Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Kejar Keuntungan, Toko Daring Kompak Naikkan Biaya Komisi

JUMAT, 27 SEPTEMBER 2024 | 09:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah platform belanja daring di Asia Tenggara termasuk Tokopedia dan Shopee memutuskan untuk menaikkan biaya komisi kepada para pedagang.

Hal ini dipicu karena pertumbuhan penjualan yang melambat setelah pandemi, di mana sejumlah pembeli memilih kembali berbelanja di toko fisik.

Tokopedia Indonesia menaikkan biaya komisi pedagang hingga 10 persen dari harga penjualan, tergantung pada kategori produk dan jenis penjual, naik dari maksimum sebelumnya sebesar 6,5 persen.


Di saat bersamaan, Shopee, cabang ritel daring Sea yang berbasis di Singapura, menaikkan biaya komisi untuk penjual tertentu di Indonesia ke kisaran 4,25 persen hingga 8 persen, naik dari sebelumnya 3,5 persen hingga 6,5 persen, menurut HSBC Global Research.

"Para pedagang tidak akan senang dan akan melihat margin mereka terdilusi, tetapi mungkin tidak punya pilihan jika mereka ingin meningkatkan laba operasi secara absolut," kata Kai Wang, analis senior di Morningstar, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Jumat (27/9).

Dalam beberapa bulan terakhir, platform pesaing telah dengan cepat menyesuaikan struktur biaya mereka satu demi satu. Ketika Shopee menaikkan biaya komisi di Malaysia pada Juli, hal itu segera diikuti oleh Lazada, unit dari Alibaba Group Holding, serta layanan e-commerce TikTok, TikTok Shop.

"Kami mengamati disiplin industri yang berkelanjutan dan fokus pada profitabilitas oleh ketiga pemain," kata HSBC dalam laporannya.

Namun, langkah tersebut justru membuat banyak pedagang pergi.

Seorang pedagang Malaysia yang telah menjual kacang panggang di Shopee dan Lazada selama dua tahun dan selama setahun di TikTok Shop mengatakan bahwa ia memutuskan untuk menutup semua toko daringnya di platform tersebut, dengan alasan biaya yang lebih tinggi dan kerangka waktu pengiriman yang lebih ketat. 

Ia mengungkapkan, ia "kelelahan" karena margin yang menurun dan biaya modal yang lebih tinggi, dan sekarang berencana untuk mendirikan toko daringnya sendiri. 

Di Singapura, seorang penjual pakaian berusia 35 tahun di TikTok Shop mengatakan bahwa ia akan tetap berada di platform tersebut untuk saat ini, karena mendirikan saluran sendiri mungkin akan lebih mahal dan memakan waktu.

"Itu harga yang harus kami bayar jika kami ingin terekspos," katanya.

Meskipun ada sejumlah penjual yang tidak puas, analis memperkirakan biaya yang lebih tinggi tidak akan berdampak signifikan pada operator.  

Sejak tahun 2010-an, pelaku usaha lokal seperti Tokopedia, Lazada, dan Shopee telah bersaing dengan memberikan diskon besar, promosi, dan biaya komisi rendah untuk mendapatkan daya tarik di pasar yang ramai, dan dengan cepat menjadi pelaku usaha dominan di kawasan tersebut.

Pergeseran arus terjadi setelah dibukanya kembali ekonomi dari pandemi dua tahun lalu, ditambah dengan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi. 
Hal ini memaksa operator untuk segera memangkas pengeluaran mereka, serta jumlah karyawan, untuk meningkatkan laba bersih mereka karena investor menjauh dari perusahaan teknologi yang merugi.
Sejak itu persaingan menjadi semakin ketat. Pada tahun 2021, TikTok meluncurkan layanan e-commerce sendiri di Asia Tenggara, memanfaatkan fungsi livestreaming yang populer dan basis pelanggan yang besar sambil menawarkan komisi yang lebih rendah, tumbuh dengan cepat terutama dalam produk kecantikan dan mode.

Hal ini memaksa Shopee untuk melakukan serangan, berinvestasi dalam fungsi livestreaming serupa untuk mempertahankan pangsa pasar. 

Tokopedia, yang tertinggal dari Shopee dan Lazada milik Alibaba, berada dalam posisi yang lebih sulit untuk bersaing dan akhirnya mengumumkan akan menjual 75 persen sahamnya ke TikTok Desember lalu. Akuisisi tersebut selesai tahun ini.

Data Momentum Works menunjukkan, pada tahun 2023, Shopee mempertahankan posisi teratasnya dengan pangsa pasar 48 persen dalam hal volume barang dagangan kotor di kawasan tersebut, diikuti oleh Lazada sebesar 16,4 persen, lalu TikTok dan Tokopedia masing-masing mengambil 14,2 persen.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya