Berita

Tahlil dalam rangka 100 hari tragedi di Stadion Kanjuruhan/Net

Dahlan Iskan

Tahlil Kanjuruhan

KAMIS, 12 JANUARI 2023 | 04:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA telat tiba di Kanjuruhan  Selasa malam lalu. Sudah pukul 21.00. Acara dengan PM Malaysia Anwar Ibrahim di Jakarta lebih lama dari yang saya duga.

Bulan bulat sudah cukup tinggi di langit Kanjuruhan. Itu purnama ketiga pasca bencana besar 1 Oktober tahun lalu.

Bayangan saya: halaman Kanjuruhan penuh sesak Aremania/Aremanita. Saya akan sulit mencapai panggung di depan. Malam itu hari yang sangat penting: peringatan 100 hari tragedi terbesar ketiga dalam sejarah sepak bola dunia.


Saya kaget: sepi sekali. Nyaris lengang. Tidak sampai 200 orang yang mengelilingi nyala 100 lilin di halaman luas itu.

Saya ketinggalan satu acara: pemutaran thriller film Kanjuruhan. Tapi tahlil dan doa belum dimulai.

Di depan panggung masih tampil Kapolres Malang memberi sambutan. Singkat. Padat. Rendah hati. Minta maafnya berkali-kali. Ia juga masih menawarkan kalau ada suporter Arema yang perlu dibantu pengobatan. Fisik maupun psikis.

Di sebelah saya duduk tokoh sepak bola nasional masa lalu: IGK Manila. Manajer timnas SEA Games 1991. Yang pernah membawa Indonesia juara sepak bola SEA Games 1991.

Setelah itu sepak bola Indonesia tak pernah meraih emas SEA Games lagi. Ia membawa uang kontan Rp 135 juta. Untuk dibagi ke semua keluarga korban Kanjuruhan yang meninggal dunia.

Mengapa sepi? Seperti sebuah antiklimaks?

Acara 100 hari Kanjuruhan ternyata dibagi tiga: di keluarga masing-masing di hari Sabtu malam. Di Kepanjen Minggu pagi: lari bersama. Lalu Senin malam itu: doa dan tahlil.

Tapi ada penjelasan lain dari sahabat Disway di Malang: "Belakangan aksi-aksi terkait Kanjuruhan memang sepi. Kian sepi," ujar Indra.

Beda sekali dengan awal-awal dulu. Demo besar tidak habis-habisnya. Poster dan spanduk di mana-mana. Keranda diusung sambung-menyambung. Mereka prihatin. Protes.

Mengapa gas air mata ditembakkan ke tribun penonton begitu banyaknya. Keadilan harus ditegakkan. Tim pencari fakta harus dibentuk. Yang salah harus diadili. Dalangnya harus diungkap.

Lantas ada yang kian keras dan ada yang kian lemah.  Lama-lama terdengar gerakan itu retak. Lalu pecah. Terbentuk kubu-kubu.

Tersangkanya memang sudah diumumkan: 5 orang. Muncul tuntutan baru: agar pengadilannya dilakukan di Malang.  Tapi itu belum cukup. Tetap ada yang minta dalangnya diungkapkan.

"Kita semua sebenarnya sudah tahu siapa dalang di balik tragedi Kanjuruhan," ujar tokoh Aremania yang hadir malam itu. Ia pun membisikkan satu nama. Saya tidak terkejut.

"Aremania, semua, tahu. Hanya tidak ada yang berani mengatakan," tambahnya.

"Bahkan kami ini tahu siapa yang mengunci pintu stadion dari luar," katanya lagi. "Semoga suatu saat terungkap," tambahnya.

Belakangan ada perasaan pasrah. Setengah frustrasi. Tuntutan-demi tuntutan sudah terlalu sering disuarakan. Terakhir diupayakan lewat penayangan film.

Saya pun membuka link YouTube: ingin melihat film Kanjuruhan di situ. Kelihatannya bagus. Sinematografinya baik sekali. Tapi itu baru thriller 2 menit. Belum tahu kalau sudah seutuhnya nanti.

"Rencananya panjang film 1 jam," ujar dr Dita (dr Nanditya Ika MMRS), produsernya.

Dokter Dita adalah pimpinan rumah sakit Wava Husada Kepanjen. Itulah rumah sakit terdekat dengan stadion Kanjuruhan. Di situlah korban tragedi Kanjuruhan terbanyak ditangani.

"Yang punya inisiatif bikin film ini Abadi Oy. Ia yang menulis skenario dan sutradaranya," ujar dr Dita.

Di film itu nanti tidak digambarkan  peristiwanya. "Ngeri. Bisa trauma," ujar dr Dita. "Film ini akan lebih simbolis," tambahnyi.

Penari topeng terkenal Malang, Dewi, akan jadi bintang utama. Pakai topeng. Itulah benda seni yang paling menonjol di Malang. Tampil juga penari kontemporer Saskia.

Tahlil malam itu masih terasa syahdu. Disaksikan rembulan bulat disapu mendung tipis memutih. Bulan tampak lamat-lamat. Kanjuruhan seperti kian menjauh.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya