Berita

Tersangka pelaku pembunuhan, Wowon Erawan/Net

Publika

Pelaku Serial Killer dari Kampung Babakan Mande

JUMAT, 20 JANUARI 2023 | 12:40 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

KASUS sepele, tiga tewas keracunan di Bekasi, terungkap sebagai pembunuhan berantai. "Ini serial killer," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran kepada pers, Kamis, 19 Januari 2023. Diungkap, delapan korban tewas.

Diungkap polisi, tiga tersangka pelaku pembunuhan sudah ditangkap. Mereka Wowon Erawan (60), Solihin (60) dan Dede Solehudin (57) yang adik Wowon. Kronologi kasus, begini:

Kamis, 12 Januari 2023 lima orang sekeluarga keracunan di rumah mereka di Bantar Gebang, Bekasi. Mereka adalah: Dede Solehudin (57), Ai Maemunah (40), Ridwan Abdul Muiz (18), Muhamad Ruswandi (15) dan anak perempuan NR (5).


Hubungan mereka, begini: Dede adalah adik suami Maemunah bernama Wowon. Sedangkan, Ridwan dan Ruswandi, anak Maemunah dari suami pertama bernama Didin, atau anak tiri Wowon yang merupakan suami kedua Maemunah. NR adalah anak Maemunah dengan Wowon.

Orang pertama yang mengetahui itu, tetangga mereka bernama Ami (60). Mendengar rintihan dari dalam rumah yang tertutup pada pukul 08.00. Ami mengetuk rumah dan memanggil beberapa kali, tapi tidak dibuka.

Ami bersama tetangga mendobrak pintu. Mereka masuk rumah. Tampak seorang lelaki tergeletak di ruang tengah, mulutnya berbusa. Dua lelaki ditemukan di kamar depan. Satu perempuan di kamar belakang. Dan satu bocah perempuan di kamar lainnya.

Ami bertanya ke orang yang masih sadar. Dijawab, mereka sudah lemas sejak makan tadi malam. Tanpa banyak tanya lagi, mereka diangkat para tetangga ke RSUD Kota Bekasi.

Di sanalah tiga tewas, Maemunah, Ridwan dan Riswandi. Dua hidup, Dede dan NR. Mereka yang meninggal dibawa mantan suami Maumunah bernama Didin, ke Cianjur, Jawa Barat, untuk dimakamkan.

Didin mengatakan kepada polisi bahwa ia curiga atas kematian mantan isteri serta dua anaknya, Ridwan dan Riswandi. Sebab, dua motor milik Ridwan dan Riswandi yang dibelikan Didin, hilang dari rumah di Bekasi.

Polisi fokus mencari Wowon. Seolah menghilang. Tidak ada di rumah, juga tidak menghadiri pemakaman isteri serta dua anak tirinya. Setidaknya, Wowon dimintai keterangan. Juga terkait dugaan dua motor yang hilang.

Akhirnya Wowon ditangkap polisi di rumah desanya, di Kampung Babakan Mande, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jabar. Ia dan keluarganya di Bekasi cuma ngontrak.

Wowon di rumah desa Cianjur, punya isteri juga bernama Iis (42). Iis juga tahu bahwa Wowon punya isteri Maemunah (alm), perempuan Cianjur yang diboyong ke Bekasi.

Dulu, Maemunah adalah anak tiri Wowon, atau anak isteri Wowon hasil pernikahan dengan suami sebelum Wowon. Total, Wowon menikahi empat perempuan.

Dalam interogasi awal, Wowon sudah down menghadapi polisi. Tak terlalu lama, Wowon mengakui, meracuni keluarganya. Diinterogasi lebih dalam, ia menyebutkan bahwa pembunuhan itu ia lakukan bersama Solihin, yang tinggal bertetangga di desa Cianjur itu.

Rumah Solihin cuma selemparan batu dengan rumah Wowon. Solihin ditangkap polisi, diinterogasi cross-check, mengakui, sama persis dengan keterangan Wowon.

Polisi melakukan penyelidikan lebih mendalam, juga mengkonfrontir pengakuan para tersangka. Baik Wowon dan Solihin mengaku, pekerjaan mereka sama: Paranormal.

Mereka didesak polisi tentang motif. Dalam interogasi terpisah, akhirnya terungkap, bahwa pekerjaan mereka adalah paranormal spesialis membuat orang jadi kaya. Padahal, mereka sendiri tidak kaya.

Dalam pekerjaan mereka, ternyata banyak pengguna, atau klien, atau pasien, komplain. Karena, pengguna tetap miskin meskipun sudah diterapi dan sudah membayar tarif paranormal kepada mereka.

Ketika interogasi lebih dalam lagi, tersangka Solihin 'menggigit' Dede Solehudin yang adiknya Wowon. Bahwa mereka bertiga berpraktik sebagai paranormal. Dan, selalu dikomplain pengguna yang gagal kaya. Padahal, Dede termasuk korban selamat keracunan.

Akhirnya, motif pembunuhan terhadap tiga orang, ibu-anak-anak, diungkap polisi. Karena keluarga mengetahui lika-liku penipuan para tersangka terhadap pengguna yang gagal kaya, termasuk cara para tersangka mengelabui korban penipuan.

Penyidik melakukan investigasi lebih dalam lagi. Lebih serius lagi. Ternyata, di antara para pengguna, ada yang dibunuh. Satu demi satu korban pembunuhan diungkap polisi.

Alhasil, ada lima orang lain (selain Maemunah, Ridwan dan Riswandi) yang mereka bunuh. Polisi terus melakukan penyelidikan mendalam. Dengan cara menggeledah seisi rumah Wowon dan Solihin di Cianjur. Seluruh areal rumah diselidiki.

Kapolres Cianjur, AKBP Doni Hermawan kepada pers, Kamis, 19 Januari 2023 menyatakan, akhirnya polisi menemukan kuburan empat orang klien Wowon Cs.

Dua orang dikubur di gang sebelah rumah Wowon. Sudah dibongkar polisi. Jenazah sudah diangkat.

Iis (isteri Wowon) dalam interogasi polisi mengatakan, ia tidak tahu bahwa di gang rumah itu ada kuburan. Iis kepada polisi mengaku, pada November 2022 ia tahu Wowon menggali lubang cukup dalam di situ. "Kata suami saya, itu buat lubang septiktank," akunya pada polisi.

Walaupun, posisi lubang kuburan itu agak jauh dengan posisi kamar mandi rumah tersebut. Penyidik masih terus menyelidiki berbagai titik di rumah tersebut.

Kemudian, polisi juga menemukan kuburan dua orang di rumah Solihin. Dibongkar juga. Masih dilakukan penyelidikan lebih teliti di seputar rumah Solihin.

Dalam interogasi silang yang terpisah, antara Wowon dan Solihin, mereka mengakui ada satu mayat lagi yang mereka buang ke laut. Tanggal persisnya pembuangan mayat, mereka sudah lupa.

Total ada lima mayat klien paranormal Wowon-Solihin. Plus tiga mayat keluarga Wowon.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil kepada pers mengatakan: "Ini hasil investigation crime yang sangat teliti. Tapi, merupakan hasil sementara. Tidak tertutup kemungkinan ada korban lain, karena penyidikan masih berlangsung."

Fadil: "Para tersangka melakukan serangkaian pembunuhan, atau yang biasa disebut serial killer dengan motif, maaf, janji-janji yang dikemas dengan kemampuan supranatural, untuk membuat orang menjadi sukses atau kaya."

Lantas, para tersangka menganggap keluarga sendiri sebagai 'penyakit', sebab mengetahui perbuatan penipuan para pelaku, termasuk rangkaian pembunuhan terhadap klien.

Dilanjut: "Jadi, keluarga dekatnya dianggap berbahaya. Karena mengetahui bahwa tersangka melakukan tindak pidana lain dalam bentuk penipuan dan pembunuhan terhadap korban-korban lainnya."

Lantas, mengapa Dede Solehudin ikut diracun, atau percobaan pembunuhan, padahal Dede adalah anggota dari komplotan tiga serangkai paranormal itu?

Jawabnya, polisi menyimpulkan bahwa itulah taktik komplotan ini. Strategi para tersangka penjahat itu mengelabui polisi, dengan cara Dede jadi korban.

Diketahui kemudian, Dede memang keracunan, menelan racun pestisida yang sama dengan para korban lainnya. Tapi, dosis racun yang ditelan Dede tidak signifikan untuk membuatnya mati.

Tak dinyana, warga Kampung Babakan Mande, yang terselip di Desa Gunungsari, Cianjur, itu punya trik kejahatan berliku. Mereka, disebut Irjen Fadil sebagai pelaku serial killer. Yang selama ini hanya ada di film-film Barat.

Istilah 'serial killer', dicetuskan pertama kali oleh Agen Khusus (Special Agent) Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Robert K. Ressler pada 1974 di sana.

Robert K. Ressler dan Thomas Schachtman dalam buku mereka, bertajuk: "Whoever Fights Monsters: My Twenty Years Tracking Serial Killers for the FBI" (New York, 1993) menyatakan:

Istilah 'serial killer' pertama kali diajarkan dalam kuliah di Akademi Kepolisian di Bramshill, Hampshire, Inggris, Januari 1974.

Di situlah dipelajari berbagai teori dan penelitian tentang aneka pembunuhan berantai di Inggris, bahkan negara-negara Eropa. Walaupun, pembunuhan berantai sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya.

Beda antara pembunuhan berantai zaman sebelum Perang Dunia ke-2 dengan di era sesudahnya, adalah teori yang digunakan penyidik kriminal. Jika sebelum PD II, pembunuh berantai dianggap orang gila.

Orang gila, tepatnya pengidap psikopat. Sehingga, sebagian besar pembunuh berantai di masa itu dirawat di RS jiwa, bukan penjara.

Ciri utama seorang psikopat adalah kurang empati. Ciri lainnya, adalah kecenderungan untuk berbohong, dan berbohong jadi kebiasaan, kebutuhan akan sensasi. Seorang psikopat cepat bosan, juga cenderung narsisme. Tetapi kurangnya empati adalah hal utama.

Satu penjelasan umum adalah bahwa psikopat mengalami semacam trauma pada masa kanak-kanak. Antara lain, sejak masa bayi mereka. Akibatnya menekan respons emosional mereka.

Mereka tidak pernah mempelajari respons yang tepat terhadap trauma, dan tidak pernah mengembangkan emosi lain. Itulah penyebab mereka sulit berempati terhadap orang lain.

Mereka tumbuh tanpa mengetahui bagaimana "merasa", dan sebaliknya belajar bagaimana mewujudkan apa yang mereka anggap sebagai emosi atau penampilan emosi yang benar.

Di era sesudah PD II, dianalisis, bahwa pembunuh berantai bukan orang gila. Melainkan orang waras. Bahkan, para pelaku punya strategi pembunuhan yang rumit. Disebut serial killer.

Setelah dipelajari di Inggris, pada awal 1980-an pelajaran itu diadopsi Los Angeles Police Department (LAPD) di AS. Mereka menciptakan sistem Violent Criminal Apprehension Program (ViCAP) pada 1985.

Tak perlu jauh-jauh ke Amerika, dari para dukun desa di Cianjur itu sudah lahir tiga serangkai tersangka serial killer. Yang, mereka masih berstatus tersangka.

Rangkaian kejahatan mereka akan diuji di persidangan, kelak. Pastinya hasil sidang mereka menarik perhatian masyarakat. Juga menambah ilmu buat Polri.

Penulis adalah

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya