Berita

Pemilu Serentak 2024/RMOL

Publika

Pelanggaran, Sengketa, dan Perselisihan Hasil Pemilu

RABU, 21 FEBRUARI 2024 | 18:53 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

HASIL hitung cepat yang menghasilkan pilpres satu putaran, yang mempunyai konsekuensi pileg dan DPD juga satu putaran telah menguatkan dugaan terjadinya kecurangan.

Konstruksi kecurangan digembar-gemborkan berstatus secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) oleh pihak-pihak yang kalah suara secara sangat telak.

Media massa dan media sosial, terutama YouTube dan podcast yang terafilisai secara langsung dan tidak langsung dengan pihak-pihak yang kalah terkesan amat sangat rajin menyuarakan pengonstruksian framing tersebut.


Melakukan pembentukan opini, bahkan secara ekstrem terkesan hendak memberhasilkan pencucian otak untuk mengubah keyakinan, yang membenarkan terjadinya kecurangan.

Kecurangan yang dikonstruksikan terjadi paling brutal dan paling buruk sepanjang sejarah pemilu serentak di Indonesia selama ini. Hal itu dengan sangat mudah disajikan dalam pemberitaan dan terutama dialog yang sepihak, bahkan tidak terbangun keberimbangan informasi yang mewakili pihak-pihak yang berbeda kubu kepentingan politik.

Kalaupun dialog telah menyajikan semua pihak yang berbeda kepentingan, namun relatif mudah dengan menyajikan kompetensi narasumber yang berat sebelah.

Sedemikian rajin konser pembentukan opini tersebut, yang tidak berimbang, di mana pemirsa lebih menyukai pendapat dan kepentingan yang sama, itu yang lebih disukai dalam mengkonsumsi informasi.

Kebebasan pers dalam kondisi yang seperti itu, terbukti menimbulkan demonstrasi-demonstrasi jalanan yang keras ke KPU dan Bawaslu, yang kedua kubu telah saling berhadap-hadapan.

Rasa kecewa luar biasa, yang sangat mendalam terkesan menjadi pendorong pelampiasan kemarahan konflik kata-kata. Keberadaan media sosial dengan penyajian fenomena kecurangan dengan mudah meyakinkan sebagian orang yang mudah bimbang dalam membedakan kualitas kebenaran informasi.

Pasal 454 UU Pemilu 7/2017 ayat (4) mensyaratkan pelaporan pelanggaran pemilu disampaikan secara tertulis dan paling sedikit memuat nama dan alamat pelapor, pihak terlapor, waktu dan tempat kejadian perkara, dan uraian kejadian.

Ayat (5) menyatakan bahwa penetapan temuan pelanggaran pemilu paling lama tujuh hari sejak ditemukannya dugaan pelanggaran pemilu. Ayat (6) menyatakan bahwa laporan pelanggaran pemilu disampaikan paling lambat tujuh hari kerja, sejak diketahui terjadinya dugaan pelanggaran pemilu.

Pasal 455 menyatakan bahwa pelanggaran tersebut berlaku untuk pelanggaran kode etik, administratif, peraturan perundang-undangan lainnya yang bukan pelanggaran pemilu. Sementara itu khusus pelanggaran etik diselesaikan oleh DKPP. Pelanggaran administratif pemilu tidak memasukkan tindak pidana pemilu dan pelanggaran kode etik (Pasal 460).

Pasal 463 ayat (6) menyatakan bahwa Mahkamah Agung (MA) memutuskan upaya hukum pelanggaran administratif pemilu. Selanjutnya Pasal 467 ayat (3) menyatakan bahwa permohonan penyelesaian sengketa proses pemilu disampaikan juga secara tertulis dan paling sedikit memuat nama dan alamat pemohon, pihak termohon, dan keputusan KPU yang menjadi sebab sengketa.

Ayat (4) menyatakan bahwa permohonan penyelesaian sengketa proses pemilu disampaikan paling lama tiga hari sejak tanggal penetapan KPU yang menjadi sebab sengketa.

Sengketa proses pemilu juga dimungkinkan melalui pengadilan tata usaha negara (Pasal 470). Juga melalui Majelis Khusus Tata Usaha Negara Pemilu (Pasal 472).

Kemudian penyelesaian perselisihan hasil pemilu dilakukan melalui Mahkamah Konstitusi (MK) berdasarkan Pasal 474. Pengajuan keberatan kepada MK dibatasi paling lama tiga hari setelah penetapan hasil pemilu oleh KPU.

Singkat kata, semula kesan full horror tentang dugaan kecurangan TSM, berikut solusi penyelesaiannya setelah mengetahui informasi persyaratan ketentuan UU Pemilu 7/2017 di atas, maka rasa takut yang luar biasa dan stres tinggi khawatir akan terjadi eskalasi demonstrasi yang mungkin semakin brutal oleh pihak-pihak yang kalah secara emosional, menjadi terileksasi.

Tidak relevan lagi untuk membatalkan pemilu atas opsi evaluasi sejak ketidakpuasan terhadap revisi UU KPK, dan seterusnya yang terlampaui di masa pra pemilu 2024.

Tidak ada rasa takut lagi akan terjadi kerusuhan besar, sebagaimana analogi kekhawatiran Mei 1998. Apalagi terhadap potensi terjadinya revolusi sosial, konflik horizontal, atau perang saudara sebagaimana terkesan dihalusinasikan oleh pihak-pihak, yang mengambil keuntungan dari pembentukan opini dengan mengeksploitasikan sentimen-sentimen negatif.

Mengonstruksikan kematian demokrasi. Minimal memundurkan demokrasi. Termasuk potensi pemaksaan memakzulkan pemerintah secara paksa, juga terhadap prospek keberhasilan pengajuan hak interpelasi, bahkan hak angket dari pihak-pihak yang kalah pilpres ke forum DPR RI.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya