Berita

Petugas medis melakukan tes asam nukleat di komunitas di Zhengzhou, Provinsi Henan, China Tengah, pada 5 November 2022/Net

Dunia

Banyak Diprotes, China Janji Tidak akan Terlalu Lebay dalam Tindakan Pencegahan Covid-19

SENIN, 07 NOVEMBER 2022 | 15:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah daerah China terus berupaya memperbaiki respon mereka yang dianggap para pengamat terlalu berlebihan di tengah melonjaknya angka kasus baru Covid-19.

Daratan China melaporkan 526 kasus yang dikonfirmasi dan 3.894 kasus tanpa gejala pada Sabtu, menurut data yang dirilis oleh Komisi Kesehatan Nasional pada Minggu (6/11) waktu setempat.

Mengingat situasi epidemi yang masih parah selama musim dingin yang dibarengi risiko influenza, para ahli China juga menyerukan langkah-langkah yang lebih ilmiah untuk memerangi virus dan meminimalkan dampak pada kehidupan dan pekerjaan.   


Pada konferensi pers 'Mekanisme Pencegahan dan Pengendalian Bersama Dewan Negara' baru-baru ini, para pejabat menegaskan kembali kepatuhan terhadap strategi nol-Covid yang dinamis. Pejabat juga mengkritik tindakan anti-epidemi yang berlebihan dan memukul rata selama wabah baru-baru ini di beberapa tempat, seperti Zhengzhou di Provinsi Henan, China Tengah.
Sementara itu, otoritas Zhengzhou meminta maaf pada konferensi pers pada Minggu atas dampak tindakan manajemen epidemi berlebihan yang dibawa ke kehidupan dan pekerjaan penduduk setempat. Untuk itu mereka berjanji memperbaiki tindakan pencegahan berlebihan.

Di hari yang sama, pihak berwenang di Hohhot di Daerah Otonomi Mongolia Dalam China Utara. Dalam pernyataannya mereka mengatakan telah meninjau penerapan langkah-langkah anti-epidemi di kota itu dan meningkatkan layanan selama epidemi. Mereka juga telah melarang penggunaan kunci, gerendel, dan baut dalam menyegel apartemen di area berisiko tinggi.

Praktik anti-epidemi yang tidak tepat melanggar semangat pencegahan dan pengendalian epidemi yang ilmiah, akurat, dan efisien tinggi. Mereka adalah masalah serius formalisme dan birokratisme.

"China akan meningkatkan tingkat pengendalian dan pencegahan epidemi ilmiah dan dengan tegas memperbaiki tindakan berlebihan dan meminta pertanggungjawaban mereka yang gagal menerapkan perbaikan penuh sesuai hukum," kata pejabat dari Mekanisme Pencegahan dan Pengendalian Gabungan Dewan Negara pada konferensi pers hari Sabtu, seperti dimuat Global Times.

Zhang Yuexin, seorang spesialis anti-epidemi, mengatakan bahwa saat menghadapi wabah, sejumlah pemerintah daerah mengambil pengendalian anti-epidemi sebagai prioritas utama mereka dan mengambil langkah-langkah berlebihan yang telah menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat, misalnya, beberapa orang mengeluh secara online bahwa mereka kesulitan membeli makanan dan perlengkapan hidup sehari-hari dan menemui dokter.

"Perilaku seperti itu menempatkan kereta di depan kuda, yang harus diperbaiki," kata Zhang.

Pengamat mengatakan, pemerintah daerah harus belajar dari konferensi pers hari Sabtu bahwa tiga tahun setelah pandemi Cobid-19, masyarakat sangat membutuhkan keseimbangan antara manajemen epidemi dan kehidupan sehari-hari yang normal.     

Mereka mengatakan bahwa China pasti akan melanjutkan upayanya untuk mencegah wabah skala besar. Ini, kata mereka, bukan hanya tugas pemerintah daerah, tetapi juga keinginan masyarakat.

Tetapi manajemen anti-epidemi tidak hanya sama dengan mengharuskan orang untuk tinggal di rumah dan mengendalikan area yang luas. Praktik ini tidak hanya tidak ramah bagi masyarakat, tetapi juga akan merusak ekonomi lokal, catat para pengamat.

Mereka mengatakan bahwa di bawah panduan strategi dinamis nol-Covid, langkah-langkah anti-epidemi pemerintah daerah akan menjadi semakin ilmiah dan tepat, ketika mereka bergerak untuk memerangi kebangkitan baru.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya