Berita

Dok Foto: Kominfo

Publika

Blockchain Solusi Transparansi dan Efisiensi Perdagangan Karbon

Oleh: Thalhah Fakhrizal dan Bobby Fachrizal Assiddiq**
RABU, 11 SEPTEMBER 2024 | 15:38 WIB

PERDAGANGAN karbon adalah sebuah mekanisme yang dirancang dan diimplementasikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dengan sistem ini, sebuah entitas, baik perusahaan atau negara, diberikan kuota emisi karbon atau disebut juga kredit karbon. 

Secara singkat, jika sebuah entitas memproduksi lebih sedikit emisi dari pada kuota tersebut, kuota kredit karbon yang tidak digunakan itu dapat diperdagangkan kepada entitas lain yang membutuhkan kuota lebih banyak. Oleh karena itu, tujuan utama dari perdagangan karbon adalah untuk mendorong perusahaan dan negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka.

Teknologi Blockchain



Dalam pelaksanaan dan penerapan perdagangan karbon mutlak dibutuhkan teknologi untuk mendukung dan menjamin suksesnya program ini. Teknologi blockchain memiliki potensi untuk merevolusi dan mempermudah dalam menangani perdagangan karbon. Dengan menggunakan teknologi blockchain, dimungkinkan untuk melakukan pencatatan transaksi secara aman, transparan, dan terdesentralisasi untuk mengefisienkan proses transaksi. Sejak diperkenalkan pertama sekali pada tahun 2008 sebagai teknologi dasar untuk mata uang kripto Bitcoin, blockchain telah berkembang dan banyak diaplikasikan di berbagai sektor, seperti manajemen rantai pasokan, keuangan dan perbankan, sertifikasi dan identitas digital, kesehatan dan desentralisasi energi. 

Secara singkat dapat dijelaskan, blockchain adalah rangkaian rantai (chain) dari blok-blok data (blocks) yang saling terhubung. Pada setiap blok menyimpan sekumpulan informasi, termasuk (1) data transaksi - waktu, jumlah, dan pihak yang terlibat, (2) Hash kriptografis dari blok sebelumnya yang menghubungkan blok-blok dalam rantai, (3) Menggunakan mekanisme konsensus agar terdesentralisasi dan aman-untuk memvalidasi transaksi dan blok baru. Akibatnya setiap terjadi transaksi baru akan diverifikasi oleh jaringan komputer yang tersebar (nodes) melalui mekanisme konsensus. Setelah proses verifikasi, transaksi tersebut akan dimasukkan ke dalam blok baru untuk kemudian ditambahkan ke dalam rangkaian rantai.

Blockchain dalam Perdagangan Karbon

Blockchain dapat memberikan solusi yang efektif dan efisien dalam mendukung sistem perdagangan karbon yang transparan, terlacak, dan aman. Manfaat utama penggunaan blockchain dalam perdagangan karbon meliputi transparansi, efisiensi, serta kemudahan penelusuran dan integrasi dengan energi terbarukan. Dalam hal transparansi perdagangan karbon, blockchain mencatat seluruh riwayat transaksi perdagangan karbon secara transparan, sehingga memudahkan penelusuran asal-usul kepemilikan kredit karbon. Selain itu teknologi blockchain dapat mencegah terjadinya double counting, di mana satu kredit karbon tidak dapat diperjualbelikan lebih dari satu kali. Dan pada akhirnya, ini akan menjamin integritas data dan mencegah pemalsuan atau manipulasi data dalam perdagangan karbon.

Teknologi blockchain juga akan meningkatkan efisiensi perdagangan karbon. Hal ini akan tercapai dengan diterapkannya smart contract pada blockchain. Pemanfaatan smart contract ini dapat mengotomasi proses pemberian insentif dan reward secara langsung, tanpa perlu intervensi pihak ketiga. Eksekusi kontrak jual-beli karbon dapat dilakukan secara otomatis dan cepat melalui smart contract, sehingga mengurangi waktu dan biaya transaksi. Selain itu, dengan memanfaatkan teknologi blockchain dapat memfasilitasi perdagangan energi terbarukan antar-peer secara langsung, tanpa birokrasi yang rumit.

Lebih jauh dalam hal transparansi, pemanfaatan teknologi blockchain dalam perdagangan karbon memiliki keunggulan untuk pelacakan kepemilikan kredit karbon secara real-time. Hal ini dimungkinkan karena kredit karbon dapat ditokenisasi sebagai aset digital, yang dapat dilacak mulai dari proses penciptaan hingga penggunaannya. 

Oleh karena itu, setiap kredit karbon dapat dipastikan berasal dari sumber yang valid dan sudah diverifikasi. Tokenisasi kredit karbon juga akan membuka peluang pembiayaan baru dan mempermudah dalam proses perdagangan global. Tokenisasi juga dapat memfasilitasi proses integrasi energi terbarukan ke dalam grid listrik dan perdagangan energi secara peer-to-peer.

Manfaat dan Tantangan 

Beberapa contoh yang sudah merasakan memanfaatkan blockchain untuk perdagangan karbon seperti IBM yang menggunakan blockchain untuk memperdagangkan kredit karbon secara  lebih transparan dan efisien. Selain itu, perusahaan seperti Veridium sudah menggunakan blockchain untuk melakukan pelacakan dan perdagangan offset karbon yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Secara umum dalam ekosistem perdagangan karbon yang lebih besar, teknologi blockchain akan memberikan manfaat bagi berbagai pemangku kepentingan. 

Pertama, bagi penjual kredit karbon akan memperoleh jejak audit yang transparan dan dapat dipercaya, serta pembayaran yang lebih cepat. 

Kedua, pihak pembeli kredit karbon akan mendapatkan kredibilitas dan kepastian pada asal-usul kredit karbon yang dibelinya. Ketiga, regulator dalam hal ini negara juga akan mendapatkan manfaatnya dengan memiliki data perdagangan karbon real-time yang akurat untuk memantau dan mengatur pasar karbon secara nasional maupun internasional. Keempat, para pemilik modal dapat berinvestasi pada aset digital (tokenisasi aset) kredit karbon sebagai instrumen pembiayaan baru.
Walaupun begitu, ada beberapa tantangan dalam penerapan blockchain pada perdagangan karbon. Beberapa di antaranya seperti: (1) Regulasi. Penggunaan blockchain dalam perdagangan karbon harus sesuai dengan regulasi dan kebijakan perdagangan karbon secara nasional dan global; (2) Adopsi teknologi. Dibutuhkan infrastruktur dan integrasi yang memadai agar blockchain dapat diadopsi dan diaplikasikan secara luas; dan (3) Keamanan data. Menjaga keamanan data transaksi dan mencegah serangan siber merupakan isu krusial.

Penutup

Blockchain adalah revolusi teknologi yang menawarkan cara baru untuk dalam pencatatan dan verifikasi transaksi dengan cara yang lebih aman, transparan, dan efisien. Secara keseluruhan, penerapannya dalam perdagangan karbon dapat membantu mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon dan ekonomi hijau. Blockchain dapat memungkinkan integrasi pasar karbon global yang lebih terhubung. Tokenisasi kredit karbon akan membuka peluang baru dalam skema pembiayaan hijau. 

Pada akhirnya, blockchain dapat memberdayakan komunitas lokal dalam proyek karbon melalui transparansi dan insentif. Namun, penerapan teknologi blockchain dalam perdagangan karbon masih menghadapi tantangan seperti masalah skalabilitas pada teknologinya dan regulasi yang mendukung penerapan teknisnya.


**Penulis adalah Direktur Utama PT Jabar Telematika dan Pemerhati Isu Lingkungan PT Labsistematika Indonesia


Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya