Berita

Ekonom senior Rizal Ramli/Net

Politik

Industrialisasi Bisa Topang Ekonomi RI, RR: Tapi Jokowi Buat Omnibus Law!

SABTU, 06 MEI 2023 | 14:28 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Perkembangan ekonomi nasional berpeluang meningkat signifikan melalui industrialisasi. Namun, ada satu masalah yang justru menghambat potensi itu, yakni dari segi regulasi.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin), Rizal Ramli menyebut, ada beberapa komponen yang bisa mewujudkan potensi industrialisasi nasional.

“Harus industrialisasi. Kalau kita ngomong industrialisasi itu kan ada 3 komponen. Satu teknologi,” ujar Rizal Ramli dalam sebuah video yang ia posting melalui akun Instagramnya, Sabtu (6/5).


Menko Ekuin era Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menjelaskan, pengembangan teknologi menjadi satu komponen penting untuk pembangunan industrialisasi.

Setidaknya, ia menyebutkan ada beberapa negara yang memulai pengembangan industrialisasi dengan mempelajari caranya dari negara lain.

“Teknologi kita bisa nyontek yang namanya reverse engginering. Semua begitu. Jepang dulu nyontek dari Amerika, Korea nyontek dari Jepang,” urainya.

Selain mendorong reverse engginering, Rizal Ramli menyarankan agar komponen pembiayaan juga diperhatikan pemerintah. Karena, pembiayaan untuk industrialisasi di Indonesia terbilang mahal.

“Di dalam industri manufaktur itu reable cost itu biasanya cuma 15 persen, biaya lain-lain buat nyogok birokrasi dan lain-lain itu hampir lebih tinggi dari itu. Makanya Indonesia tidak pernah kompetitif, karena biaya birokarasinya 15-20 persen dari total cost,” katanya.

Salah satu biang kerok dari biaya berusaha mahal di Indonesia, disebutkan mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) ini, adalah regulasi perizinan berusaha yang dikeluarkan pemerintah.

“Kalau dengarin pidato Pak Jokowi kan bagus, ‘kita sederhanakan birokrasi supaya tidak terlalu banyak aturan’, lalu dia buat omnibus law cipta kerja, tebalnya seribu halaman,” ketusnya.

Keberadaan omnibus law tersebut, dianggap Rizal Ramli sebagai malapetaka bagi pengusaha kecil dan menengah.

“Jadi birokrat itu senang banget ada omnibus law, seribu halaman tebalnya. Misalnya, ada yang mau izin usaha, tapi dibilang tidak bisa karena ada pasal ini. Akhirnya mau enggak mau nyogok,” ucapnya mencontohkan.

“Jadi omnibus law iktikadnya, (dilihat dari pidatonya Jokowi), itu untuk membuat lebih kuat sektor industri dan bisnis, tapi kenyataannya sebaliknya. Nanti kita batalin,” tegasnya menambahkan.

Lebih lanjut, sosok yang kerap disapa dengan akronim RR, menyebutkan komponen ketiga yang memengaruhi perkembangan industrialisasi adalah capital cost.

“Capital cost Indonesia pro impor. Karena impor sangat gampang, enggak ada tarif yang berarti,” sembungnya menyebutkan.

Akan tetapi, kebijakan impor pemerintahan Jokowi juga tidak membuat industrialisasi di dalam negeri berkembang.

“Karena untuk usaha kecil dan menengah hanya 18 persen, sisanya buat yang besar. Padahal yang besar bisa ngerebutin saham, pinjam di luar negeri,” ungkapnya.

Maka dari itu, Rizal Ramli berharap pemimpin yang akan menjadi presiden ke depan bisa mengubah kebijakan impor yang ada sekarang.

“Kita harus ubah lah. Nanti kita naikin (slot impor) untuk UKM 30 persen. Kalau itu terjadi UKM hidup, walau resesi dunia kita mah happy-happy aja,” demikian Rizal menambahkan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya