Berita

Balon sampah Korea Utara/Net

Dunia

Balon Sampah Korut Teror Stabilitas Semenanjung Korea

SENIN, 08 JULI 2024 | 14:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Serangan balon sampah Korea Utara yang dilancarkan sejak 28 Mei lalu, dinilai sebagai sebuah aksi teror yang mengancam stabilitas dan keamanan di Semenanjung Korea.

Pandangan itu disampaikan oleh Peneliti Tim Kegiatan Internasional, Institut Korea Utara, Park Yoo-sung dalam sebuah pernyataan yang diterima redaksi pada Senin (8/7).

Menurut Park, dengan mengirim lebih dari 2.000 balon sampah ke Seoul dan provokasi rudal yang terus berlanjut, Pyongyang jelas menunjukkan bahwa mereka telah menyerah untuk menjadi bagian dari komunitas internasional.


"Provokasi-provokasi ini tidak hanya mengancam perdamaian di Semenanjung Korea tetapi juga komunitas internasional, menantang ketertiban dan keamanan internasional," tulisnya.

Lebih lanjut, Park mengkategorikan aksi balon sampah Korea Utara sebagai tindakan terorisme serius yang mengancam warga negara dan orang asing.

Balon sampah Korea Utara telah merusak kendaraan warga, jendela rumah, dan atap atap, bahkan menimbulkan kebakaran akibat detonator yang tidak berfungsi.

"Hal ini menyebabkan kerusakan properti yang serius dan menciptakan situasi yang memusingkan yang dapat mengakibatkan korban jiwa," kata Park.

Gangguan juga terlihat dari operasi Bandara Internasional Incheon yang sempat dihentikan sementara pada 26 Juni karena khawatir dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan jika benda asing tersedot ke dalam mesin pesawat yang sedang terbang.

"Artinya, balon sampah Korea Utara dapat menyebabkan kecelakaan besar pada penerbangan domestik dan internasional," papar Park.

Park merujuk pada laporan Kementerian Unifikasi Korea Selatan yang menemukan adanya sejumlah parasit yang terkandung dalam sampah yang dibawa balon tersebut.

Dikatakan park, parasit tersebut umumnya ditemukan di negara-negara terbelakang dimana masyarakatnya menggunakan pupuk buatan manusia dibandingkan pupuk kimia dan dimana kondisi kehidupan tidak sehat.

Selain itu, isi dari balon sampah disebut dapat mengungkap kondisi kehidupan yang buruk di Korea Utara.

Balon tersebut berisi kaos kaki yang sudah dipakai berkali-kali, sarung tangan kain, masker kain, kaos kain, celana bayi berlubang, dan kaos kaki.

"Ini merupakan pengingat akan kondisi kehidupan yang mengerikan di Korea Utara yang coba ditutupi oleh rezim tersebut," kata Park.

Oleh sebab itu, menurut park, tindakan Korea Utara dengan balon sampahnya tidak boleh dianggap enteng. Ini merupakan tantangan serius bagi komunitas internasional, termasuk keamanan Semenanjung Korea, karena ada kemungkinan balon itu bukan lagi diisi sampah lagi, melainkan senjata biologis.

"Provokasi Korea Utara dengan balon sampah bukan hanya merupakan ancaman bagi masyarakat Korea Selatan, namun juga seluruh warga dunia yang melakukan perjalanan dari dan ke Korea Selatan, dan harus ditanggapi sebagai tindakan terorisme yang serius oleh masyarakat internasional," tegasnya.

Dia mendesak agar komunitas internasional bekerjasama mengutuk dan menekan Korea Utara untuk menghentikan segala bentuk provokasi yang mengancam keamanan kawasan.

"Masyarakat internasional harus mengutuk provokasi Korea Utara dan menuntut pertanggungjawaban rezim Kim Jong Un," pungkasnya.

Park merupakan pembelot Korea Utara yang datang ke Korea Selatan untuk mencari kebebasan pada tahun 2008.

Saat ini dia aktif bekerja sebagai sutradara film, penyiar lepas, dan aktivis untuk hak asasi manusia Korea Utara dengan rekan-rekan mudanya bernama VNKY (Suara Pemuda Korea Utara).

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya