Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Laporan APBN 2023 Jokowi Diterima DPR Meski Ada 14 Temuan BPK

SELASA, 03 SEPTEMBER 2024 | 18:10 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

DPR RI menerima laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023, yang disampaikan pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Keuangan.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-5 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2024-2025, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/9).

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad meminta persetujuan anggota dewan yang hadir dalam Sidang Paripurna, mengenai nota laporan Kemenkeu itu yang dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN Tahun 2023, setelah Wakil Ketua Banggar menyampaikan sikap-sikap fraksi partai politik parlemen.


"Apakah Rancangan Undang-undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2023 dapat disetujui untuk disahkan menjadi Undang-undang?" tanya Dasco disambut kata "setuju" oleh anggota DPR RI yang hadir.

Sementara Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Muhidin Mohamad Said menjelaskan, pendapat praktis fraksi-fraksi telah dirangkum dalam sikap akhir Banggar atas RUU APBN tahun 2023 pada 28 Agustus 2024.

Misalnya, PDIP menggarisbawahi realisasi APBN 2023 masih harus diperbaiki karena belum mencapai 20 persen dari total APBN. Selain itu,  Partai Golkar mendorong pemerintah untuk terus memperbaiki sistem dan tata kelola perpajakan yang lebih efektif dan adaptif, sesuai dengan perkembangan ekonomi dan dunia usaha.

Dari Partai Gerindra, mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas penganggaran dan realisasi dana transfer ke daerah, dalam peningkatan pencapaian indikator kesejahteraan yang lebih optimal di daerah.

Sedangkan Partai Nasdem, meminta pemerintah untuk terus memperbaiki sistem pengawasan dan pengendalian menteri secara kepemimpinan lembaga, dalam pengelolaan penerimaan negara bukan pajak dan piutang bukan pajak serta penyelesaiannya.

Adapun PKB, mendesak pemerintah untuk segera membuat skema yang tepat untuk dukungan penggajian pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau P3K. Sementara Partai Demokrat, mendorong pemerintah untuk menetapkan ukuran dan indikator keberhasilan pelaksanaan belanja KL dalam rangka spending better Belanja Negara yang lebih akurat

Dari PKS berpendapat, dana penyertaan modal negara (PMN) yang disuntikkan pemerintah kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), harus dapat memberikan kontribusi nyata pada pembangunan dan mendukung program pemerintah nasional, serta memiliki motif pada perekonomian nasional.

Sementara PAN menegaskan, pemerintah perlu mencermati output strategi dalam belanja negara terkait fungsi perlindungan sosial, dan segera mengintegrasikan program pekerjaan dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan program Ketenagakerjaan lainnya.

Lalu dari PPP mendorong pemerintah untuk terus konsisten, khususnya dalam pengelolaan keuangan negara secara profesional melalui perencanaan penganggaran, pelaksanaan anggaran, serta pertanggungjawaban. Sehingga dalam setiap pengeluaran APBN di tahun mendatang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Namun lebih dari catatan 9 fraksi partai politik parlemen tersebut, Muhidin menyampaikan pelaksanaan APBN 2023 mendapat catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan jumlahnya tidak sedikit.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian atau WTP berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas LKPP tahun 2023," ungkap Muhidin.

"Terdapat 14 temuan pemeriksaan yang perlu menjadi perhatian pemerintah terkait sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan," sambungnya menegaskan.

Akan tetapi, Muhidin memastikan 14 catatan BPK tidak mempengaruhi penilaian yang diberikan atas kinerja keuangan pemerintahan Jokowi tahun 2023, sehingga laporan tersebut dapat diterima DPR RI pula.

"Namun temuan-temuan kelemahan sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap undang-undang tersebut tidak mempengaruhi kewajaran LKPP tahun 2023," tambah Muhidin.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya