Berita

Parade militer di Beijing pada Oktober 2019, terlihat penampakan rudal balistik DF-41/Net

Dunia

Pengamat: Ancaman Asing Meningkat, Wajar Saja China Naikkan Anggaran Militer

SENIN, 06 MARET 2023 | 14:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan Pemerintah China untuk menaikkan anggaran militer tahunannya menjadi 1,55 triliun yuan (setara 224,79 miliar dolar AS) dianggap lumrah oleh sejumlah ahli.

Mereka mengatakan penting melakukan hal itu mengingat beberapa hal seperti peta jalan modernisasi militer yang ditetapkan negara itu, meningkatnya potensi ancaman keamanan di dunia, serta untuk lebih mengoptimalkan kebijakan Covid-19 yang mendorong pertumbuhan ekonomi, dan ada lebih banyak kegiatan diplomasi militer.

Analis juga mengatakan bahwa angka tersebut menandai dorongan yang masuk akal dan terkendali di tengah pengeluaran militer oleh banyak negara lain di dunia sehubungan dengan ketegangan keamanan global.


"Peningkatan anggaran pertahanan sebesar 7,2 persen berarti hanya 0,1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu, dan itu sama sekali tidak tinggi dengan mempertimbangkan kebutuhan pertahanan nasional China dan pembangunan ekonomi," kata Song Zhongping, seorang pakar militer, seperti dilaporkan Global Times, Minggu (5/3).

Ia menambahkan, bahwa dengan tingkat pertumbuhan PDB China pada tahun 2022 sebesar 3 persen, maka pertumbuhan anggaran pertahanan perlu diatur agar terkendali dan masuk akal.

Para analis juga mengatakan bahwa China telah menetapkan target pertumbuhan PDB sekitar 5 persen untuk tahun 2023, yang secara signifikan lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan PDB sebesar 3 persen pada tahun 2022. Ini mencerminkan kepercayaan pada pemulihan ekonomi nasional setelah mengklaim kemenangan dalam melawan epidemi Covid-19.

Kantor Berita Xinhua melaporkan tahun lalu bahwa China bertekad mencapai tujuan seratus tahun Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada 2027, mewujudkan modernisasi pertahanan nasional dan angkatan bersenjata pada tahun 2035, dan sepenuhnya membangun angkatan bersenjata menjadi kekuatan kelas dunia pada pertengahan abad ke-21.

"Untuk memenuhi peta jalan ini, China perlu secara bertahap meningkatkan pengeluaran pertahanannya selama bertahun-tahun sejalan dengan pertumbuhan ekonomi negara itu," kata seorang ahli militer anonim yang berbasis di Beijing.

Dia mengatakan, modernisasi pertahanan nasional terutama terdiri dari pengembangan dan pengadaan senjata dan peralatan baru, pemeliharaan latihan pasukan yang berorientasi pada pertempuran tingkat tinggi yang realistis, serta peningkatan kesejahteraan personel militer.

Sementara itu juru bicara sesi pertama NPC ke-14, Wang Chao mengatakan pengeluaran pertahanan China sebagai bagian dari PDB pada dasarnya tetap stabil selama bertahun-tahun, dan itu lebih rendah dari rata-rata dunia dan peningkatannya sesuai dan masuk akal.

Pengamat mengatakan bahwa anggaran pertahanan China dipertahankan kurang dari 1,5 persen selama beberapa tahun terakhir, sedangkan rata-rata dunia adalah 2 persen, belum lagi angka AS yang mendekati 4 persen.

China, kata para ahli, sebenarnya mampu meningkatkan angka ini menjadi 2 persen, tetapi memilih untuk tidak menaikkan pengeluaran pertahanan secara signifikan dan bertindak dengan cara yang terkendali.

"Ini menunjukkan bahwa pengembangan pertahanan nasional China tepat dan masuk akal, dan negara tersebut tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata dengan siapa pun di jalur pembangunan damai, kata Song. China mengikuti strategi pertahanan nasional yang sifatnya defensif," kata mereka.

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Modal Asing Keluar Rp7,71 Triliun, BI Catat Tekanan di SBN pada Pertengahan Januari 2026

Jumat, 16 Januari 2026 | 08:05

Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Enam Pekan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:56

Kejauhan Mengaitkan Isu Ijazah Jokowi dengan SBY–AHY

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:48

RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Menyandera Lawan Politik

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:40

Jenazah 32 Tentara Kuba Korban Serangan AS di Venezuela Dipulangkan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:33

Bursa Eropa: Efek Demam AI Sektor Teknologi Capai Level Tertinggi

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:16

Emas Tak Lagi Memanas, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Sikap Moderat Trump

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:06

Wajah Ideal Desa 2045

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:50

TPU Tegal Alur Tak Tersangkut Lahan Bersengketa

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:23

Kemenkes Siapkan Rp1,2 Triliun untuk Robotik Medis

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:04

Selengkapnya