Berita

Peluncuran buku "Bela Negara dalam Perspektif Publik" di Kampus Bela Negara, UPN Veteran, Jakarta, Kamis (22/12)/Ist

Politik

Akademisi Diajak Gunakan Paradigma Baru dalam Melihat Ancaman

JUMAT, 23 DESEMBER 2022 | 00:58 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Berpijak pada fakta dan feomena di lapangan, seharusnya para akademisi menggunakan paradigma baru untuk mengaitkan dengan konsep ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan (AGHT).

Kemampuan akademisi dalam menganalisis serta memetakan wujud AGHT yang sesungguhnya melalui paradigma baru itu akan membantu bangsa dan pemerintah Indonesia dalam penyusunan program Bela Negara.

Dalam konteks ini,  sumbangsih para akademisi dengan paradigma baru akan membantu pemerintah dalam menanamkan serta membangun karakter ber-Bela Negara bagi setiap generasinya.


Demikian ditegaskan Taprof Lemhannas RI Bidang Ideologi dan Sosbud, AM Putut Prabantoro, dalam bedah buku "Bela Negara dalam Perspektif Publik" di Kampus Bela Negara, UPN Veteran, Jakarta, Kamis (22/12).

Diskusi menarik yang dipandu oleh Anggi Angga Resti ini juga menghadirkan Ujang Komarudin sebagai pembicara. Pengamat politik ini melihat buku Bela Negara tersebut merupakan karya terobosan para akademisi UPN Veteran Jakarta. Buku tersebut mengkombinasikan antara kekuatan teoritik dan empirik, kata Ujang.

Buku ini juga merupakan penggabungan atau sinergitas antara kekuatan teoritik kekuatan textbook dan kekuatan lapangan. Hasil kerja bersama tersebut membuat buku ini memiliki otoritas yang kuat terhadap keilmuwan tentang Bela Negara.

Dalam pembahasannya, Putut Prabantoro menyoroti beberapa hal yang perlu dilihat dari buku tersebut.  Ia memulai dari cara berpikir serta korelasi antara objek penelitian dan AGHT yang dihadapi berbeda. Upaya Bela Negara dalam menghadapi bentuk AGHT dalam bela negara belum terkonsep dengan strategis.

“Bela Negara hanya konsep ilmu. Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan analisis yang benar dan baik, secara praktis dan teoritis, riset tersebut dapat memetakan AGHT secara nyata.  Jika AGHT dapat dipetakan secara nyata, para peneliti kemudian menarik korelasinya dengan konsep bela negara Indonesia,“ ujar Putut.

Alumnus PPSA XXI itu memberi contoh Covid sebagai AGHT yang harus dilihat dalam penelitian. Dalam studi media, munculnya Covid memancing polemik keras antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara itu mempersoalkan asal muasal Covid dan saling tuduh bahwa Covid itu merupakan senjata biologis yang selama ini dirahasiakan.

Dari sudut AGHT, pertanyaan muncul terkait dengan bencana nonalam itu. Pertanyaannya adalah apakah Covid itu merupakan senjata biologis ataupun merupakan medan perang ?

Dijelaskan lebih lanjut oleh Putut Prabantoro, jika dilihat dari dampak serta korban yang ditimbulkan, pandemi Covid merupakan perang. Jika dilihat Covid itu merupakan senjata biologis, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya perang yang sesungguhnya akan terjadi jika Covid merupakan senjata biologis.

“Oleh karena itu, dalam konteks ini para akademisi dituntut memiliki paradigma yang baru dalam mengartikan AGHT dengan berangkat dari fenomena-fenomena yang baru. Lalu apa yang akan terjadi, jika perang antara Ukraina dan Rusia membesar serta diperluas. Bentuk bela negara seperti apa yang harus diberikan kepada bangsa Indonesia,“ tegasnya.

Sementara, bagi Ujang Komarudin, buku yang dihasilkan Pusat Kajian Bela Negara UPN Veteran Jakarta merupakan suatu keuggulan. UPN Veteran mampu menghadirkan buku yang berkualitas.

Namun sebagai akademisi, Ujang Komaruddin menegaskan buku tersebut harus memiliki "roh" yang dihasilkan dari perdebatan intelektual ataupun diskursus perdebatan ideologis dalam buku tersebut.  Buku ini akan kaya analisa masa depan ketika ada ruang perdebatan yang muncul di antara para akademisi.

"Buku ini merupakan sebuah kontribusi nyata dalam penelitian. Namun agar menarik untuk dibaca, karya hebat ini seharusnya mempunyai roh, memiliki jiwa, punya sinar, sehingga buku ini memang menjadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan intelektual maupun mahasiswa. Roh itulah menjadi objek bagi pembaca untuk dapat mengakses dan menyelami secara lebih dalam,“ tegas Ujang Komarudin.

Masih menurut Ujang Komarudin, sebuah buku harus memiliki jiwa di dalamnya agar dapat hidup dan memberikan semangat juang. Buku ini mempunyai kekhasan atau keunggulan yaitu dari hasil konstruksi berbasis data riset fakta sosial. Mampu memadukan realita yang ada di masyarakat dan digabungkan dengan teoritis yang ada yaitu dunia akademik dan dunia ilmiah.

Namun perdebatan ideologi belum terlihat, survey yang dilakukan dinilai baik namun fenomena berbeda, survey bersifat objektif dan independen.

"Produk buku harus ada pembandingnya dengan buku lain sebagai second opinion. Karya buku lain yang berkualitas dapat menjadi benchmark bagi UPN Veteran Jakarta sebagai kampus bela Negara, dan menjadi karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tegas Ujang Komarudin.

Buku yang diterbitkan oleh Nusantara Publishing ini merupakan hasil riset para dosen UPN Veteran Jakarta. Yakni Anwar Ilmar, Asep Kamaluddin Nashir,  Chairun Nisa Zempi, Danis TS Wahidin, Kusumajanti, Laode Muhamad Fathun, Munadhil Abdul Muqsith,  Ridwan, Rizky Himawan, dan Azwar yang juga sebagai editor serta Kata Pengantar oleh Erna Hernawati (Rektor UPN Veteran Jakarta 2018-2022).

Hadir dalam peluncuran tersebut antara lain Danis Tri Saputra, Radita Gora, dan Windiadi Yoga yang semuanya dari Pusat Kajian UPN Veteran Jakarta.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya