Berita

Ilustrasi pemilu/Net

Politik

Dicurigai Ada Operasi Intelijen AS dan Rusia Jelang Pilpres 2024

KAMIS, 08 FEBRUARI 2024 | 12:55 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Dicurigai adanya keterlibatan atau intervensi asing dalam Pilpres 2024. Hal itu dapat terlihat dari dinamika politik Tanah Air yang berlangsung dalam dua pekan terakhir. Operasi intelijen Amerika Serikat dan Rusia di balik lawan politik Presiden Joko Widodo maupun Capres Nomor Urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi mengatakan, aktor intervensi asing dapat berupa negara secara langsung maupun tidak langsung atau institusi nonpemerintah serta perpanjangan tangan asing yang direkrut dari warga asing hingga warga lokal.

"Amerika Serikat dan Rusia sedang memperjuangkan kepentingannya di Pilpres 2024 melalui perpanjangan tangannya di Indonesia. Bisa disebut aktor atau agen di timses," kata Haidar dalam keterangannya, Kamis (8/2).


Menurut Haidar, seorang praktisi ekonomi yang belum lama ini ke Amerika Serikat, bertujuan untuk menggalang dukungan dan satunya lagi praktisi pertahanan keamanan yang dekat dengan Rusia bahkan sudah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan sering mengunggah kedekatannya dengan Rusia di media sosial.

"Ada juga pengusaha di salah satu kubu yang merupakan mitra bisnis Donald Trump di Indonesia. Donald Trump dikenal sebagai sekutu sekaligus mitra bisnis Rusia yang membantunya memenangkan Pilpres Amerika Serikat tahun 2016. Pernah mendukung Jokowi tapi hebatnya Jokowi tidak mau didikte Amerika Serikat," kata Haidar.

Menurutnya, salah satu bentuk intervensi asing di zaman modern yang marak dan harus diwaspadai adalah propaganda negatif. Sebab, dengan propaganda negatif, upaya mempengaruhi masyarakat dapat dilakukan jauh lebih halus dan tidak mencolok dibanding dengan cara-cara tradisional.

"Intervensi asing melalui propaganda negatif ini berusaha mem-framing bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Narasinya mulai dari politik dinasti, pemilu curang, cacat etika, aparat tidak netral dan menekan, demokrasi rusak atau mundur, dan lain-lain sebagainya. Tujuannya membuat chaos, mengacaukan pemilu, menjatuhkan presiden dan memenangkan capres-cawapres yang disponsori asing dengan dana tak terbatas," kata Haidar.

Propaganda negatif dapat masuk dan berkembang dengan mudah di Indonesia karena selain jumlah pengguna internetnya yang sangat banyak dengan tingkat kecerdasan yang terbatas, juga masyarakatnya yang beragam dan jauh lebih kompleks.

Masyarakat juga dengan mudah menerima dan mempercayai informasi yang masuk tanpa menyelidiki atau mengujinya lebih lanjut, cenderung mencari pembenaran daripada mencari kebenaran yang sesungguhnya.

"Masyarakat Indonesia mengambil keputusan berdasarkan trending di Twitter atau X, fyp di Tiktok dan media sosial lainnya. Konten yang trending dan fyp dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang harus diikuti. Ini yang membuat Indonesia menjadi sasaran empuk intervensi asing melalui propaganda negatif," kata Haidar.

Propaganda negatif yang dilakukan dengan gencar dan terus-menerus, pada akhirnya dapat menimbulkan rasa percaya dan meyakinkan orang atas pesan yang disampaikan. Akibatnya, kalangan terpelajar dan terdidik pun terkecoh dan terpedaya untuk diarahkan menyerang kelompok yang tidak didukung asing tersebut atau memilih kelompok yang didukungnya.

"Makanya, menjadi beralasan apa yang saya sampaikan kemarin terkait aksi  sejumlah guru besar di berbagai kampus yang masih bergulir sampai sekarang dan bahkan diikuti oleh adik-adik mahasiswa yang sudah dan akan turun ke jalan untuk Reformasi Jilid 2. Bukan bermaksud melecehkan akademisi, tapi khawatir karena sudah terbukti di negara lain," demikian Haidar.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya