sejak Burhanuddin menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan TUN pada 2012," kata Iskandar melalui siaran persnya, Minggu, 20 Oktober 2024.

Pada buku pengukuhan profesornya, Burhanuddin disebut lulusan sarjana hukum dari Universitas 17 Agustus 1945, Semarang, Jawa Tengah tahun 1983. Sementara di situs resmi Kejaksaan Agung, Burhanuddin disebut lulusan sarjana hukum Universitas Diponegoro tahun 1980.

Untuk pendidikan pasca-sarjananya, di situs resmi Kejaksaan Agung, Burhanuddin menyebut lulusan magister manajemen dari Universitas Indonesia (UI) tahun 2001. 

Sementara di buku pengukuhan profesornya, Burhanuddin disebut lulus dari Sekolah Tinggi Manajemen Labora di DKI Jakarta tahun 2001.

“Perbedaan data-data inilah yang kami laporkan. Soal data riwayat pendidikannya itu, kami berharap Ombudsman RI menelurinya dengan serius dugaan maladministrasi dalam hal penerbitan ijazah Burhanuddin," kata Iskandar.

Iskandar mengatakan, hal ini persoalan serius karena menyangkut nama baik akademik yang sekarang ini bisa dibuat seenaknya oleh pejabat penyelenggara negara.

Iskandar mengaku pihaknya menelusuri lebih jauh riwayat pendidikan S3 Burhanuddin yang mengaku lulusan Universitas Satyagama di Jakarta. 

Kata Iskandar, dulu rekam jejak S3-nya itu termuat dalam laman (PDDikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Di situ Burhanuddin tertulis sebagai dosen yang mengajar untuk program studi Ilmu Hukum Universitas Satyagama.

“Di dalam situs itu pula, Burhanuddin ditulis S3 atau doktor ilmu ekonomi. Jadi, agak mengherankan juga doktor di bidang ekonomi tetapi justru disebut mengampu mata kuliah soal hukum. Burhanuddin tertulis sebagai dosen aktif di situ,” tambah Iskandar.

Akan tetapi, lanjut Iskandar, pihaknya mencoba lagi menelusuri rekam jejak Burhanuddin itu di laman PDDikti untuk saat ini. 

Hasilnya, nama Burhanuddin seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada sama sekali rekam jejaknya mulai dari gelar S1 hingga S3.

“Bahkan kami mencoba memasukkan nomor induk dosen yang dulu tertera di laman PDDikti itu, hasilnya sama, nggak ada nama Burhanuddin sama sekali," kata Iskandar.

"Ini ada apa? Mengapa kita tidak lagi peduli dunia akademik yang dibuat kacau balau begitu. Akan jadi seperti apa sektor pendidikan kita jika semua hal bisa diatur sesuai kepentingan kekuasaan?” tanya Iskandar.

Berdasarkan itu, kata Iskandar, pihaknya mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk menginvestigasi kebenaran latar belakang pendidikan Burhanuddin mulai dari S1 hingga S3 yang masih sangat misterius hingga saat ini. 

“Saya kira ini penting, bukan hanya semata-mata soal pejabatnya tapi ini demi dunia akademik atau pendidikan kita yang sudah sangat tercoreng dan tidak maju-maju hingga saat ini,” kata Iskandar.

Sebelumnya, IAW resmi laporkan Jaksa Agung Burhanuddin ke KPK atas dugaan tindak pidana pengakuan dan atau penggunaan beberapa dokumen berupa ijazah, identitas kependudukan dan aset-aset yang terpublikasi guna mendukung gaya hidup mewahnya. 

Semua peristiwa ini terjadi ketika Burhanuddin menjadi pegawai negeri sipil/penyelenggara negara. 

Selain ke KPK, IAW juga melaporkan Burhanuddin ketujuh lembaga lainnya, termasuk Ombudsman RI terkait dugaan maladministrasi ijazah S1-S3 Burhanuddin yang diduga tidak jelas hingga saat ini.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya