Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pengamat: Propaganda AS untuk Memecah China dan Eropa Lewat Isu Pengiriman Senjata ke Rusia, Gagal

SELASA, 07 MARET 2023 | 09:41 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Upaya Amerika Serikat untuk memecah belah hubungan China dan Uni Eropa lewat propaganda bahwa Beijing akan memberi dukungan militer untuk Rusia diyakini telah menemui jalan buntu.

Hal itu, menurut para analis China, dapat dilihat dari respon para pemimpin UE juga klaim pemimpin Jerman yang mengungkapkan jaminan bahwa Beijing tidak akan memberi bantuan senjata ke Rusia.

"Washington menggembar-gemborkan dukungan militer China untuk Rusia berdasarkan kesimpulan yang salah, dalam upaya untuk mendorong perpecahan antara Beijing dan Brussel, tetapi itu pasti akan gagal," kata para analis.


Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Minggu mengatakan ia meyakini China tidak akan memasok Rusia dengan senjata. Ini menunjukkan bahwa Berlin telah menerima jaminan bilateral dari Beijing mengenai masalah ini.

Berbicara pada konferensi pers dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Scholz mengatakan kepada wartawan bahwa UE sejauh ini tidak menerima bukti dari AS bahwa Beijing sedang mempertimbangkan untuk memberikan dukungan mematikan ke Moskow.

Desas-desus tentang dukungan militer China untuk Rusia telah beredar sejak akhir Februari ketika penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jack Sullivan mengatakan kepada CNN bahwa jika China membantu Rusia akan menjadi kesalahan yang buruk.

Sullivan dan Burns mengakui bahwa tidak ada bukti pengiriman peralatan mematikan dari China ke Rusia.

"Kehebohan AS lebih dari sekadar menyimpulkan rasa bersalah tetapi juga pemerasan, yang telah secara serius melanggar hukum normal dan prinsip-prinsip hubungan internasional," kata Gao Jian, direktur Pusat Studi Think Tank Eropa di Universitas Studi Internasional Shanghai, seperti dikutip dari Global Times, Selasa (7/3).

Melalui hype seperti itu, katanya, Washington berusaha merusak reputasi Beijing dan meniadakan posisi konsisten Beijing dalam mempromosikan pembicaraan damai di tengah krisis Ukraina.

Kegagalan propaganda disinformasi AS, menurut Gao, juga dapat dilihat dari rencana kunjungan para pemimpin Uni Eropa ke China di masa depan.

Setelah Presiden Belarusia Alexander Lukashenko melakukan kunjungan kenegaraan ke China dari 28 Februari hingga 2 Maret, Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan akan mengunjungi China pada awal April mendatang.

Selain itu, Duta Besar China untuk Uni Eropa Fu Cong telah mengungkap rencana kunjungan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel pada paruh pertama tahun 2023 dengan persiapan yang sudah berjalan.

Pengamat mengatakan bahwa itu sejalan dengan akal sehat dan berdasarkan sikap yang sebenarnya bagi Eropa untuk mengadopsi posisi yang tidak mengikuti AS secara membabi buta dalam menanggapi desas-desus bantuan senjata China.

"Selama konflik Rusia-Ukraina setahun ini, Eropa adalah salah satu korban paling langsung dari krisis. Sementara AS telah menjadi penerima manfaat terbesar yang sedang dalam perjalanan untuk melubangi Eropa secara ekonomi, militer, dan energi," kata Gao Jian.

Para pengamat menilai, Eropa telah belajar bahwa AS tidak dapat diandalkan untuk benar-benar menyelesaikan krisis Ukraina.

Para analis berkesimpulan, banyak pemimpin Eropa telah mengungkapkan potensi kunjungan mereka ke China dan berharap China dapat memainkan peran positif dalam mempromosikan pembicaraan damai dalam konflik tersebut.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya