Berita

Politikus Partai Republik Marjorie Taylor Greene/Net

Politik

Balon Putih

KAMIS, 09 FEBRUARI 2023 | 04:18 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KALAU pun ada yang membawa balon itu bukan untuk merayakan HUT ke-6 (atau ke-5?) Disway hari ini. Yang membawa balon itu Marjorie Taylor Greene. Warna putih. Dibawa masuk ke gedung DPR Amerika Serikat. Dia pegang tali balon besar itu. Balonnya sendiri menjulang di atas kepalanya.

Semua anggota DPR dan Senat memenuhi ruang sidang kemarin: mendengarkan pidato tahunan State of Union. Marjorie ingin mengejek Presiden Joe Biden dengan balonnyi itu. Biden dianggap lambat mengambil keputusan menembak balon Tiongkok itu.

Balon itu akhirnya memang ditembak jatuh. Dua pesawat tempur AS yang menembaknya dari ketinggian 55.000 kaki. Serpihan balon itu jatuh ke laut dekat pantai selatan Carolina.


"Bukan lambat ambil putusan. Tunggu dulu sampai balon itu bergeser ke timur. Sampai posisinya di atas laut". Begitulah keterangan dari pemerintah Biden. "Kalau ditembak saat masih di atas daratan, khawatir membahayakan penduduk," tambahnya.

Reruntuhan balon itu diambil dari laut. Yang mengambil armada kapal angkatan laut Amerika. Belum ada penjelasan apa saja yang ditemukan di laut dangkal itu. Yang diperlihatkan baru lapisan luar balon warna putih. Dari situ bisa disimpulkan bahwa ukuran tinggi balon tersebut sampai 60 meter.

Kementerian pertahanan Amerika lantas membuat sambungan komunikasi dengan partnernya di Tiongkok. Yang dihubungi tidak mau mengangkat telepon. Tiongkok memang marah kenapa balon itu ditembak jatuh. Tiongkok sudah menjelaskan balon itu berstatus sipil. Untuk ilmu pengetahuan. Khususnya untuk menyelidiki cuaca.

Tiongkok pun mengungkit kejadian tahun 2019. Yakni ketika pesawat pengintai Amerika terbang di atas wilayah Tiongkok. Tertangkap basah. Tiongkok tidak menembak jatuh pesawat tersebut.

Yang dilakukan Tiongkok saat itu: mengirim beberapa pesawat tempur untuk mengapit pesawat pengintai Amerika itu. Lalu memintanya mendarat.

Amerika minta agar pesawat itu dikembalikan. Tiongkok masih belum melepaskannya. Harusnya, kata Tiongkok, Amerika tidak menembak balon itu. Tapi tekanan politik di dalam negeri Amerika luar biasa. "Kalau saja presidennya Donald Trump, balon itu langsung ditembak," ujar Greene.

Rupanya Greene kurang cermat. Di masa pemerintahan Trump diketahui ada tiga balon Tiongkok melintasi Amerika. Tidak ada yang ditembak jatuh. Begitulah media Amerika memberitakan berkali-kali.

Saya pun menghubungi sahabat Disway yang ahli pesawat terbang dan balon udara. Ia tinggal di Alabama, Amerika Serikat. Ia beberapa kali datang ke Indonesia. Termasuk ke rumah saya.

Ia bercerita kini perusahaan pesawat terbang terkemuka, Airbus, juga memproduksi balon.

Anda sudah tahu: Airbus juga punya industri pertahanan dan militer. Yang memproduksi balon udara adalah Airbus yang di bidang pertahanan dan militer.

Pesawat balon udara punya banyak kelebihan dibanding pesawat militer. Tentu ada juga kelemahannya. Ia pun menyarankan agar Indonesia juga mulai melirik balon. Beda dengan pesawat balon bisa tinggal menetap di suatu lokasi. Sampai pun bertahun-tahun.

Ini sangat tepat untuk menjaga laut Indonesia yang begitu luas.
Mengapa balon Tiongkok itu bisa terbang sampai melintasi Amerika? "Banyak hal yang bisa menjadi penyebab. Bisa karena ada masalah di autopilot, engine, dan electrical," katanya. "Bisa juga sensor location-nya error," tambahnya.

Ia mengatakan teknologi balon Tiongkok sudah sangat maju. Di Airbus masih menggunakan bahan bakar fosil. Tiongkok sudah pakai solar cell. "Airbus baru akan memulai dengan solar cell," katanya.

"Di Airbus kini sedang dalam masa peralihan untuk meninggalkan energy fosil  ke energi hidrogen. Tujuannya untuk mengurangi CO2," ujar sahabat Disway itu.
"Langka berikutnya baru menuju ke solar cell. Khususnya di proyek  LTA (Lighter Than Air) yang relatif  lebih kecil kebutuhan energinya," katanya.

Energi yang didapat dari solar cell sama dengan energi yang dipasok dari baterai. Yakni berupa listrik untuk menggerakkan motor seperti di Tesla.

Setidaknya, Amerika kini dapat info itu: teknologi balon Tiongkok sudah menggunakan solar cell. Itu berarti berat balon tersebut sudah sangat minimal. Amerika juga mengetahui bahwa balon tersebut ternyata diluncurkan dari pulau Hainan. Dari sinilah Amerika menduga bahwa balon tersebut ''balon militer yang diberi baju sipil".

Hainan adalah pangkalan angkatan laut Tiongkok yang terbesar.
Di bidang balon pun Tiongkok sudah di barisan paling depan..

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya