Berita

Kapal nelayan China/Net

Dunia

Sering Jarah Ikan, Perilaku China Ancam Ketahanan Pangan Dunia

MINGGU, 15 JANUARI 2023 | 14:49 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Penangkapan ikan ilegal yang kerap dilakukan oleh banyak nelayan China telah menimbulkan ancaman serius terhadap ketahanan pangan negara-negara lain di seluruh dunia.

Pasalnya hingga kini praktik ilegal tersebut tidak dapat dihentikan karena China belum bergabung dengan Perjanjian Tindakan Negara Pelabuhan, yang ditandatangani pada tahun 2009 dan mulai berlaku pada tahun 2016.

Menurut Greenpeace, perusahaan perikanan milik China secara teratur tidak melaporkan ukuran kapal mereka, dan terkadang hingga 60 persen dari mereka mendapatkan lisensi yang lebih murah.


Hal ini memungkinkan mereka mengangkut ikan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang diizinkan di wilayah yang secara resmi disediakan untuk kapal yang lebih kecil.

Menurut The Singapore Post pada Selasa (10/1), kebijakan China ini telah memperburuk penurunan stok ikan global yang lebih luas, yang dieksploitasi pada tingkat yang tidak berkelanjutan.

Dalam beberapa dekade terakhir, konsumsi ikan telah meningkat dua kali lipat dari pertumbuhan populasi per tahun, dari 9 kg per orang pada tahun 1961 menjadi lebih dari 20 kg per orang pada tahun 2016.

Penjarahan stok ikan global yang tidak diatur oleh China dapat menimbulkan ancaman besar bagi mata pencaharian dan ketahanan pangan jutaan orang.

Itu juga akan berdampak besar bagi negara tetangga India, di mana 28 juta warganya bekerja di sektor perikanan dan sebagian besar masyarakat pesisir bergantung padanya.

Meski begitu, apa yang dilakukan China masih tidak dapat dicegah karena negara itu enggan mengikuti aturan yang ada demi kepentingannya.

Ada banyak kasus penting di berbagai negara di mana kapal-kapal China ditahan dan ditemukan membawa stok penangkapan ikan ilegal yang diangkut ke Beijing dengan kapal kargo besar.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya