Berita

Lokasi budidaya lobster di pesisir Desa Penyaringan, Mendoyo, Jembrana, Bali/RMOL

Bisnis

Budidaya Lobster Jembrana Masih Jauh Panggang daripada Api

SENIN, 02 SEPTEMBER 2024 | 13:02 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Usai keluar paket kebijakan lobster yang berpangkal pada Permen KP Nomor 7/2024 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.) pada Maret 2024 lalu, dimulailah babak baru pengiriman benih bening lobster (BBL) ke luar negeri dengan syarat budidaya.

Vietnam sebagai negara tempat pengiriman BBL dari Indonesia turut diwajibkan membangun budidaya lobster di Tanah Air. Selanjutnya, dibentuk perusahaan joint venture dengan Vietnam untuk mengembangkan budidaya lobster di Indonesia.

Awalnya lima perusahaan yakni, PT Mutagreen Aquaculture International, PT Gajaya Aquaculture International, PT Ratuworld Aquaculture International, PT Idovin Aquaculture International dan PT Idichi Aquaculture International. Namun berdasarkan keterangan KKP baru 3 perusahaan yang terverifikasi.


Menurut info yang beredar, perusahaan itu bertambah menjadi 10 yakni (tambahannya) AquaGreen Trading Company Limited, Ichika Joint Stock Company, Phu Gia Long Trading Joint Stok Company, New World Seafood Trading dan Import Export Aquaculture Company Limited.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kemudian menetapkan Jembrana, Bali sebagai lokasi budidaya lobster hasil kerja sama dengan Vietnam. Menurut keterangan dari KKP, perairan Jembrana yang dianggap cocok atau memiliki kemiripan dengan perairan yang ada di Vietnam.

Penelusuran RMOL ke Desa Penyaringan, Jembrana, Minggu (1/9) untuk melihat budidaya, terlihat beberapa kerangkeng penampung benih berukuran S, M, L terpajang di pinggir pantai. Beberapa sudah terpasang di tengah laut dengan yang berisikan benur sekitar 200 ekor per kerangkeng.

Panen lobster hingga ukuran besar (siap konsumsi) diestimasikan pada Desember 2024 mendatang. Kondisi di sana tak seperti yang dibayangkan, lokasi bukan berada di posisi teluk dengan gelombang yang tenang.

Melihat kondisi budidaya yang masih jauh panggang daripada api itu sejatinya banyak hal yang ditutupi KKP saat ini. Lokasi budidaya ini hanya 1 titik yang dilakukan bersama oleh para perusahaan joint venture Vietnam. Padahal menurut peraturan, masing-masing perusahaan diwajibkan memiliki lokasi budidaya.  

Sejak keluar Permen KP 7/2024, berbagai dugaan adanya potensi korupsi terus terbuka lebar. Dengan demikian, proses budidaya yang terus didengungkan KKP seakan hanya menjadi pelengkap dari pengiriman BBL ke Vietnam.

Menurut salah seorang aktivis nelayan lobster di Bali, Lebor Nugroho, aktivitas budidaya di Jembrana ini seakan hanya pengalihan dari ekspor BBL.  

"Itu hanya alasan untuk BBL bisa ekspor. Masalahnya, tempat program budidaya KKP itu di Penyaringan, Kabupaten Jembrana, ombak selatan sangat keras dan tinggi. Bagaimana mungkin, budidaya BBL bisa bertahan survival ratenya. Sementara lobster bisa survival rate tinggi, harus di tempat budidaya yang aman dan bagus,” ujar Lebor.

Program budidaya KKP itu, melanggar peraturan yang dibuat sendiri. Karena, syarat ekspor bagi perusahaan yang mendapat izin BBL harus budidaya terlebih dahulu sebesar 200 ribu ekor.

Sementara Lebor melihat fasilitas budidaya yang sangat minim, mustahil mencapai 200 ribu ekor.

Dia pun mengendus agar permainan BBL dengan Vietnam ini segera dibongkar oleh aparat penegak hukum. Lebor pun menyebut nama pemain besar BBL bernama Tran Quang Vinh (TQV) atau yang sering disapa dalam logat Indonesia bernama Cen Kuang Ving (CKV) atau Cen.

Lebor menduga bahwa Cen merupakan aktor di balik berdirinya perusahaan-perusahaan joint venture itu yang ternyata lebih menitikberatkan pada ekspor, bukan budidaya.

“Sementara kita lihat di Jembrana ini diduga ya, hanya benih-benih yang reject (untuk budidaya), yang bagus-bagusnya, dibawa ke Vietnam,” pungkasnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya