Berita

Jurubicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby/Net

Dunia

AS Kutuk Keputusan Rusia Akhiri Kesepakatan Biji-Bijian Laut Hitam

SELASA, 18 JULI 2023 | 10:58 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Keluarnya Rusia dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam telah mengundang kritikan keras dari Amerika Serikat (AS), yang menyebut bahwa tindakan itu tidak bertanggung jawab dan berbahaya.

Dalam konferensi pers harian, jurubicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, mengungkapkan keprihatinannya terhadap keputusan Rusia yang dianggap dapat memperburuk kelangkaan pangan global dan membahayakan jutaan nyawa manusia.

"Inisiatif Butir Laut Hitam memiliki peran penting dalam menurunkan harga pangan global yang telah melonjak akibat invasi Rusia yang brutal dan tidak beralasan terhadap Ukraina. Keputusan Rusia untuk melanjutkan blokade pelabuhan Ukraina dan menghentikan pasokan biji-bijian akan berdampak buruk bagi masyarakat global," ujar Kirby.


Kirby juga menegaskan bahwa Rusia harus bertanggung jawab atas seluruh konsekuensi dari agresi militernya itu, yang telah memicu adanya lonjakan harga gandum, jagung, dan kedelai secara global sejak mereka menangguhkan biji-bijian Ukraina.

"Kami mendesak pemerintah Rusia untuk segera membatalkan keputusannya," tambahnya.

Mengutip Anadolu Agency, Selasa (18/7), Kremlin mengumumkan penangguhan Rusia terhadap kesepakatan tersebut, dengan alasan bahwa Rusia dirugikan, karena ketidakpatuhan dalam perjanjian itu, terutama terkait ekspor makanan dan pupuk Rusia yang tidak dilaksanakan.

Kesepakatan ini pertama kali ditandatangani pada Juli tahun lalu di Istanbul oleh Turkiye, PBB, Rusia, dan Ukraina, dengan tujuan untuk melanjutkan ekspor biji-bijian dari pelabuhan Ukraina, yang sebelumnya terhenti akibat perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada Februari 2022.

Setelah kesepakatan itu ditandatangani, krisis pangan global telah sedikit teratasi, setelah sebelumnya sempat ditangguhkan. Namun, keluarnya Rusia dari perjanjian itu telah memicu banyaknya kekhawatiran akan krisis pangan yang kembali melanda dunia.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya