Berita

Dewan Pengawas (Dewas) KPK menggelar konferensi pers usai pembacaan putusan sidang etik terhadap 90 terperiksa pegawai Rutan KPK/RMOL

Hukum

Kasus Pungli Rutan, 78 Pegawai KPK Disanksi Berat Minta Maaf dan 12 Orang Dilimpahkan ke Sekjen

KAMIS, 15 FEBRUARI 2024 | 19:35 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Sebanyak 78 orang pegawai Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diberikan sanksi berat berupa permohonan maaf secara terbuka dan langsung karena terbukti menerima uang pungutan liar (pungli). Sedangkan 12 orang lainnya diserahkan kepada Sekretariat Jenderal (Sekjen) untuk dilakukan proses disiplin.

Ketua Dewan Pengawas (Dewas) KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean mengatakan, hari ini, Kamis (15/2), pihaknya telah membacakan putusan sidang etik dugaan pelanggaran etik terkait pungli di Rutan KPK.

Keseluruhan pegawai yang disidangkan, kata Tumpak, sebanyak 90 orang yang dibagi dalam 6 berkas perkara.


"Mengenai putusan yang berhubungan dengan pemberian sanksi berat ada berjumlah 78 terperiksa, 12 orang lainnya adalah keputusannya menyerahkan kepada Sekretariat Jenderal KPK, untuk dilakukan penyelesaian selanjutnya," kata Tumpak kepada wartawan di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jalan HR Rasuna Said Kav C1, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (15/2).

Tumpak menjelaskan, untuk 12 orang yang diserahkan kepada Sekjen KPK atau Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), dikarenakan melakukan perbuatan sebelum adanya Dewas KPK.

Semua terperiksa itu, lanjut Tumpak, dikenakan pelanggaran Pasal 4 Ayat 2 huruf b Peraturan Dewas 3/2021 tentang Penegakan Kode Etik dan Kode Perilaku KPK.

"Apa itu? yaitu perbuatan menyalahgunakan kewenangan, jabatan dan atau kewenangan yang dimiliki, termasuk menyalahgunakan pengaruh sebagai insan komisi dalam pelaksanaan tugas untuk kepentingan pribadi. Jadi dalam pelaksanaan tugasnya selaku petugas tahanan, dia mendapatkan suatu keuntungan pribadi, berupa uang," pungkas Tumpak.

Adapun para pihak yang telah dijatuhi putusan, di kloter pertama ada 12 orang. Yaitu Deden Rochendi, Agung Nugroho, Hijrial Akbar, Candra, Ahmad Arif, Ari Teguh Wibowo, Dri Agung S Sumadri, Andi Mardiansyah, Eko Wisnu Oktario, Farhan Bin Zabidi, Burhanudin, dan Muhammad Ramdhan.

Di kloter kedua ada 13 orang. Yakni Muhammad Abduh, Suharlan, Gian Javier Fajrin, Syarifudin, Wardoyo, Gusnur Wahid, Firdaus Fauzi, Ismail Chandraz, Ari Rahman Hakim, Zainuri, Dian Ari Harnanto, dan Rohimah.

Kemudian di kloter ketiga ada 11 orang, yakni Muhammad Ridwan, Ramadhan Ubaidillah, Ricky Rachmawanto, Tarmedi Iskandar, Asep Anzar, Ikhsanudin, Maranatha, Eko Tri Sumanto, Mahdi Aris, Muhammad Faeshol Amarudin, dan Sopyan.

Lalu di kloter keempat ada 20 orang, yakni Dharma Ciptaningtyas, Asep Saipudin, Teguh Ariyanto, Suchaeri, Natsir, Moehamad Febri Usmiyanto, Masruri, Muhamad Sekhudin, Adryan Gusti Saputra, Muhammad Faeshol Amarudin, Fandi Achmad, Afyudin, Turitno, Restu Maulana Malik, Jepi Asmanto, Rahmat Kurniawan, Martua Pandapotan Purba, Iin Iriyani, Kinsun Kase, dan Hairul Ambia.

Selanjutnya di kloter kelima ada 18 orang, yakni Fika Iskandar, Korip, Amirulloh, Ari Kuswanto, Harun Al Rasyid, Andi Prasetyo Pranowo, Dena Randi, Nurdiansyah, M. Denny Arief Hidayatullah, Mochamad Yusup, M Gustomi, Didik Harmadi, Muhamad Yusup, Andi Makkasompa, M Fuad, Mekel Jaya Prasetia, Agung Sugiarto, dan Diabtara.

Kemudian di kloter keenam ada 16 orang, yakni Sutrisno, Dedi Darmadi, Indra, Irawan, Ujang Supena, Agus Afiyanto, Bambang Agus Suhardiman, Budi Handoko, Dede Rahmat, Fauzan, Handriyan, Muhammad Ardian, Novian Surya Perdana, Subandi, Sutriyono Widodo, dan Rizky Andreansyah.

Para terperiksa terbukti menerima uang bulanan dari para tahanan KPK agar bisa memasukkan telepon seluler, barang/makanan, dan lainnya ke dalam tahanan sejak 2018-2023. Uang yang diterima paling sedikit Rp2 juta, dan paling banyak Rp425,5 juta.

Para terperiksa menerima uang bulanan sebagai biaya "tutup mata" agar membiarkan tahanan menggunakan ponsel. Para terperiksa rata-rata menerima uang Rp3 juta setiap bulannya.

Uang tersebut dikumpulkan melalui korting atau tahanan yang "dituakan", untuk selanjutnya diberikan kepada petugas Rutan KPK yang ditunjuk sebagai "lurah" yang mempunyai tugas untuk mengambil uang bulanan dari korting atau orang kepercayaan/keluarga, dan kemudian membagikannya kepada para terperiksa.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya