Berita

Unjuk rasa yang dilakukan komunitas Uighur di Wina, Austria/Net

Dunia

Uighur: Dengan Dalih Lockdown Covid-19, China Bikin Warga Turkestan Timur Kelaparan Massal

MINGGU, 18 SEPTEMBER 2022 | 11:39 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Unjuk rasa yang dilakukan oleh komunitas Uighur di Austria terus berlangsung, seiring dengan belum berakhirnya kebijakan lockdown Covid-19 yang diberlakukan oleh China di wilayah Turkestan Timur.

Unjuk rasa dilakukan dari jalan Christian-Broda-Platz ke Heldenplatz di Wina sembari membawa foto-foto orang Uighur yang terbunuh oleh pemerintah China. Mereka mengangkat slogan-slogan menentang pelanggaran hak asasi manusia dan genosida yang dilakukan Partai Komunis China.

Para pengunjuk rasa mengatakan, China telah menyebabkan kelaparan massal di Turkestan Timur dengan dalih penguncian. Banyak warga Uighur yang "dipenjara" di dalam rumah tanpa makanan dan bantuan medis apa pun.


“Pemerintah China, dengan dalih penguncian Covid, telah menjebak penduduk di rumah mereka, meninggalkan mereka dalam keadaan kelaparan,” ujar Presiden Diaspora Uyghur di Austria, Mevlan Dilshat yang memimpin aksi demonstrasi, seperti dikutip dari The Print, Minggu (18/9).

Upaya ini dianggap oleh aktivis Uyghur sebagai cara baru pemerintah China dalam memusnahkan ras tersebut dengan menguncinya di rumah selama berminggu-minggu dalam keadaan kelaparan massal yang menyebabkan meninggal dunia.

Ratusan video viral yang menunjukkan keadaan keluarga-keluarga di seluruh Turkistan Timur yang menderita kelaparan telah beredar di media sosial. Dalam video tersebut, mereka memohon kepada pemerintah China untuk ke luar rumah demi membeli makanan.

Akan tetapi sejauh ini tidak ada tindakan apa pun yang dilakukan dari pemerintah asing atau organisasi internasional untuk mengatasi masalah tersebut.

Selama lebih dari 70 tahun, orang-orang Turkistan Timur telah menderita pembantaian, genosida, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya di bawah otokrasi China.

Sejak 2014, pemerintah China, di bawah administrasi Sekretaris Jenderal Partai Komunis China (PKC) Xi Jinping, telah menerapkan kebijakan yang memenjarakan lebih dari satu juta Muslim di kamp-kamp interniran tanpa proses hukum apa pun.
 
Ini adalah penahanan etnis dan agama minoritas terbesar sejak Perang Dunia II.  Namun, China secara terbuka terus menyangkal telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya