Berita

Presiden terpilih Prabowo Subianto/Istimewa

Publika

Darah Sultan dalam Tubuh Prabowo

OLEH: MOCH EKSAN
MINGGU, 20 OKTOBER 2024 | 00:20 WIB

SEMUA pasti sepakat Prabowo Subianto tak ujug-ujug jadi Presiden ke-8 Indonesia. Ia melalui perjuangan yang sangat keras dan panjang sebagai tentara yang punya visi demokrasi. Kendati jalur militer terbuka untuk tampil sebagai presiden pasca-Presiden Soeharto lengser keprabon, ia memilih jalan demokrasi melalui pemilihan presiden secara langsung.

Tak kurang dari 20 tahun, Prabowo mengarungi jalan demokrasi dengan segala dinamikanya. Mulai dari ikut Konvensi Calon Presiden Partai Golkar pada 2004, menjadi calon wakil presiden dari Megawati Soekarnoputri pada 2009, maju sebagai calon presiden bersama Hatta Rajasa pada 2014, sampai bertarung kembali dengan Presiden Jokowi bersama Sandiaga Salahuddin Uno pada 2019.

Pada empat momentum pilpres tersebut, nasib Prabowo tak beruntung. Pada 2004 dia kalah dalam konvensi. Partai Golkar mengusung Jenderal (Purn) TNI Wiranto bersama KH Ir Sholahuddin Wahid. Sedangkan pada 2009, 2014, dan 2019, ia kalah dari Jenderal (Purn) Bambang Susilo Yudhoyono-Prof Dr Budiono, dan kalah dari Presiden Jokowi-JK serta Jokowi-Amien.


Kekalahan di berbagai momentum elektoral, tak membuat Prabowo jera untuk bertarung. Justru spirit pertarungan semakin menguat pada pilpres terakhir. Lawan-lawannya di militer dan politik malahan berbalik memberi dukungan menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Presiden Jokowi yang mengalahkan pada dua pilpres justru menggandengkan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, dengan Prabowo. Para Dewan Kehormatan TNI yang menjatuhkan sanksi pemecatan dengan tidak terhormat juga menyokong Prabowo untuk melanjutkan estafet kepemimpinan nasional.

Pilpres 2024 benar-benar milik Prabowo yang piawai memutarbalikkan keadaan dari lawan menjadi kawan. Seluruh pemilih di berbagai pelosok Tanah Air disapu bersih oleh badai gemoy. Kemenangannya telah menghapus segala dosa politiknya dalam kasus penculikan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Jadi, nama baik, harkat, dan martabat Prabowo yang rusak lantaran transisi politik Orde Baru ke Orde Reformasi kini berbalik. Transisi politik pulalah yang pada akhirnya memulihkan nama baik, harkat, dan martabat tersebut sebagai seorang pemimpin yang disiapkan sejarah bagi kemajuan Indonesia.

Puncaknya, Prabowo memenangkan pertarungan dengan gemilang. Kisah suksesnya menjadi pemenang pilpres tak lepas dari darah raja dan satria dalam tubuhnya yang menjadi energi yang tak pernah habis membakar semangat dan perjuangan untuk melanjutkan supremasi trah Majapahit dan Kesultanan Islam Mataram.

Prabowo itu ternyata masih anak keturunan Sultan Agung yang ke-11 dari jalur perempuan. Bila dirunut, Prabowo bin Soemitro Djojohadikoesoemo bin Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo bin Tumenggung Mangkuprojo yang menikah dengan Raden Ajeng Djojo Atmojo binti Tumenggung Djojohadiningrat bin Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat bin Sri Sultan Hamengkubuwono II bin Sri Sultan Hamengkubuwono I bin Prabu Amangkurat IV bin Susuhunan Pakubuwono I bin Susuhunan Prabu Amangkurat Agung bin Sultan Agung.

Dari silsilah di atas menunjukkan, bahwa memang darah Sultan ada dalam tubuh Prabowo. Ia punya tali persaudaraan dengan raja-raja di Kesultanan Islam Mataram. Suatu kerajaan yang tetap eksis sampai sekarang dan oleh pemerintah ditetapkan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sultan Agung merupakan kakek buyut ke-11 Prabowo dari jalur perempuan. Seorang Raja Jawa Islam yang berani dua kali menyerang Batavia di bawah kekuasaan kerajaan Hindia. Yaitu serangan pada 1628 yang dipimpin Dipati Ukur dan serangan pada 1629 yang dipimpin Adipati Juminah.

Ada 14 ribu pasukan yang digerakkan untuk mengusir penjajah Belanda dan memperkuat pengaruh Kesultanan Mataram di ujung Barat Jawa. Sayang, pasukan Mataram terlalu lemah karena kekurangan logistik dan merebaknya wabah penyakit malaria dan kolera.

Namun, para laskar Mataram berhasil mencemari Sungai Ciliwung yang menyebabkan wabah penyakit kolera di Batavia merebak. Gubernur Jenderal Belanda JP Coen meninggal dunia lantaran wabah penyakit ini.

Sekelumit peristiwa heroik dari leluhur Prabowo tersebut di atas, untuk memotret peran dan kiprahnya dalam landscape politik dan militer Indonesia pascakontemporer. Di mana, ia meneruskan perjuangan para Raja Mataram dalam memimpin negeri.

Wahyu keprabon Prabowo bukan diperoleh melalui sistem monarki yang turun temurun, akan tetapi harus berjuang keras melalui pemilu  demokratis dalam sistem Republik. Capaian karier kepemimpinannya melampaui para leluhur sedari Sultan Agung sampai sekarang.

Mengapa demikian, Indonesia yang dipimpin Prabowo dari segi geografis dan demografis lebih luas dan lebih besar. Beda halnya dengan wilayah Kesultanan Islam Mataram yang menguasai sebagian Pulau Jawa dan jumlah penduduk yang belum sebesar sekarang yang sudah tembus 287 juta jiwa.

Apakah Prabowo bisa menjadi legenda layaknya para leluhurnya? Seperti Sultan Agung yang gagah berani mewariskan nilai patriotisme dan kepahlawanan? Sukses memboyong istana dari Kuta Gede ke lokasi sekarang? Berhasil melanjutkan pemindahan Ibu Kota Negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN)? Dan seterusnya.

Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, bergantung realisasi visi, misi, dan program Prabowo memimpin Indonesia dalam 5 tahun mendatang. Waktu yang tersedia tak terlalu lama untuk menyulap negeri ini menjadi negara maju dalam segala bidang dan aspek kehidupan. Semoga!

Penulis adalah Pendiri Eksan Institute dan Penulis Buku "Kerikil Di Balik Sepatu Anies"

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya