Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

China Tak Sanggup Lagi Meluncurkan Bantuan, Negara-negara Afrika Terjebak dalam Lingkaran Utang

SABTU, 05 NOVEMBER 2022 | 07:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tingkat pertumbuhan di kawasan Afrika memburuk. Bank Dunia baru-baru ini  meninjau prospek pertumbuhan ekonomi untuk Afrika Sub-Sahara (SSA) menjadi 3,3 persen pada tahun 2022 dari proyeksi awal 3,6 persen. Ini terjadi bukan saja karena perlambatan pertumbuhan global dan krisis yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina, tetapi juga karena China mulai menunjukkan keengganannya untuk memberikan dukungan keuangan.

Kepala ekonom global di Renaissance Capital Ltd, Charles Robertson, mengklarifikasi bahwa penurunan China akan memperlambat pertumbuhan di kawasan itu, hal yang membuat para investor kecewa, yang pada akhirnya membuat negara-negara Afrika merasa mereka telah terjebak dalam  lingkaran utang China.

"China menunjukkan keengganan dalam memberikan dukungan keuangan kepada mereka dan analis diplomatik menggambarkan langkah ini sebagai tren yang mengganggu,"  tulis seorang pengamat, Federico Giuliani, di Inside Over, dikutip dari ANI News.


Tahun-tahun awal saat China memulai proses pinjamannya, Afrika hanya memiliki 25 persen dari negara-negara yang berisiko tinggi mengalami kesulitan utang. Saat ini, ketika 'jebakan China' memerangkapnya, presnetase itu naik menjadi 60.

Perusahaan asuransi Jerman Allianz dan anak perusahaan asuransi kreditnya Euler Hermes mengungkapkan temuan yang mengganggu pada November 2020, di mana pada dekade mendatang, China mungkin tidak lagi dapat menyediakan Afrika dengan jumlah pendanaan yang sama, dalam bentuk pinjaman, investasi , dan perdagangan, seperti di masa lalu.

China memiliki beban utang yang berat, kata Hermes. Keseluruhan utang China menurut laporan tahun 2020, meningkat dari 45 persen pada 2013, menjadi 63 persen pada akhir 2019.

China telah melakukan investasi signifikan di negara-negara asing untuk mengamankan pasokan dan mempromosikan ekspornya. Terlebih lagi, negara tersebut membeli setengah dari bahan baku dunia, seperti dilaporkan Inside Over.

Selain perang dagang dengan Amerika Serikat, ada dua alasan di balik pergeseran ini.

Pertama, keputusan Partai Komunis China, yang didorong oleh Presiden Xi Jinping, untuk mengubah model pertumbuhan negara menjadi apa yang disebutnya sebagai strategi "sirkulasi ganda".

Idenya adalah memprioritaskan pasar domestik untuk mengurangi ketergantungan negara pada impor sambil mempertahankan pangsa pasar ekspornya.

"Pemfokusan ulang ini diharapkan dapat membantu mengurangi arus kas keluar," menurut laporan tersebut.

Kedua, mesin ekonomi China akan terus mengalami perlambatan sistemik dan melihat laju pertumbuhannya berkurang dari 7 persen yang diamati setiap tahun di tahun 2010-an menjadi sekitar 3,8 persen.  Pergeseran ini akan semakin membebani aktivitas pinjaman dan investasi luar negeri China.

Ini akan berdampak buruk pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada khususnya.

Sri Lanka yang menghadapi krisis ekonomi terburuk telah mulai merestrukturisasi pembicaraan dengan China. Sementara utang luar negeri Nigeria kepada China berada pada angka 83,57 persen dari total utang bilateral pada 30 Juni 2022, dengan total 3,9 miliar dolar AS, naik 12,7 persen dari 3,5 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu, menurut data dari Debt Management Office (DMO).

Boston University Global Development Policy Tengah mencatat 10 besar negara Afrika yang menerima pinjaman China dari tahun 2000 hingga 2020 di antaranya Angola, Ethiopia, Zambia, Kenya, Mesir, Nigeria, Kamerun, Afrika Selatan, Republik Kongo, dan Ghana.

Analis memandang, China telah menghancurkan kehidupan jutaan orang Afrika yang selama ini bergantung pada China untuk pembangunan infrastruktur.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya