Berita

Seorang pasien berada di dalam kelambu, di bangsal demam berdarah dan malaria Rumah Sakit Layanan Pemerintah Sindh di Karachi, Pakistan/Reuters

Dunia

Dilanda Malaria, Pakistan Beli 6,2 Juta Kelambu Nyamuk dari India

RABU, 12 OKTOBER 2022 | 11:00 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah Pakistan akan membeli 6,2 juta kelambu dari India, setelah malaria dengan cepat menjangkit ribuan anak-anak di negara tersebut, yang diakibatkan dari banjir dahsyat yang terjadi selama berbulan-bulan lalu.

"Malaria menyebar dengan cepat di 32 distrik yang terkena banjir di negara itu di mana ribuan anak terinfeksi penyakit yang dibawa oleh nyamuk," kata pejabat kesehatan Pakistan, yang dimuat Ani News pada Rabu (12/10).

Para pejabat Pakistan mengatakan, munculnya malaria di daerah yang dilanda banjir telah memaksa kementerian kesehatan negara mengajukan permohonan izin pada bulan lalu untuk membeli kelambu dari India. Dana dari pembelian kelambu ini rencananya akan turut dibantu oleh Global Fund lewat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


"Global Fund akan menyediakan sumber keuangan untuk WHO, untuk pengadaan kelambu dari India untuk korban banjir di Pakistan," tambahnya.

Jaring nyamuk ini dibutuhkan masyarakat Islamabad secepatnya untuk menghindari lebih banyak lagi orang-orang yang akan terjangkit malaria, pemerintah Pakistan lebih lanjut berharap bahwa kelambu sudah dapat diterima oleh mereka pada pertengahan November mendatang, melalui rute pengiriman di Wagah.

Sementara itu pada bulan lalu, WHO telah memperkirakan bahwa akan ada potensi bencana kedua yang terjadi di Pakistan karena gelombang penyakit. Mereka menyatakan keprihatinannya yang mendalam, dan telah memberikan bantuan-bantuan untuk menurunkan risiko penyakit.

Di samping itu, pada awal bulan ini, PBB juga telah meluncurkan imbauan kilat anggaran yang direvisi sebesar 816 juta dolar (Rp 12 triliun)  untuk menanggapi kebutuhan orang-orang yang terkena dampak banjir Pakistan. Peningkatan anggaran ini telah mencerminkan bahwa ada peningkatan kebutuhan dan skala kehancuran yang parah, yang belum pernah terjadi sebelumnya di Pakistan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya