Berita

Begawan ekonomi Rizal Ramli/Net

Publika

IN MEMORIAM RIZAL RAMLI

Kebingungan Rizal Ramli Melihat Barcode Menu Restoran

RABU, 03 JANUARI 2024 | 19:23 WIB | OLEH: LINDA DJALIL

TERLALU banyak cerita tentang Rizal Ramli yang ku kenal sejak lama sekali. Tentang Hera istrinya yang lembut hati mulai Mas Rizal masih menempati rumah lama di kawasan kavling Polri dekat rumahku.

Lalu pindah ke Jalan Bangka hasil desain Hera sang arsitek andal. Bersama anakku mengantar anaknya pulang tenis, mendampingi Hera di salon milikku saat ia mulai sakit sambil mengobrol dari hati ke hati. Aku betul-betul kehilangan saat Hera meninggalkan kami.

Bertahun-tahun kemudian Mas Rizal menikah dengan Afung, perempuan jelita dari Bangka. Masakannya super enak, meladeni Mas Rizal dari jempol kaki hingga rambutnya.


Menata busana suami dengan apik. Sesekali suami istri itu mengejek aku dengan bergurau, kenapa masih mau berjualan dendeng balado yang lezat itu. Balik jadi wartawan lagilah, bujuk mereka selalu.

Kemudian kuingat bagaimana suami istri ini melongo masuk ke gedung PDS HB Jassin di Taman Ismail Marzuki yang sungguh sederhana dengan tangga besi butut yang melengkapinya. Kukatakan jangan hanya hitung uang dan bicara finansial negara.

Belajarlah memahami sastra, menikmati pembacaan puisi dan drama. Dan itu Mas Rizal ikuti. Beberapa kali setelah itu, ia rajin ke TIM. Juga di rumahnya, acara diskusi apa pun ia hampir selalu mengundang kami untuk berpuisi.

Tak kan aku lupa pula betapa nestapanya ia saat Afung wafat. Air matanya tumpah tiada henti. Berjam-jam aku dan sahabat-sahabat dekatnya menemani di kamar jenazah, menunggu Afung didandani. Berhari-hari pula pelayat datang ke rumah Afung hingga pemakaman di Bogor.  

Teman-teman Mas Rizal banyak sekali, mulai dari rakyat jelata, mahasiswa-mahasiswa dari pulau seberang, sampai orang-orang maha penting yang mondar-mandir ke rumahnya maupun ke kawasan Tebet, kantornya.

Cintanya kepada negeri ini, pemikiran-pemikirannya, data akurat yang dimilikinya, dan kemarahannya kepada pejabat-pejabat koruptor dan swasta-swasta  culas yang turut mengeruk uang negara, amat sangat dahsyat.

Oleh sebab itu di manapun ia ditempatkan, di Kementerian Keuangan, di Kementerian Kelautan, apalagi ketika ia menduduki jabatan Kepala Bulog, orang-orang sekitarnya sungguh 'mati kutu'.

Ibaratnya akan ia kejar terus setiap sen kebocoran di instansinya untuk menyelamatkan uang negara.  

Duh, banyak sekali cerita politik non politik serta guyonan yang lucu-lucu yang kami alami. Piano di sudut tangga yang sering kumainkan, sibuknya dia minta dicarikan tukang pijat untuk anaknya yang berlibur dari Amerika, kerap memborong jualan makananku yang ia bagi-bagikan lagi ke sanak saudara dan staf-stafnya, ataupun bagaimana ia sempat membela seorang perempuan yang dizolimi pada masa jabatannya dan akhirnya kini menempati posisi penting. Ah... segudang rasanya yang masih kusimpan.

Pernah belum lama ini aku dan menantu serta cucu-cucu tak sengaja bertemu dia yang juga sedang bersama anak cucu menantu di restoran. Ia menunjukkan barcode di atas meja.

"Lin, lo ngerti ini apa? Gue gak ngerti dan kalau ada beginian untuk pesan-pesan dan bayar, mending gue pulang, hahaha. Sebab ini bukan generasi kita. Buat apa gue belajar ngerti ginian. Makanya gue bawa anak mantu yang ngerti," ujarnya sembari tergelak tawa berderai-berderai.

Lalu kujawab dengan tawa pula, "Samaa... Gue juga Mas. Tapi kan dikau eks Menko, harusnya bisa paham lho."

Sekarang baru kusadari, meski rumah kami sekawasan, tak pernah sekalipun kuundang Mas Rizal mampir ke rumah... Hahaha... Kalau dipikir-pikir, keterlaluan banget ya gue!

Kami kebanyakan ngobrol lewat telepon atau justru aku yang datang makan siang, makan malam di rumahnya, sesekali ngopi di kafe atau ngobrol di ruang kerjanya tentang segala hal kejadian di negeri ini.

Sahabatku yang manis hati, selamat jalan untukmu. Alfatihah untukmu. Segala doa terbaik mengiringimu. Terima kasih atas persahabatan tulus yang telah kudapat darimu.

Kini kau akan bertemu Hera dan Afung, yang mencintaimu sepanjang hayat mereka. Berbahagialah Mas Rizal Ramli, sang pejuang Indonesia tanpa pamrih, di tempatmu yang baru.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya