Berita

Puan Maharani, Megawati Soekarnoputri dan Ganjar Pranowo/Net

Politik

Manuver Ganjar Berujung Teguran Lisan, Pengamat: Oligarki Coba Tekan Megawati Tentukan Capres

SELASA, 25 OKTOBER 2022 | 16:56 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Perbedaan sikap PDI Perjuangan terhadap Dewan Kolonel dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memunculkan tafsir politik yang menarik.

Dewan Kolonel yang terdiri dari beberapa anggota DPR fraksi PDIP pendukung Puan diberi sankki peringatan keras karena bekerja untuk pencalonan Puan Maharani calon presiden (Capres) 2024.

Ganjar sendiri menjalani panggilan wajib pada Senin (24/10) karena menyatakan siap Nyapres saat menjadi narasumber di salah satu tv swasta nasional. Berbeda nasib dengan Dewan Kolonel pendukung Puan, Ganjar justru hanya mendapat peringatan lisan atas apa yang disampaikan itu.


Merespons hal itu, Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab menilai kelompok oligarki sedang menekan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk meloloskan calon presiden (Capres) tertentu di 2024.

Oligarki, kata Fadhli, nampaknya akan berusaha merebut wewenang Ketum PDIP dalam menentukan sikap politik terkait Capres yang akan diusung pada Pilpres 2024.

Pendapat Fadhli itu ia dasarkan pada berbagai rangkaian manuver politik belakangan ini. Termasuk, soal perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode dan penundaan Pemilu 2024 yang pernah berhembus.

Fadhli menilai, narasi dan opini yang dibangun itu  cenderung mencederai nilai-nilai UUD 1945.

"Manuver kelompok oligarki untuk meloloskan maksud mereka di 2024 semakin menguat, setelah gagal mendorong masa jabatan presiden tiga periode, kini, mencoba menekan Megawati, selaku pemegang hak prerogatif menentukan Capres PDIP," demikian analisa tertulis Fadhli kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (25/10).

Lebih lanjut, Fadhli menjabarkan sejumlah indikasi lain peran oligarki dalam memuluskan proyek suksesi Capres tertentu. Diantaranya soal pernyataan Ganjar Pranowo yang siap menjadi presiden di 2024.

"Ada narasi bahwa PDIP akan keok jika tidak dukung Ganjar, hingga pernyataan Ganjar siap diusung sebagai Capres tanpa sepengetahuan dan izin partai di salah satu stasiun TV swasta adalah indikasi rangkaian manuver tersebut," terangnya.

Narasi-narasi yang dibangun menurut Alumnus UIN Jakarta itu jelas sebuah tekanan simbolik yang ditujukan kepada PDIP.

"Itu bentuk tekanan. Yang terbangun seolah-olah PDIP besar karena seorang figur tertentu, bukan karena kerja-kerja kolektif mesin partai dari level terbawah," jelasnya.

Padahal, menurutnya kemenangan PDIP di dua Pemilu sebelumnya merupakan hasil kerja bersama dengan azas gotong royongnya PDIP.

Selain itu, Fadhli berpendapat, PDIP bisa memenangkan Pemilu 2024 bukan karena faktor orang perorang atau tokoh tertentu.

"Naif kalau disebut kalau bukan Ganjar PDIP keok," pungkasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya