Berita

Ilustrasi polusi udara Jakarta/Net

Publika

Tak Ada Pelestarian Lingkungan Tanpa Perjuangan Kelas

OLEH: ADITYO FAJAR*
RABU, 16 AGUSTUS 2023 | 17:41 WIB

PARU-PARU Jakarta semakin kotor, berdebu, dan cemar. Kemarin, 15/8/2023, Liputan6 mengangkat judul pemberitaan yang mencengangkan: 'Polusi Udara di Jakarta Terburuk Sedunia Pagi Ini.'

Klaim tersebut diambil berdasarkan parameter kualitas udara IQAir. Dari 109 negara, indeks kualitas udara Jakarta mencapai angka 183 US Air Quality Index (AQI US).

Data itu diukur pada pukul 08.00 WIB pagi kemarin. Tingkat pencemaran udara Jakarta terpaut 10 poin lebih tinggi dari Dubai, Uni Emirat Arab, yang menduduki peringkat kedua kota dengan kualitas udara terburuk di bilangan 173 AQI US. Sementara, Doha, Qatar, berada di peringkat ketiga kota terpolutan di dunia dengan angka 161 AQI US.


Berdasarkan pantauan IQAir per 15 Agustus 2023, rata-rata polutan halus yang beredar di udara Jakarta sebanyak 45,3 mikrogram (µg) per meter kubik (m3). Angka ini sembilan kali lebih besar dari ambang batas yang ditentukan WHO (PM 2,5).

Pesan gamblang dari angka-angka tersebut adalah, kualitas udara ibukota sudah tidak higienis, sama sekali tak sehat.

Sungguh ibukota Republik yang malang. Yang jelang usianya ke-78, mendapati pernapasannya mengalami potensi infeksi besar. Sejak awal dekade 1990-an, sebenarnya buruknya udara di Jakarta sudah terdeteksi.

Saat itu, program lingkungan PBB (UNEP) melakukan uji petik kualitas udara di 20 kota megapolitan dari seluruh dunia, termasuk Jakarta.

Berdasarkan hasil uji petik tersebut, nilai Suspended Particulated Matter (SPM) di Jakarta menunjukkan masalah serius berdasarkan ukuran Badan Kesehatan Dunia (WHO).

SPM merupakan partikel halus berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang melayang di udara dalam jangka waktu yang relatif lama.

Partikel ini yang menelusup masuk ke hidung warga kota, hinggap ke paru-paru atau mendarat di bola mata. Ia akan mendatangkan risiko gangguan sistem saraf pusat, hipertensi, iritasi mata-hidung-tenggorokan, penyakit paru, hingga gangguan sistem reproduksi. Ini adalah horor kesehatan massal yang menggelayuti kota paling prestisius di Indonesia.

Masalah polusi udara di Jakarta tak terelakkan menyibak persoalan yang lebih genting terkait emisi karbon. Diketahui emisi karbon menjadi salah satu kontributor utama perubahan iklim global, selain emisi gas rumah kaca. Tetapi pertanyaannya, siapakah gerangan perusak sesungguhnya planet tempat kita tinggal ini?

Laporan Oxfam per November 2022, mencoba memberikan jawaban. Bertajuk Carbon Billionaires: The investment emissions of the world’s richest people, laporan itu menuding kalangan miliarderlah biang keladinya.

Emisi karbon dari 125 miliarder terkaya di dunia disebut sejuta kali lebih tinggi daripada 90 persen populasi di planet ini. Investasi dari hanya 125 miliarder memancarkan 393 juta ton CO2e setiap tahun.

Orang-orang super tajir ini mengeluarkan karbon 70% dari emisi yang dihasilkan dari investasi  di berbagai jenis industri. Mereka adalah pemilik saham gabungan senilai 2,4 triliun dolar AS di 183 perusahaan.

Angka pencemaran yang mereka hasilkan kemungkinan masih lebih tinggi, karena terdapat miliarder dan perusahaan yang tidak mengungkapkan emisi mereka secara terbuka, sehingga tidak dapat dimasukkan dalam penelitian.

Laporan itu juga menyebutkan 10 persen orang terkaya di dunia menyumbang lebih dari setengah (52 persen) emisi yang ditambahkan ke atmosfer antara tahun 1990-2015.

Di sini lain, keuntungan yang taipan-taipan ini kantongi makin berlipat ganda seiring meletusnya Perang Ukraina-Rusia. Selama perang, lewat industri energi fosilnya kemakmuran mereka bertambah gendut.

Sementara kita mendapatkan kerusakan pernapasan, mereka meraup laba gila-gilaan. Dari 2021-2022 ExxonMobil mendulang profit dari 23 miliar dolar AS menjadi 59,1 miliar dolar AS; Shell meningkat dari 19,3 miliar dolar AS menjadi 39,3 miliar dolar AS.

Chevron naik dari 15,6 miliar dolar AS menjadi 36,5 miliar dolar AS; Total Energies terkerek dari 18,1 miliar dolar AS menjadi 36,2 miliar dolar AS; dan BP melompat dari 12,8 miliar dolar AS menjadi 27,27 miliar dolar AS.

Belakangan tahun, berbagai narasi diedarkan di ruang publik. Bahwa, setiap individu mengemban tanggung jawab atas krisis iklim yang tengah mengancam kelangsungan hidup populasi manusia.

Kita diminta mengurangi penggunaan plastik, mempopulerkan mobilitas memakai sepeda, berjalan kaki lebih sering, dan meninggalkan kendaraan pribadi. Ada 1001 ajakan untuk itu.

Tetapi semua anjuran individual tersebut terasa hampa dan menipu, bila tanpa mengarahkan telunjuk ke aktor utama pelaku kejahatannya. Orang-orang terkaya inilah yang sebenarnya yang memperburuk krisis iklim, sedangkan mayoritas rakyat disemprot polutan buruk yang merusak kesehatan. Seperti kita di Jakarta  hari ini, yang udaranya pekat dipenuhi noda.

Pelestarian lingkungan mustahil dilakukan tanpa diiringi perjuangan kelas yang gigih demi memberangus keserakahan kaum kapitalis. Yang kita butuhkan bukan cuma menanam ribuan pohon baru sebagai paru-paru kota.

Melainkan, melikuidasi kekuasaan kapitalis di ruang ekonomi dan politik. Persis seperti yang Chico Mendes bilang, "Pelestarian lingkungan tanpa perjuangan kelas adalah (sekadar) berkebun!"

*Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi Partai Buruh

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya