Berita

Gedung Pertamina/Net

Publika

Kalau Rencana Pertamina Ini Gagal Masalah Akan Semakin Besar

SELASA, 09 MEI 2023 | 09:28 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

SEMUA rencana ke depan ditujukan sebagai usaha untuk mencari likuiditas agar mudah bagi Pertamina dalam menyelesaikan utang, terutama utang jangka pendek. Utang yang selama ini digunakan untuk membangun infrastruktur, menjalankan penugasan distribusi BBM satu harga, dan menanggung subsidi sebelum diganti oleh Menteri Keuangan dan melaksanakan tugas dari pemerintah lainnya.

Utang Pertamina yang mencapai Rp 750 triliun dan global bond senilai Rp 260 triliun, tentu hanya bisa diatasi jika Pertamina bisa mengumpulkan uang banyak dalam dua tahun ke depan. Jika semua rencana cari uang ini gagal, maka berbahaya bagi stabilitas pasokan BBM nasional. Terutama kelangsungan pasokan solar subsidi, yang kata Dirut Pertamina dan Menteri ESDM banyak digunakan pengusaha tambang dan sawit.

Perlu diketahui bahwa likuiditas Pertamina sekarang dengan saldo kas sebesar 11,7 dolar AS miliar per Juni 2022. Ini akan digunakan pembayaran utang jangka pendek sebesar 7,6 miliar dolar AS, termasuk 3,7 miliar dolar AS pinjaman jangka pendek. Pertamina tampaknya akan tetap melanjutkan penerbitang utang baru  ke pasar, bank dan obligasi, dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan negara, dan Pertamina diharapkan akan memperoleh pendanaan untuk ekspansi.


Lalu seperti apa anak anak perusahaan? Ini juga mesti mendapat perhatian. Perusahaan Gas Negara (PGN) misalnya dengan uang tunai sekitar 1,4 miliar dolar AS pada akhir tahun 2022. PGN memiliki total utang konsolidasi sebesar 1,7 miliar dolar AS, termasuk 1,3 miliar dolar AS dalam senior unsecured notes yang diterbitkan oleh PGN dan Saka jatuh tempo tahun 2024.

Demikian juga dengan Saka energy anak perusahaan PGN akan membutuhkan dukungan dari PGN untuk melunasi obligasi sebesar 376 juta dolar AS yang akan jatuh tempo Mei 2024 dan juga memperpanjang pinjaman pemegang saham sebesar 142 juta dolar AS yang akan jatuh tempo pada Desember 2024. Saka memiliki pinjaman pemegang saham lainnya sebesar 142 juta dolar AS yang akan jatuh tempo pada Desember 2025.

Lalu Pertamina Geothermal Energi (PGE) yang baru baru ini telah dikerahkan untuk mendapatkan pendanaan melalui IPO dan akan dilanjutkan dengan penerbitan obligasi. Sekarang kas PGE sekitar 220 juta dolar AS pada akhir tahun 2022, dibandingkan 615 juta dolar AS dari utang yang jatuh tempo dalam setahun.

Jatuh tempo utang terutama terdiri dari 600 juta dolar AS saldo pinjaman lanjutan yang jatuh tempo pada Juni 2023. Likuiditas PGE akan meningkat secara substansial jika berhasil menerbitkan obligasi hijau.

Dengan ditambah obligasi, perusahaan akan dapat membayar sebagian pinjaman  menggunakan dana IPO dan juga dengan menggunakan kas internal, dan membiayai kembali saldo melalui pinjaman bank, jika diperlukan PGE memiliki fleksibilitas keuangan karena didukung oleh akses yang kuat ke pinjaman pemegang saham dan pembiayaan eksternal, dan dibantu oleh dukungan induk yakni Pertamina.

Selanjutnya, Pertamina Hulu Energy (PHE) yang kemudian akan digadang gadang juga akan melakukan IPO dengan nilai yang tidak kecil. Hanya satu pertimbangan sangat ini yang sangat menentukan adalah proyeksi Lembaga keuangan internasional terkait harga minyak yang akan menurun di tahun 2023-2024-2025 yang diproyeksikan menuju 65 dolar per barel. Masa depan PGE sangat ditentukan oleh posisi harga minyak, sehingga harus mengambil momentum yang tepat dalam melakukan IPO.

Sementara Kilang Pertamina Internasional (KPI) kabarnya lebih memilih mencari mitra mitra internasional untuk melakukan investasi di kilang kilang pertamina. KPI jelas menghindari menggunakan equity dalam membiayai investasi kilang dengan resiko yang dihadirkan oleh issue transisi energi.

Keberlanjutan perang Rusia Ukraina telah begitu banyak menekan KPI yang telah mengambil mitra Rusia dalam pengembangan kilang. Sementara migas memiliki kaitan erat dengan dominasi AS dan Eropa dalam industri ini. Inilah tantangan yang harus diatasi di masa mendatang.

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya