Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Peran Kepemimpinan Politik di Ruang Kesehatan

RABU, 02 NOVEMBER 2022 | 08:25 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

TERKORELASI! Kepemimpinan politik dan kesehatan, menjadi dua hal yang saling terkait satu dengan lainnya. Keduanya menjadi frasa terhubung, untuk memastikan terpenuhinya hajat kesehatan dalam kehidupan publik.

Status pandemi dan varian mutasinya belum juga usai dan dicabut, namun masalah kesehatan baru kembali muncul. Sebut saja, problem gagal ginjal akut anak, bertambahnya penyakit non degeneratif akibat gaya hidup, termasuk potensi ancaman penyakit menular akibat perubahan iklim.

Bersamaan dengan proses pemulihan pasca pandemi, krisis kembali menghampiri dunia dalam bentuk kenaikan harga energi, serta hantaman gelombang ekonomi dan keuangan yang melanda. Hal itu menambah suram prospek kondisi tahun depan, sebagian bahkan memprediksi situasinya akan “gelap”.


Dengan begitu, ilustrasi yang akan kita hadapi bila proyeksi tersebut menjadi realita, adalah peliknya pengelolaan persoalan publik, ditengah dinamisnya berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk di antaranya pada sektor kesehatan. Di mana persoalan hidup dan mati, ada dalam makna sebenarnya.

Lantas bagaimana melihatnya dalam teropong politik? Bukankah fase 2023 adalah periode tahun politik, karena hangatnya medan magnet kontestasi bahkan sudah terasa sejak saat ini. Para elite dan partai tengah sibuk memoles diri, menyiapkan citra dan mulai mengusung kandidat.

Padahal yang perlu dikedepankan semestinya, adalah ide dan konsep gagasan yang hendak ditawarkan untuk mengatasi masa suram penuh kegelapan di tahun mendatang.

Bisa jadi, guncangan dunia masih akan berlanjut, tanpa pernah bisa tebak kapan akan berakhir. Penuh misteri dan berdialektika.

Di saat riak gelombang tersebut terjadi, maka kebutuhan akan pemimpin yang memiliki kemampuan adaptif dan lincah serta penuh visi menjadi diperlukan. Kriteria penting dari kepemimpinan adalah moralitas dan integritas, didalamnya memuat kapasitas plus kompetensi guna merumuskan solusi.

Pemimpin jelas bukan merujuk pada satu sosok individu, seolah tanpa memandang kurang lebihnya, melainkan kumpulan kriteria kualitas. Bila demikian, kita akan terlepas dari jebakan untuk mendukung membabi buta pada figure tertentu, yang bisa jadi belum memperlihatkan karakter dasarnya.

Sang Pemimpin Politik

Lalu bagaimana mendefinisikan peran kepemimpinan politik untuk sektor kesehatan? Singkatnya diperlukan komitmen yang lebih dari sekadar memadai, melainkan yang bersungguh-sungguh untuk bisa menempatkan persoalan kesehatan sebagai fokus agenda kerja.

Selama ini, pada setiap pesta demokrasi, sirkulasi kepemimpinan hanya berorientasi pada pencapaian fisik. Pembangunan infrastruktur jauh melampaui, kepentingan pembangunan manusia. Pilihan tema pembangunan dibentuk sebagai modal pemilihan periode selanjutnya, meninggalkan elemen manusia.

Merujuk penelitian yang dirilis Komisi Lancet, 2015, dalam proyeksinya atas kebutuhan pemenuhan tindakan bedah di seluruh dunia, sesungguhnya menjadi sebuah bagian dari upaya yang serius, untuk menerjemahkan agenda kesehatan, kesejahteraan dan pembangunan ekonomi suatu negara.

Hal yang serupa juga disampaikan pada hasil kajian Quan Lu, dkk, 2020 terkait respons kebijakan sosial pada krisis Covid-19 di China, bahwa keberhasilan untuk mereduksi penularan pada periode pandemi menjadi langkah strategis yang dilakukan sebagai bentuk intervensi, guna memastikan terpenuhinya jaminan kesejahteraan bagi publik.

Pada temuan serupa, Epsy Campbell Barr & Michael Marmot, 2020, menyampaikan pada kasus keberhasilan Kosta Rika pada indeks peningkatan harapan hidup yang tertinggi di kawasan Amerika Tengah dikarenakan berbagai bauran kebijakan yang diambil terkait kepentingan publik.

Di antaranya, (i) realokasi anggaran pertahanan, (ii) penciptaan sistem kesehatan universal dengan pembiayaan negara, (iii) penguatan sistem pendidikan untuk keluar dari kemiskinan. Semua hal tersebut dipengaruhi oleh kepemimpinan politik yang kuat.

Dengan begitu, kemampuan sebuah negara untuk bisa bertransformasi menjadi negara sejahtera, akan sangat terkait dari bagaimana para pemimpin politik yang terpilih melalui arena panggung politik mampu menyatakan keberpihakan bagi kepentingan publik.

Esensi utama dan terpenting adalah menempatkan dimensi manusia sebagai poros pembangunan, dan bukan sekadar pelengkap program dari keberjayaan pencapaian fisik pembangunan. Pada persoalan yang menyangkut hajat publik lah ujian bagi kepemimpinan dimunculkan.

Bukan sekadar komitmen yang disuarakan, melainkan menjadi kebijakan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh untuk kebaikan bersama, maka disitulah kemerdekaan menjadi penting sebagaimana disebut Bung Karno sebagai jembatan emas dengan dua percabangan, berakhir dalam keselamatan, atau sampai kepada kesengsaraan semata.

Dengan begitu, semua kemungkinan dan ketidakpastian akan dapat dituntaskan ketika para pemimpin memiliki kebulatan tekad untuk menghantarkan kesejahteraan bersama, bukan janji semata atau hanya menjadi retorika rekayasa di panggung sandiwara yang penuh pencitraan.  

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya