Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Rencana Kunjungan Blinken ke Beijing jadi Sorotan, Pengamat: Mau Perbaiki Hubungan atau Mau Menekan?

KAMIS, 15 JUNI 2023 | 09:37 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah sempat tertunda karena insiden balon mata-mata, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken direncanakan untuk mengunjungi China selama dua hari dan akan dimulai Minggu (18/6) mendatang.

Tak lama setelah Kementerian Luar Negeri China menginformasikan kunjungan tersebut, Penasihat Negara merangkap Menteri Luar Negeri China Qin Gang langsung melakukan panggilan telepon dengan Blinken atas permintaan AS.

Selama panggilan telepon, Qin dilaporkan menguraikan sikap tegas China pada masalah inti seperti persoalan Taiwan, menekankan bahwa AS harus menghormatinya, berhenti mencampuri urusan dalam negeri China, dan berhenti merusak keamanan berdaulat China dan kepentingan pembangunan atas nama persaingan.


Beberapa pengamat China percaya panggilan telepon tersebut berfungsi sebagai pengingat bagi pihak AS bahwa jika diplomat senior Washington datang ke China tanpa ketulusan atau terus menekan China untuk mencapai tujuan Washington sendiri, kunjungan itu tidak ada artinya.

Direktur Pusat Studi Amerika di Universitas Fudan, Wu Xinbo, mengatakan, kunjungan Blinken telah direncanakan tetapi kemudian tertunda untuk waktu yang lama karena beberapa hal, salah satunya karena pemerintahan Biden pertama-tama berfokus pada penyatuan sekutunya dan mengambil sikap Perang Dingin melawan China.  

"Tetapi sekarang AS menunjukkan keinginannya untuk memungkinkan kunjungan ini. Itu untuk meluncurkan kembali pertemuan tingkat tinggi AS-China, keterlibatan untuk fase selanjutnya," kata Wu Xinbo, seperti dikutip dari Global Times, Kamis (15/6).

"Kedua belah pihak diharapkan untuk bertukar pandangan tentang beberapa perbedaan dan dapat mencapai beberapa konsensus tentang kerja sama, misalnya, dalam pertukaran orang-ke-orang," kata Wu.

Selama panggilan telepon, Qin sekali lagi menunjukkan akar penyebab dari kesulitan yang dialami hubungan AS-Tiongkok saat ini dan cara untuk menyelesaikan masalah ini.

"Itu tergantung pada apakah pihak AS akan memperbaiki kesalahan dan gagasan salahnya dalam menangani hubungan bilateral," Li Haidong, seorang profesor di Universitas Urusan Luar Negeri China.

"Kunjungan Blinken yang akan datang tidak diragukan lagi akan membantu kedua belah pihak untuk memahami secara mendalam niat dan kebijakan satu sama lain untuk menghindari salah penilaian," kata Li.

Selama kunjungan, diplomat AS kemungkinan akan membahas berbagai topik dimana kedua belah pihak dapat terlibat dalam dialog atau kemungkinan kolaborasi.

"Namun, kita harus jelas bahwa esensi persaingan strategis habis-habisan AS dengan China tidak mungkin berubah," kata Li.

Pihak AS telah mengirimkan sinyal keinginannya untuk memperbaiki hubungan bilateral dalam beberapa hari terakhir.

Misalnya, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan selama sidang komisi DPR pada hari Selasa bahwa adalah kepentingan terbaik AS untuk mempertahankan hubungan dengan China, dengan mengatakan bahwa "akan menjadi bencana bagi kami untuk mencoba memisahkan diri dari China."

Meskipun muncul sinyal pencairan hubungan bilateral, AS telah terlibat dalam serangkaian tindakan yang tidak kondusif untuk menciptakan suasana positif bagi kemungkinan pertemuan tingkat tinggi, kata para ahli.

"Panggilan telepon berfungsi sebagai pengingat bagi pihak AS: kami tidak akan menolak permintaan kunjungannya, tetapi itu harus dilakukan hanya jika dibuat dengan ketulusan dan niat yang benar untuk meningkatkan hubungan bilateral," kata Li.

Namun, beberapa ahli meragukan ketulusan Washington, karena mungkin berharap untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan China hanya untuk meyakinkan sekutunya atau menekan China untuk mencapai tujuannya sendiri.

"Sampai batas tertentu, kami memainkan kartu pertama, untuk memastikan apa yang akan kami bicarakan. Kunjungan itu tidak akan ada artinya kecuali pihak AS mengikuti prinsip-prinsip yang disebutkan dalam pembicaraan," kata Li.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya