Berita

Dok Foto: RMOL

Publika

Mengukur Kekuatan Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi

Oleh: Muhammad Johansyah*
SENIN, 16 SEPTEMBER 2024 | 04:45 WIB

BABAK akhir yang menggelisahkan. Dikutip dari berbagai media, tentang "Massa pendukung Jokowi" dari Jawa Timur akan membanjiri kota Jakarta. Massa pendukung Jokowi yang didatangkan ke Jakarta sebagai respons tekanan yang sangat kuat dari masyarakat, Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi" dari berbagai Universitas di Indonesia, bahkan para aktivis pergerakan, intelektual kampus-dosen (para Guru Besar Universitas) ikut ambil bagian memberi api semangat mengkritisi perilaku politik Jokowi yang anti demokrasi, melakukan KKN bahkan melanggar UUD 1945.

Kekuatan Gerakan massa "Mahasiswa Pro Demokrasi" akan berhasil karena keyakinan. Mahasiswa meyakini bahwa doktrin runtuhnya demokrasi di Indonesia membawa dampak buruk masa depan mereka dan mahasiswa rela dan bersedia berkorban untuk tujuan-tujuan mulia itu. 

Demonstrasi berlarut yang dilakukan oleh massa  terhimpun dalam "Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi" 2024 merupakan dissent-pembangkangan, menemukan  momentumnya tentang musuh bersama, beberapa keputusan-politik Jokowi yang menghianati prinsip-prinsip demokrasi. Tulisan ini merupakan ikhtiar untuk mencari jawaban mengapa "Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi" yang massif terjadi di berbagai daerah demi membela kepentingan rakyat dapat terjadi?
   

   
Jawabnya adalah Eric Hoffer, seorang buruh pelabuhan, aktivis pergerakan, filsuf, dosen Universitas California LA menulis karya "Magnum Opus" The True Believer: Thoughts on The Nature of Mass Movements (1951) tentang asal-usul (akar), seluk-beluk gerakan  politik massa. The True Believer sangat populer pada era setelah PD II hingga awal era Perang Dingin. Pada kesempatan lain, Hoffer menyatakan bahwa ketidakpuasan yang memicu kekerasan yang terjadi di Asia disebabkan oleh "Keinginan Untuk Membanggakan Diri" dari elite politik yang berkuasa dan berlanjut pada penyalahgunaan kekuasaan, memanipulasi demokrasi yang berdampak pada melemahnya penegakkan hukum dan terjadinya KKN terstruktur-sistematis dan masif. 

Tesis Hoffer sangat relevan kita dijadikan pijakan untuk memotret maraknya aksi demo Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi 2024.
 
Menurut Hoffer,  seorang "Pengikut Setia" (true believer) dalam aksi gerakan massa dengan misi perjuangan suci sangat sulit untuk ditaklukkan, pantas untuk dihargai dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki keyakinan. Gerakan massa adalah perjuangan yang bersatu sebagai akibat kekecewaan masyarakat terhadap keadaan, perilaku elite politik yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi.
 
Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi    
 
Tesis utama "Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi" 2024 dengan meminjam Tesis Hoffer bahwa mereka (Mahasiswa) adalah pejuang sejati, pejuang abadi memperjuangkan demokrasi membangun gerakan yang menyebar di berbagai provinsi seluruh Indonesia berangkat dari suatu keyakinan untuk mendorong, menyempurnakan prinsip-prinsip demokrasi yang diperjuangkan oleh aktivis mahasiswa sejak reformasi 97-98 dan terus-menerus dikumandangkan untuk menghidupkan dan melakukan aksi bersama secara masif-terkoordinasi, mengorbankan diri demi kelangsungan cita-cita demokrasi yang mereka perjuangkan melalui jalan  demonstrasi berlarut dengan slogan-slogan bahasa pamflet dan propaganda yang sangat keras.
 
Kemarahan  membangkitkan keberanian kolektif untuk bertindak dan "Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi- 2024" berangkat dari tekad perjuangan dan misi suci menyelamatkan demokrasi yang pernah mereka perjuangkan selanjutnya menjadi faktor penggerak untuk membangunkan, memperbarui masyarakat yang beku dan runtuhnya demokrasi. Tujuan akhir dari "Gerakan  Mahasiswa Pro Demokrasi" adalah lengserkan Jokowi-adili, sebab telah merusak tatanan demokrasi melakukan KKN, melanggar konstitusi.  Demonstrasi Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi tidak akan pernah berhenti sampai tuntutan mereka tercapai-perjuangan panjang dan sangat melelahkan.

Perlawanan "Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi 2024" terhadap rezim Jokowi lebih mudah dibandingkan dengan gerakan Mahasiswa pada Reformasi 97-98 melawan authoritarian Soeharto yang didukung penuh oleh aparat keamanan (TNI-Polri) dan birokrasi. Beberapa variabel di atas menjadi sebab-sebab utama kejatuhan sebuah rezim politik di berbagai negara belahan dunia.

*****
Sejak 2014 era Jokowi mencalonkan Presiden RI dan terpilih, Jokowi membangun kekuatan massa politik non parlemen memanfaatkan massa pendukungnya untuk masuk dalam arena pertarungan politik kekuasaan non parlemen dengan membentuk relawan-relawan. Tugas relawan adalah menjaga kebijakan Jokowi dari serangan-serangan lawan politik. Relawan politik Jokowi tetap terjaga dan terpelihara hingga saat ini yang dijadwalkan akan berkumpul di Jakarta pada September 2024.

Sejarah mencatat bahwa tatanan politik Massa Mengambang (Floating Mass) yang diterapkan sejak awal oleh rezim Orde Baru membawa implikasi semakin mantap-nya stabilitas politik, rakyat dijauhkan dari hingar-bingar politik, politik menjadi urusan elit politik-konflik politik terjadi hanya di elit (puncak) tidak merembes sampai ke akar rumput masyarakat bawah (massa). 

Sejak 2014, era Jokowi tatanan politik "massa mengambang" (floating mass) di jungkir balikkan melalui pembentukan relawan-relawan… Rakyat (relawan Jokowi) di mobilisasi day-to-day untuk membangun-menjaga-memelihara kekuatan dan agenda politik Jokowi melalui jalan ekstra parlementer. Sebagai akibat dari mobilisasi massa dan "Demonstrasi Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi" yang berlarut bisa dipastikan bisa menimbul-kan segregasi antar kelompok masyarakat khususnya relawan Jokowi yang tidak bisa dibendung.
  
Pada situasi yang sangat kritis, aparat keamanan dan TNI harus memihak pada konstitusi demi keberlangsungan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara dalam bingkai demokrasi Pancasila-Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjauh dari episentrum pergolakan dan meneguhkan kembali Jati diri TNI sebagai tentara rakyat, tentara profesional memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit, 8 Wajib TNI-mencegah terjadinya pendadakan strategis untuk Menegakkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
 
*Penulis adalah Marsekal Pertama TNI (Purn), Analis Intelijen, Politik dan Keamanan Internasional. Pernah menjabat sebagai Perwira Tinggi (PATI) Sahli Kepala Staf TNI Angkatan Udara  Bidang Sumber Daya Nasional (Sumdanas) 2018. Saat ini sebagai "Kelompok Ahli" Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otsus Papua (BP3OKP).

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya