Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Aktivis: Junta Myanmar Gunakan Registrasi Kartu SIM untuk Melemahkan Gerakan anti-Junta

SELASA, 04 OKTOBER 2022 | 12:38 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Baru-baru ini militer junta mewajibkan seluruh masyarakat Myanmar untuk mendaftarkan identitas mereka di dalam kartu SIM ponsel. Hal ini diduga merupakan salah satu upaya rezim untuk melemahkan pergerakan anti-junta dengan memanfaatkan data pribadi mereka.

Begitu yang dikatakan oleh para pengamat dan aktivis pro-demokrasi Myanmar pada Senin (3/10), yang dimuat RFA News. Pengamat dan aktivis lebih lanjut mengatakan bahwa kebijakan baru tersebut akan digunakan untuk melacak perangkat para pembangkang politik, dan akan memberikan kemudahan bagi otoritas junta untuk melakukan penangkapan.

“Mereka (junta) mengatakan hal semacam ini demi keamanan rakyat, tetapi jelas bahwa mereka tidak peduli tentang itu. Ini hanya upaya untuk memfasilitasi penemuan, penangkapan, dan penindasan mereka yang terlibat dalam aktivitas perlawanan,” kata seorang aktivis gerakan perlawanan, yang berbicara dengan syarat anonim.


Pada 19 September kemarin, Departemen Pos dan Telekomunikasi di bawah Kementerian Perhubungan dan Komunikasi junta mengumumkan kembali bahwa mereka akan membatalkan semua kartu SIM yang belum terdaftar dengan kartu identitas nasional, dan akan menyita sisa saldo pada kartu yang belum diidentifikasi.

Anggota perlawanan mencatat bahwa desakan ini merupakan upaya untuk mempersempit gerakan perlawanan, serta memudahkan junta untuk mengidentifikasi pengguna kartu SIM tertentu jika pihak berwenang menerima laporan tentang aktivitas perlawanan.

Pengguna ponsel di Myanmar saat ini disebut tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kebijakan tersebut, meskipun mereka mengetahui bahwa data mereka tidak lagi aman di bawah kebijakan ini.

Mereka akan menggunakan layanan penyedia telekomunikasi yang ada seperti MPT, Mytel, Oredoo dan Atom yang dikendalikan secara resmi oleh junta dan atau yang bersekutu dengannya. Sebab, perusahaan telekomunikasi lainnya telah menutup operasinya sejak pemerintahan Myanmar di bawah kepemimpinan rezim junta militer.

Menurut seorang analis politik, Sai Kyi Zin Soe mengatakan bahwa sistem pendaftaran baru ini akan membahayakan bagi seluruh para aktivis dalam melakukan aktivitas mereka.

“Ini sangat berbahaya bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan anti-junta,” katanya.

Sementara itu menurut Direktur Jenderal Departemen Pos dan Komunikasi Myanmar, Myo Swe, yang sekarang berada di bawah kendali junta telah menepis kekhawatiran masyarakat tentang sistem pendaftaran kartu SIM yang baru.

“Ini prosedur biasa. Kami (hanya) cross check informasi pengguna ponsel dengan yang ada di database keimigrasian. Kami membuat pengumuman ini agar pengguna dapat mendaftar lebih akurat. Proses ini pada akhirnya akan memungkinkan transaksi yang lebih lancar menggunakan keuangan seluler dan layanan lainnya,” ujarnya.

Namun ketika ditanya lebih lanjut tentang apakah peraturan itu dibuat untuk mencegah kegiatan perlawanan dari para aktivis anti-junta, Myo Swe menolak berkomentar.

Hampir setahun setelah militer merebut kendali pemerintahan di Myanmar pada kudeta 1 Febuari 2021 lalu, banyak operator telekomunikasi yang telah menutup operasinya akibat pembatasan serta kontrol ketat yang dilakukan oleh junta.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Polisi seperti Tidak Mampu Tangani Begal

Minggu, 24 Mei 2026 | 06:05

Klub Milik Kaesang Turun Kasta

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:27

Hormati Ritual Haji, Trump Tunda Serang Iran

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:14

Jokowi Tak Pernah Diperiksa APH Meski Namanya Sering Disebut Pejabat Korupsi

Minggu, 24 Mei 2026 | 05:11

Kritikan Anies ke Prabowo Bagai Oase

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:26

Terkecuali Amerika

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:14

Amien Rais: Jokowi Lapar dan Haus Kekuasaan

Minggu, 24 Mei 2026 | 04:03

Wamen ESDM Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik Pascablackout di Sumatera

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:38

Publik Diajak Peduli Alam dan Satwa Lewat Kompetisi IAPVC 2026

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:32

Modus Aseng "Menaklukan" Aparat agar Tambang Ilegal Tak Tersentuh Hukum

Minggu, 24 Mei 2026 | 03:01

Selengkapnya