Berita

Kaesang Pangarep dan Anies Baswedan/Ist

Publika

Konstituen Tolak Kaesang Dampingi Anies

OLEH: TONY ROSYID*
RABU, 17 JULI 2024 | 11:46 WIB

WACANA Anies Baswedan-Kaesang Pangarep sempat muncul beberapa kali. Wacana ini semula lahir dari PKB. Tapi, reaksi para pendukung Anies sangat keras: tolak Kaesang. Wacana Anies-Kaesang pun akhirnya meredup. 

Belakangan muncul lagi. Nasdem termasuk salah satu partai yang kader-kadernya ikut merekomendasikan Anies-Kaesang. Sampai akhirnya, Kaesang-pun bertandang ke kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang. 

Publik membaca ini sebagai bagian dari upaya PSI melakukan komunikasi politik dengan PKS agar bisa pertimbangkan Kaesang untuk mendampingi Anies. 


Lagi-lagi, reaksi pendukung Anies menolak. Mereka akan balik kanan jika Anies dipasangkan dengan PKS. Wacana Anies-Kaesang pun redup lagi. 

Isu yang muncul kemudian Kaesang akan dicagubkan. Masih ditimbang apakah akan jadi cagub di Jakarta atau Jawa Tengah. Semua masih dinamis dan mudah untuk setiap saat berubah.

Hingga saat ini, PKS masih konsisten dengan formasi Anies Baswedan-Sohibul Iman. Disingkat "AMAN". PKB, Nasdem dan PDIP keberatan. Bahkan sedikit mengancam akan meninggalkan PKS jika ngotot pasangkan Anies dengan Sohibul Iman. 

Ada dua alasan. Pertama, Anies dianggap identik dengan PKS. Kedua, sebagai partai pemenang di Daerah Khusus Jakarta (DKJ), PKS akan dapat jatah ketua DPRD.

PKS tentu saja punya argumen untuk membantahnya. Bagi PKS, Anies bukan kader PKS. Ketika PKS pernah memberi tawaran kepada Anies untuk menjadi kader PKS atau memilih PKS jadi cawagubnya, PKB langsung bereaksi. 

Anies tidak perlu jadi kader PKS, kata PKB. PKB taktis. Kalau Anies jadi kader PKS, partai-partai lain belum tentu bisa terima Anies. 

Karena Anies bukan kader PKS, maka PKS sebagai partai pemenang di Jakarta merasa paling berhak untuk mengambil jatah cawagub. Harusnya cagub. Karena Anies lebih potensial untuk menang, maka PKS ambil sikap realistis dan menyodorkan cawagub. Yaitu Sohibul Iman.

Bagaimana dengan elektabilitas Anies ketika disandingkan dengan kader PKS? Kalau lihat surveinya, die hard Anies 39 persen. Ini pemilih yang ngotot akan memilih Anies. Dan ada 36 persen lainnya yang membuka kemungkinan untuk memilih Anies. 

Artinya, jika 39 persen ditambah undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan) dan swing voters (pemilih yang bisa berubah pilihannya) maka siapapun akan sulit mengalahkan Anies. 

Siapapun cawagub Anies, yang dibutuhkan hanya bagaimana menggeser undecided voters dan swing voters untuk memilih Anies. 

Di antara kader dari empat partai bakal pengusung yaitu PKS, PKB, Nasdem dan PDIP potensinya sama, dan tidak ada yang lebih kuat satu dengan yang lain.

Namun, memilih kader PKS sebagai cawagub Anies dapat mendorong mesin PKS di Jakarta bekerja secara masif. Ini mengingat bahwa kader PKS solid dan bisa bergerak secara kolosal dan lebih terukur. 

Meskipun juga ada spekulasi jika cawagubnya dari PDIP akan mrnambah suara. Karena ceruk Anies dan PDIP berbeda. Ini memang harus diuji dengan survei. 

Tapi, faktor bahwa PKS menjadi partai pemenang di DKJ dan mesin PKS di DKJ itu bisa diandalkan kinerja politiknya tidak bisa dipungkiri. Dan ini menjadi variable yang tidak boleh diremehkan pengaruh dan kekuatannya dalam Pilgub Jakarta.

Bagi PDIP, tidak ada pintu yang ideal kecuali ikut mengusung Anies. PDIP hanya punya 15 kursi dan tidak punya kader yang potensial menang jika melawan Anies. Begitu juga dengan PKB dan Nasdem.

Soal cawagub dari PKS, juga ketua DPRD dari PKS, ini hal yang lumrah terjadi. Sebelumnya, Jokowi ketika jadi Gubernur DKI, ketua DPRD-nya juga dari PDIP. Ketika Jokowi jadi presiden, ketua DPR-nya juga dari PDIP. Ini semacam berkah buat partai pemenang pemilu. 

Besar kemungkinan empat partai yaitu PKS, PKB, Nasdem dan PDIP akan konsisten mengusung Anies Baswedan. Sementara posisi Sohibul Iman sebagai kandidat cawagub Anies sepertinya akan menemukan rutenya.

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya