Berita

Ilustrasi

Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi India Diperkirakan 6,8 Persen, Tiongkok 4,6 Persen

KAMIS, 28 MARET 2024 | 04:47 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Lembaga analis keuangan S&P Global menaikkan perkiraan pertumbuhan India menjadi 6,8 persen untuk Tahun Fiskal 2024-2025. Angka tersebut masih lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan fiskal saat ini sebesar 7,6 persen.

“Untuk negara-negara emerging market di Asia, kami secara umum memproyeksikan pertumbuhan yang kuat, dengan India, Indonesia, Filipina, dan Vietnam sebagai pemimpinnya,” kata Louis Kuijs, kepala ekonom Asia-Pasifik di S&P Global Ratings.

Namun, meski ada kenaikan, proyeksi terbaru ini lebih rendah dari perkiraan RBI sebesar 7 persen. Bahkan pemerintah memperkirakan PDB akan tumbuh sekitar 7 persen pada tahun fiskal berikutnya. Badan-badan domestik dan global lainnya memperkirakan pertumbuhan akan berada pada kisaran 6,5 hingga 7 persen.


Pekan lalu, Tinjauan Ekonomi Bulanan Departemen Urusan Ekonomi Kementerian Keuangan mengatakan bahwa pertumbuhan yang kuat disertai dengan inflasi dan neraca eksternal yang stabil serta prospek lapangan kerja yang progresif membantu perekonomian India menutup tahun keuangan ini dengan catatan positif.

“Ada hambatan seperti indikasi melemahnya harga minyak mentah dan hambatan perdagangan global. Meskipun demikian, India, secara keseluruhan, menantikan prospek yang cerah pada tahun fiskal 2025,” sebut laporan itu.

Sementara itu, memberikan alasan untuk moderasi year-to-year, Kuijs mengatakan, “Suku bunga yang ketat kemungkinan akan membebani permintaan pada tahun fiskal berikutnya, sementara tindakan regulasi untuk mengurangi pinjaman tanpa jaminan akan mempengaruhi pertumbuhan kredit. Defisit fiskal yang lebih rendah juga akan menghambat pertumbuhan.”

Sebelumnya, badan tersebut telah memproyeksikan pertumbuhan Tahun Anggaran 2025 sebesar 6,4 persen. Badan tersebut belum membuat perubahan apa pun dalam perkiraannya untuk Tahun Anggaran 2025-26, 2026-27, dan 2027-28 dan menetapkan angka masing-masing sebesar 6,9 persen, 7 persen, dan 7 persen.

Berbicara mengenai inflasi, Kuijs mengatakan meskipun inflasi Consumer Price Index atau Indeks Harga Konsumen (IHK) non-makanan melemah sekitar 250 bps, inflasi pangan naik 40 bps dalam sepuluh bulan pertama tahun fiskal ini.

Secara keseluruhan, inflasi umum turun menjadi sekitar 5,5 persen pada tahun fiskal ini dari 6,7 persen pada tahun fiskal 2022-2023. Inflasi umum berada di atas pertengahan kisaran target 4 persen-6 persen, karena tingginya inflasi bahan makanan. Selalu ada risiko peningkatan seputar inflasi.

“Kecuali jika terjadi guncangan global yang besar, kami secara umum menganggap risiko-risiko tersebut saat ini tidak terlalu besar. Tekanan kenaikan harga akibat permasalahan pelayaran internasional baru-baru ini tampaknya tidak cukup untuk memberikan dampak yang berarti terhadap inflasi secara keseluruhan,” katanya sambil memperkirakan inflasi konsumen akan terus menurun hingga rata-rata 4,5 persen pada Tahun Anggaran 2025-26.

Kini, pertanyaan besarnya adalah kapan kebijakan suku bunga akan diturunkan.

“Kami memperkirakan penurunan suku bunga hingga 75 bps (India, Indonesia, Selandia Baru, dan Filipina) tahun ini (yang bagi India adalah tahun 2024-25), dengan median penurunan sebesar 50 bps. Di India, melambatnya inflasi, berkurangnya defisit fiskal, dan rendahnya suku bunga kebijakan AS akan menjadi landasan bagi Reserve Bank of India untuk mulai menurunkan suku bunganya.

Namun “kami yakin kejelasan yang lebih besar mengenai jalur disinflasi dapat mendorong keputusan ini setidaknya hingga Juni 2024, atau mungkin nanti,” katanya.

Untuk Tiongkok, S&P Global melihat pertumbuhan PDB  melambat menjadi 4,6 persen pada tahun 2024 dari 5,2 persen pada tahun 2023.

“Perkiraan kami memperhitungkan berlanjutnya pelemahan properti dan dukungan kebijakan makro yang terbatas. Deflasi tetap menjadi risiko jika konsumsi tetap lemah dan pemerintah meresponsnya dengan lebih menstimulasi investasi manufaktur,” katanya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Prabowo Perkuat Iklim Investasi Lewat IIFC

Minggu, 02 Agustus 2026 | 06:16

Jaksa Terbebani Pembuktian Ijazah Jokowi Asli

Minggu, 02 Agustus 2026 | 06:07

Kelahiran, Kejayaan, dan Runtuhnya Kekaisaran Romawi

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:40

Puluhan Ribu Warga Maroko Kabur ke Spanyol dengan Berenang

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:23

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Memetakan Lagu Tilawah Al-Qur’an

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:31

Jokowi ke kader PSI NTT: Kalau Butuh Bantuan Boleh ke Solo

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:21

Relawan Slamet Ariyadi Kawal PAN Menuju Tiga Besar 2029

Minggu, 02 Agustus 2026 | 04:06

Pembentukan IIFC Bisa Dongkrak Posisi RI di Panggung Ekonomi Global

Minggu, 02 Agustus 2026 | 03:40

Kompetensi Guru Naik 700 Persen

Minggu, 02 Agustus 2026 | 03:20

Selengkapnya