Berita

Budidaya lobster di NTB/Net

Bisnis

Penuh Optimisme, NTB Siap Menjadi Pusat Budidaya Lobster

MINGGU, 10 DESEMBER 2023 | 20:05 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu daerah yang didapuk sebagai pusat budidaya lobster oleh pemerintah. Bentang alam yang dipenuhi teluk dan banyaknya sebaran benih bening lobster (BBL) menjadi alasan provinsi ini layak sebagai pusat budidaya lobster.
 
Di tengah wacana ekspor BBL yang kembali mencuat demi kepentingan ekonomi, budidaya lobster di NTB terus menunjukan tren yang menggeliat.
 
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim menuturkan bahwa setidaknya ada 10 titik sebaran budidaya lobster di NTB.
 

 
Di antaranya di Blongas (Lombok Barat), Silong Blanak (Lombok Tengah), Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang (Lombok Tengah), Teluk Awam dan Teluk Ekas (Lombok Tengah dan Timur), Teluk Jukung dan Teluk Jor (Lombok Timur), Teluk Seriwe (Lombok Timur).
 
Kemudian di Pulau Sumbawa terdapat di Pulau Bungin, Teluk Saleh, Teluk Cempi (Dompu) dan Waworada (Bima).
 
“Proses budidaya (lobster) di daerah itu sudah berjalan, ada yang sudah mendapat izin lokasi perairan yang sudah terbit sejak 2021 dan ada yang masih proses,” kata Muslim kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (10/12).
 
Lanjut dia, kelompok pembudidaya di Teluk Jukung dan Teluk Ekas mencapai 147 dengan total pembudidaya sekitar 1.809. Jumlah itu diharapkan terus meningkat setiap tahunnya.
 
Untuk Kabupaten Lombok Tengah dan Timur, menurut datanya, terdapat 9.935 keramba jaring apung (KJA). Sementara luas lahan budidaya yang tersedia di Teluk Ekas dan Teluk Jukung masing-masing 731,84 Ha dan 642,82 Ha, baru tergarap kurang dari 10 persen.
 
Muslim mengakui dalam mengembangkan budidaya lobster tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan komitmen yang besar baik dari pemerintah pusat maupun daerah, serta para pembudidaya sendiri.
 
“Memang diperlukan waktu yang lama para pembudidaya ini bisa panen, sekitar 8 bulan ke atas, untuk lobster yang ukuran siap konsumsi,” ungkapnya.
 
Berbagai tantangan dan peluang, dijabarkan Muslim untuk mencapai hasil budidaya yang maksimal. Dia berharap, keberadaan masyarakat pembudidaya yang sudah melakukan action dengan KJA tentu memudahkan investor dalam menyusun business plan.
 
“Tantangannya, memang kemampuan teknis pembudidaya lobster masih rendah sehingga perlu ditingkatkan dan diperlukannya nutrisi (yang baik) untuk perkembangan lobster,” jelas Muslim.
 
Setidaknya, kondisi budidaya lobster di NTB bisa menjadi role model atau pijakan awal untuk melangkah sebagai pusat budidaya lobster nasional bahkan dunia.
 
Polemik Ekspor BBL

Masih kata Muslim, wacana ekspor BBL juga menimbulkan pro dan kontra di tengah nelayan dan pembudidaya. Dia meminta pusat untuk mempertimbangkan kembali dibukanya keran ekspor BBL.
 
“Jadi para pembudidaya di sini mengkhawatirkan kalau ekspor BBL dibuka, mereka akan sulit mendapat benih yang bagus, karena yang bagus-bagus sudah dibawa keluar,” ungkapnya lagi.
 
Senada dengan Muslim, Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB University, Prof. Yonvitner menyatakan adanya ekspor BBL justru kurang menguntungkan terutama bagi pembudidaya.
 
Sustainability BBL ke depan akan terganggu, otomatis nelayan atau pembudidaya lokal akan sulit mendapatkan benih. Akibatnya harga benih lokal akan naik,” ungkap Yonvitner dihubungi terpisah, Minggu (10/12).
 
Selain itu, menurutnya ekspor BBL juga menyebabkan comparative nice pembudidaya lokal menurun. Yonvitner menegaskan perlunya ditingkatkan daya saing pembudidaya lokal agar bisa menyaingi Vietnam.
 
Peluang dan Harapan
 
Yonvitner membeberkan, jika Indonesia mau fokus terhadap budidaya lobster maka nothing impossible. Dia menekankan pentingnya keseriusan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.
 
“Pengembangan budidaya lobster bisa diurai dari klaster rakyat dan industri. Klaster rakyat menggunakan skema multistages farming. Jadi mulai ada yang budidaya dari benih hingga ukuran jangkrik (sekitar 5 gram), kemudian ada lagi yang dari ukuran jangkrik sampai ukuran yang siap konsumsi misalnya,” beber Yonvitner.
 
“Jadi tidak hanya satu orang (pembudidaya), paling tidak ada 4 rantai usaha yang berkembang dalam klaster rakyat ini. Kemudian di klaster industri seperti yang dibangun pemerintah saat ini, mulai dari benih hingga konsumsi,” tambahnya.
 
Dosen Sumberdaya Perairan IPB ini juga mengurai pentingnya riset dan basis data statistik yang ter-update dalam pengembangan budidaya lobster. Dengan demikian, dia meyakini bahwa sektor budidaya lobster bisa menyerap banyak lapangan kerja
 
Mulai dari industri pakan hingga permasalahan kredit untuk pembudidaya juga diperhatikan dalam skema hulu-hilir budidaya lobster.
 
“Seperti di Vietnam, dukungan pemerintah sangat besar,” tandasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya