Berita

Pendiri Eksan Institute, Moch Eksan/RMOL

Publika

NU Tulen

OLEH: MOCH EKSAN*
KAMIS, 25 MEI 2023 | 13:28 WIB

DI BERBAGAI grup NU, banyak muncul aspirasi dari bawah, agar partai dan calon presiden mengambil NU tulen sebagai pasangannya. Aspirasi warga NU bentuk respons terhadap pencalonan Erick Thohir yang diendorse oleh Gus Yaqut, Gus Ipul dan lain sebagainya untuk mendampingi Ganjar Pranowo.

Bahkan, aktivis yang tergabung dalam  Nusa Bangsa Indonesia (NBI) sowan ke PWNU di Jalan Masjid Al-Akbar Tim No.9, Gayungan, Kota Surabaya Jawa Timur 60235. Mereka menyampaikan aspirasi warga nahdlyyin mengusulkan capres atau cawapres yang NU asli bukan NU naturalisasi.

Lepas dari benar atau salah alamat penyampaian aspirasi di kantor NU, yang mesti ditangkap semangat warga NU di level bawah untuk memiliki pemimpin nasional dari kader tulen layaknya Gus Dur, Hamzah Haz, Jusuf Kalla dan Kiai Ma'ruf Amien. Mereka para tokoh NU yang berhasil menjadi presiden atau wakil presiden yang berasal dari para aktivis NU sedari bawah sampai posisi top di jam'iyah.


NU tulen itu artinya kader NU yang sejati dan asli. Mereka yang memiliki paham keagamaan ala minhaj Nahdlatil ulama, dan mengikuti amaliah nahdliyyah serta berpedoman pada sikap kemasyarakatan berdasarkan khittah NU 1926.

Sikap kemasyarakatan NU tersebut bercirikan empat hal berikut.

Pertama, sikap tawasuth dan i’tidal. Sikap ini merupakan sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan beragama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharuf (ekstrim).

Kedua, sikap Tasamuh. Sikap ini merupakan sikap toleran terhadap peradaban pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah; serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

Ketiga, sikap Tawazun. Sikap ini merupakan sikap seimbang dalam berkhidmat. Menyerasikan khidmat kepada Allah, khidmat kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Keempat, sikap Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Sikap ini merupakan sikap selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai- nilai kehidupan.

Istilah "NU Tulen" sebenarnya kalimat protes terhadap kecenderungan para elite NU yang menaturalisasi calon pemimpin demi meraih basis massa keagamaan terbesar di dunia ini. Kalimat ini juga kalimat perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni kelompok politisi dan ekonomi oligarki.

Selain, istilah "NU Tulen" adalah kalimat doa yang menginginkan kedigdayaan dan kebesaran para tokoh NU yang berhasil menaklukkan rimba rawa politik Indonesia. Dengan basis massa yang kuat, kekayaan intelektual dan spiritual yang kaya, para tokoh NU harus percaya diri bisa menjadi arus utama kekuatan politik nasional dalam partai, negara dan masyarakat.

Gus Yahya selalu di berbagai kesempatan mengatakan bahwa jumlah warga NU sekitar 150 juta lebih. Mereka umat Islam yang menyatakan berafiliasi dengan NU. Sayangnya, basis kultural ini belum bisa terkonversi pada basis elektoral yang solid. Mereka sulit dipersatukan oleh agenda setting untuk menang Pilpres atau pun Pilkada.

Jadi, aspirasi dari berbagai grup WA maupun seruan dari NBI harus ditempatkan sebagai obsesi besar NU untuk memiliki pemimpin negara dan daerah dari, oleh dan untuk warga NU. Disamping, hal itu dibaca sebagai ikhtiar untuk menyatakan visi, misi dan program kepemimpinan NU dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semua harus menyadari bahwa NU lumbung kader pemimpin sekaligus lumbung suara pemilu. Banyak anak tokoh dan warga NU yang menikmati pendidikan berkualitas di dalam dan luar negara. Mereka sekarang mengalami transformasi vertikal dan horisontal. Mereka kelas menengah baru dari kultur pesantren yang matang secara politik dan ekonomi.

Memasuki abad ke-2 NU, mulai nampak sejumlah putra kiai dan warga NU berhasil memenangkan kontestasi. Di antara mereka ada yang jadi gubernur, bupati atau walikota. Posisi sebagai kepala daerah merupakan cikal bakal kepemimpinan nasional. Tak berlebihan, bila kesimpulan sementara NU telah menjelma menjadi "raksasa" dan menjadi kelompok determinan yang menentukan arah kepemimpinan bangsa di masa depan.

Pemilu 2024 ini merupakan momentum bagi NU. Tidak lagi menjadi penonton, tidak lagi menjadi pemeran pembantu, namun menjadi pemain utama dalam suksesi kepemimpinan nasional. Sekelompok anak muda yang mengatasnamakan Nusa Bangsa Indonesia (NBI) di bawah kepemimpinan HRM Kholilur R Abdullah Sahlawiy  telah mengusulkan 7 nama yang layak memimpin negeri. Antara lain:

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa, Menkopolhukam Prof Dr Mahfud MD, Mustasyar PBNU Prof Dr KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PKB Dr H A Muhaimin Iskandar, Direktur Wahid Institute Zannuba Ariffah Hafsoh, dan Mantan Anggota BPK Dr H Ali Masykur Musa.

Namun demikian, sejumlah nama tersebut tampil atau tidaknya dalam Pilpres bergantung pada koalisi partai dan capres yang diusung. Sebab, ketentuan Presidential threshold menjadi hijab bagi kader NU tulen di atas untuk maju dan terpilih menjadi pengganti Presiden Jokowi. Kecuali, ketentuan PT 20 persen dihapuskan karena bertentangan dengan hak konstitusional rakyat dalam memilih pemimpin nasional.

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya