Berita

Dahlan Iskan saat mengujungi Tianjin, China/Ist

Dahlan Iskan

Jurus Teladan

MINGGU, 17 SEPTEMBER 2023 | 04:59 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SUDAH lama saya menanti: teladan apa yang akan diberikan oleh Tiongkok untuk mengatasi kelesuan ekonomi mereka. Kian banyak saja yang khawatir akan ekonomi Tiongkok.

Pertumbuhan ekonominya tidak kunjung tinggi. Kredit macet di real estate-nya gila-gilaan. Ekonomi mulai lesu. Ibaratnya Tiongkok mulai meriang. Salah-salah bisa batuk-batuk: kita pun akan ikut kena flu.

Saya begitu penasaran menanti jurus baru yang ditemukan Tiongkok. Tidak kunjung muncul. Saya mulai khawatir: akankah Tiongkok menemukan jalan keluar? Kalau tidak, betapa bahaya negeri itu?


Akhirnya, pekan lalu, saya melihat langkah baru di sana. Saya memang belum yakin itu sebagai obat mujarab tapi itulah ilmu lama yang sudah terbukti ampuh di masa nan lalu: Tiongkok membiarkan nilai mata uangnya, disway.id/listtag/79553/yuan">yuan, melemah.

Sepanjang 10 hari terakhir kurs yuan terhadap dolar merosot pelan-pelan. Terus-menerus. Terakhir kurs yuan sudah turun 5,7 persen. Ini kurs paling lemah selama 16 tahun terakhir.

Sehari sebelum saya ke Kamar 48 lalu, satu dolar Amerika sudah setara dengan 7 yuan 36 sen. Bulan Mei 2016, satu dolar masih 6 yuan 16 cen.

Kalau dalam beberapa waktu ke depan Tiongkok masih melemahkan kurs yuan-nya berarti benar: inilah jurus yang dipakai Tiongkok untuk keluar dari kesulitan ekonomi.

Melemahkan yuan dipercaya bisa meningkatkan kembali ekspor Tiongkok. Selama ini negeri itu bisa maju karena ekspornya luar biasa. Ke seluruh dunia.

Empat bulan terakhir ekspor Tiongkok terus merosot. Penurunan ekspor itu sudah terlihat sejak 13 bulan lalu. Padahal kekuatan ekspor Tiongkok adalah segala-galanya. Agustus lalu ekspornya ''tinggal'' USD 284 miliar. Dibanding bulan yang sama setahun sebelumnya. Turun hampir 9 persen.

Dengan melemahkan mata uang yuan, ekspor Tiongkok akan bisa naik lagi. Tanpa ekspor yang tinggi Tiongkok akan mengalami overcapacity di industrinya.

Para pemuja Tiongkok, seperti saya, juga ikut deg-degan: bisakah negeri itu rebound. Atau akan terhambat di level ini. "Tanpa pertumbuhan, Tiongkok bahaya," ujar Dr Michael J. Hicks. Ia ahli ekonomi papan atas di Amerika Serikat. Keahliannya di bidang ekonomi regional dan industri. Alirannya Keynesian. Lulusan University of Tennessee di kota Knoxville. Ia pernah aktif di militer dengan pangkat terakhir letnan kolonel. Jangan jumbuh-kan dengan Mayjen Mark J. Hicks. Ia adalah adiknya.

Michael Hicks tahu: 40 tahun terakhir Tiongkok tumbuh pesat. Itu mengingatkannya pada tingkat pertumbuhan di Amerika setelah tahun 1930-an. Itu yang membuat Amerika digdaya sampai sekarang.

Bedanya, kata Hicks, pertumbuhan tinggi di Tiongkok kurang sehat. Pertumbuhan itu bersumber dari urbanisasi penduduk desa ke kota yang luar biasa. Melebihi yang terjadi di Amerika kala itu.

"Industri di Tiongkok pun kurang efisien. Produktivitas 7,5 tenaga kerja di Tiongkok sama dengan 1 orang di Amerika kala itu," ujarnya.

Itu karena industri dijalankan dengan tenaga yang berlatar belakang petani lama.

Hicks mengatakan, para petinggi Tiongkok juga tahu kelemahan itu. Maka Tiongkok mengubah orientasi pendidikannya: menjadi lebih mengutamakan sains, teknologi, matematika, fisika, kimia, elektro dan seterusnya.

Menurut Hicks urbanisasi besar-besaran di Tiongkok itu menyebabkan sektor pertanian tetap tertinggal jauh. Tidak terjadi  modernisasi pertanian seperti yang terjadi di Amerika. "Pertanian di Tiongkok masih di era pra-industrialisasi," katanya.

Sebagai militer ia pun mengingatkan: angkatan udara Tiongkok masih ketinggalan puluhan tahun dari AU Amerika.

Tiongkok sudah begitu maju, tapi masih begitu banyak yang harus dilakukan. Semuanya sulit. Perlu kerja lebih keras lagi.

Apalagi kita. Itulah teladan yang kita tunggu, ternyata.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya