Berita

Mantan Wakapendam XVII Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi (kanan) bersama masyarakat Papua/ist

Publika

Pengakuan Belanda Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 Gugurkan Klaim Papua Merdeka 1 Desember 1961

OLEH: DAX SIANTURI*
KAMIS, 23 NOVEMBER 2023 | 13:00 WIB

PADA 14 Juni 2023 lalu, Belanda melalui Perdana Menterinya Mark Rutte mengeluarkan pernyataan bahwa Pemerintah Belanda mengakui sepenuhnya bahwa Indonesia telah merdeka sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. "Belanda mengakui 'sepenuhnya dan tanpa syarat' bahwa Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945," ujar Perdana Menteri Mark Rutte, Rabu (14/6) dikutip AD.nl.

Pengakuan Pemerintah Belanda atas Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini pastinya bukanlah suatu keputusan yang diambil dengan sembarangan. Sikap dan keputusan politik suatu negara tentang sejarah masa lalunya tentu telah didasari oleh pengkajian mendalam dan pertimbangan yang matang bahwa keputusan tersebut adalah benar adanya sehingga patut dinyatakan sebagai sikap politik negara.

Pengakuan ini juga secara langsung memberikan ketegasan bahwa Belanda mengakui eksistensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.


Dalam rapat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) telah menetapkan bahwa Papua termasuk wilayah Republik Indonesia yang menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Dengan adanya pengakuan "sepenuhnya dan tanpa syarat" dari Pemerintah Belanda tersebut juga secara tidak langsung Belanda mengakui "kekeliruan" sekaligus "mengoreksi" sikap politik-nya pada masa lalu yang terkait dengan Papua, antara lain:

1. Menolak menyerahkan wilayah Papua (Irian Barat) pada saat Konferensi Meja Bundar yang berlangsung pada 23 Agustus - 2 November 1949.

2. Mengakui manifesto politik Kemerdekaan Irian Barat pada 1 Desember 1961.

Bila dicermati, korban "kekeliruan" Pemerintah Belanda selama ini tentunya adalah bangsa Indonesia, termasuk rakyat Papua itu sendiri.

Bisa kita bayangkan, apabila pada tahun 1945 Belanda langsung mengakui Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, maka sejarah kita tidak akan "disibukkan" dengan adanya peristiwa Konferensi Meja Bundar, Manifesto Politik 1 Desember 1961, Operasi Trikora, New York Agreement, Pepera dan lain sebagainya yang menimbulkan konflik berkepanjangan di dalam negeri.

Oleh sebab itu, pengakuan ini patut kita syukuri dan momentum membuka lembaran baru untuk mewujudkan rekonsiliasi dalam menyikapi konflik Papua.

Terlebih dari itu, dengan adanya pengakuan ini klaim kelompok Papua Merdeka yang selama puluhan tahun menyatakan bahwa Papua bukan bagian dari NKRI dan Papua telah merdeka pada 1 Desember 1961 otomatis gugur.

Dengan demikian, sesungguhnya saat ini kelompok Papua Merdeka sudah tidak memiliki dasar historis yang legal tentang klaim mereka tersebut. Sikap politik Pemerintah Belanda ini tentunya dapat menggugah kesadaran dari kelompok Papua Merdeka sebagai pembelajaran bahwa ternyata pada masa lalu Papua hanya dijadikan komoditas Belanda untuk mempertahankan politik kolonialismenya di wilayah Republik Indonesia.

Papua hanya dijadikan "alat" oleh Belanda untuk melawan keinginan bangsa Indonesia menjadikan masyarakat Papua sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang telah menyatakan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945.

Setiap tahunnya, front politik Papua Merdeka seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) selalu menjadikan tanggal 1 Desember sebagai agenda peringatan Kemerdekaan Papua.

Mereka menjadikan peringatan 1 Desember sebagai momentum menunjukan eksistensinya dengan menyebarkan narasi kepada publik tentang adanya pengakuan Manifesto Politik West Papua oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1961.

Dengan adanya pernyataan PM Belanda pada 14 Juni 2023, maka jelas narasi yang dilemparkan oleh kelompok Papua Merdeka tersebut telah terbantahkan dan menjadi sesuatu yang tidak valid.

Artinya, bantahan atas klaim Papua merdeka bukan lagi hanya dilakukan oleh Pemerintah RI, namun juga oleh Pemerintah Belanda yang selama ini namanya selalu "dipakai" oleh kelompok Papua Merdeka saat melakukan doktrinisasi dan propaganda kepada publik.

Pada akhirnya, sebagai bangsa Indonesia, sepatutnya kita menyikapi pengakuan Pemerintah Belanda tersebut sebagai momentum untuk mengajak dan merangkul saudara-saudara kita yang saat ini masih "terpenjara" dengan nostalgia Papua merdeka untuk menatap masa depan.

Marilah bersama-sama meninggalkan masa lalu, meninggalkan segala perbedaan dan permusuhan yang timbul akibat intrik politik kolonial Belanda masa lalu.

Mari kita bersuara lebih keras agar seluruh elemen bangsa peduli untuk membangun dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk saudara-saudara kita di Papua.

*Mantan Wakil Kepala Penerangan Kodam (Wakapendam) XVII Cenderawasih

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya