Berita

Meisterstadt Pollux di Batam/Istimewa

Dahlan Iskan

Pollux Flower

SENIN, 04 DESEMBER 2023 | 05:20 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ADA penghias langit baru di Batam. Atraktif. Indah. Mewarnai arsitektur di Batam. Sudah bisa dilihat dari jauh –apabila Anda menuju Batam Center.

Wujudnya empat gedung baru pencakar langit yang berjajar. Di pinggir jalan utama menuju Batam Center. Begitu mendekat terbaca nama Habibie di papan penandanya. Ditulis sangat besar. Lalu terbaca juga nama barisan gedung itu: Meisterstadt Pollux.

Meisterstadt adalah bahasa Jerman yang Anda sudah tahu artinya. Sasmita, komentator Disway (lihat komentar pilihan hari ini) ternyata tahu banyak soal proyek ini.


Menatap dari jauh proyek itu asosiasi saya langsung ke Prof Dr B.J. Habibie –ahli pesawat terbang lulusan Jerman yang pernah jadi menteri, wakil presiden, dan kemudian presiden ke-3 Indonesia.

Saya pun menghubungi Dr Ilham Habibie –putra beliau. Ternyata benar: itu proyek keluarga Prof Habibie. Bahkan ketika proyek itu direncanakan Prof Habibie masih sehat. Beliau juga setuju dengan nama proyek tersebut.

Keluarga Habibie lantas bermitra dengan seorang pengusaha properti Indonesia. Yakni pemilik grup Pollux Properti Tbk. Anda sudah tahu siapa pemilik grup Pollux. Proyeknya di mana-mana. Apalagi di Semarang. Ia pengusaha dari Semarang. Namanya: Po Soen Kok. Suku Hakka. Asal Singkawang.

Pollux memiliki 51 persen saham di Meisterstadt Batam. Keluarga Habibie 49 persen. Ada malnya di bagian bawah. Sedang empat towernya khusus untuk apartemen. Tidak ada perkantoran maupun hotel. Menurut Ilham yang tower 1,2,3 sudah terjual 75 persen. Kini sedang merencanakan tower ke-5.

Kali ini saya punya waktu keliling Batam. Begitu banyak bangunan baru. Pelebaran jalannya juga terus dikerjakan: menjadi lima lajur di setiap arahnya. Lapang sekali. Ekonomi Batam seperti nama kecil menggeliat.

Di kalangan pengusaha properti, Pollux Group dianggap pendatang baru. Po memang dikenal sebagai pengusaha kaya tapi ada satu momentum yang membuatnya mendadak kaya-raya.

Po sangat diuntungkan oleh berubahnya kurs dolar ke rupiah. Tiba-tiba dolar di level Rp 16.000. Dari sekitar Rp 4.200. Di tahun 1998.

Waktu itu Po masih dikenal sebagai pengusaha garmen. Nama perusahaannya sudah terkenal: Golden Flower. Mungkin Anda pernah juga membeli baju dengan merek itu di luar negeri.

Ekspor garmennya itulah yang membuat Po punya penghasilan dolar dalam jumlah besar. Ketika pengusaha lain menjerit akibat krismon Po kipas-kipas dolar.

Maka ketika harga properti jatuh, Po membelinya dengan dengan harga sangat murah –di mata dolar. Ketika banyak pengusaha bangkrut Po justru berkibar. Hotel Crown Plaza Semarang ia beli. Kini namanya Po Hotel.

Maka Po menjadi raja hotel di Semarang. Pollux Mall Paragon (hotel dan mal) adalah miliknya. Juga hotel plus apartemen Louis Kienne di Jalan Pemuda.

Louise Kienne (juga hotel dan apartemen) di Jalan A Yani. Lalu Louise Kienne hotel dan apartemen di Pandanaran. Masih ada Pollux Bank. Tentu masih ditekuni juga: Golden Flower.

Di Jakarta punya beberapa proyek serupa. Di Kuningan. Di Cikarang. Lalu di Batam tadi.

''Ke depan akan kami bangun juga rumah sakit. Itu wasiat Ibu Ainun Habibie,'' ujar Ilham.

Po lebih muda dari saya. Anaknya juga hebat-hebat: William dan Nico.

Po dikenal di Semarang sebagai orang yang membangun vihara Buddha terbesar di sana: Vihara Watugong. Di Semarang Selatan. Di pinggir jalan raya jurusan Solo.

Ia juga banyak membantu gereja. Orang Semarang mengenalnya sebagai pengusaha yang tidak aneh-aneh.

Mengapa tertarik membangun Batam? Seperti juga Anda, Po termasuk yang gelisah: mengapa Batam tidak bisa seperti Singapura –tetangga sepelemparan batunya. Maka ia bangun Meisterstadt. Yang sekali lihat dari jauh –kesan saya– seperti melihat Marina Bay di Singapura. Hanya beda bentuk.

Malam-malam saya ke Harbour Bay. Kawasan ini sekarang menjadi tertata rapi. Jadi pusat kuliner baru: untuk kelas menengah atas.

Meisterstadt menjadi icon baru di Batam. Saya menyesal tidak mampir malnya: saya tidak tahu apakah Pollux Group bisa membuat mal di Batam tidak kalah dengan tetangganya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya