Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Siapa Membunuh Putri (4)

RABU, 07 SEPTEMBER 2022 | 04:20 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

”HEI, Dur. Selamat, ya…,” kata Bang Ado, berdiri menyalami dan memberi selamat pada saya.  Bang Ado, kurang lebih seusia Bang Eel.

Sebelum menjadi GM dia juga wartawan. Orangnya tenang. Administrasinya rapi. Dalam hal keuangan pun dia ketat. Bukan pelit, tapi rasional. Itu yang membuat ”Metro Kriminal” berkembang bagus sejak tahun pertama. Meski lambat dalam hal kenaikan oplah. 

”Kapan berangkat ke Medan, Bang?” tanyaku. Aku tahu dari Bang Eel, Bang Ado dapat tugas baru bikin koran di ibu kota Sumatera Utara itu. Tugas yang berat dan menantang. Di sana sudah ada tiga koran besar yang berusia lama, dengan segmen pembaca yang loyal. 


”Dua hari lagi. Saya sebenarnya agak ragu menerima tawaran ini, tapi bagaimana bisa menolak. Di grup kita ini perintah ya perintah. Harus patuh. Lagian kalau aku tak ke Medan, Eel tak naik, kau pun tak akan dipromosikan secepat ini,” kata Bang Ado.  

Kami bicara macam-macam, sedikit sejarah ”Metro Kriminal” di mana dia bisa disebut sebagai perintisnya, dan rencana lain tapi belum terlalu pasti, rencana bikin satu koran lain lagi di kota kami.  Itu, kata Bang Ado, tergantung perkembangan ”Metro Kriminal”.  

”Kalau oplah kita sudah 30 ribu, bisa pasang mesin yang lebih besar, nah, biasanya kita akan buka koran baru, supaya mesin efisien,” kata Bang Ado.  ”Metro Kriminal” dimulai dengan lima ribuan.

Dua tahun pertama oplah hanya berkisar di antara angka itu. ”Waktu kau masuk itu oplah kita sekitar tujuh ribu. Dalam enam bulan, karena berita Sandra itu, kita bisa sampai 15 ribu sekarang,” kata Bang Ado.

 â€Benar-benar karena berita itu, Bang?”
”Iyalah, karena apa lagi? Jualan koran ini kayak pisang goreng, kalau enak, orang datang membeli. Kalau nggak menarik, dingin, ya disorong-sorong ke muka orang juga nggak ada yang mau. Sederhana saja, kok.”

Saya mengangguk-angguk saja. Lumayan dapat sedikit tambahan wawasan pemasaran. Bang Eel pernah mengajari saya tentang perumpamaan juru masak itu. Reporter belanja bahan, redaktur yang masak, redpel yang mengatur penyajiannya dan merencanakan besok mau memasak apa lagi.

Saya sekarang ada di posisi pengatur penyajian dan perencanaan.  Kalau bahannya bagus, masaknya enak, disajikan bagus, pasti laris, kata Bang Eel. 

Di ruangannya, hari itu, Bang Ado juga memberi saya SK jabatan baru.  Ditandatangani oleh CEO. Bangga juga rasanya. Saya melihat ke angka gajinya, itu lebih penting.  Tidak besar, tapi tidak juga kecil. Jadi wartawan tak membuatmu kaya, tapi tak akan bikin kamu miskin juga, kata Bang Eel suatu hari.   

Angka gaji itu menari-nari di dalam kepala saya, membuat saya berhitung, sepertinya sudah bisalah saya berpikir untuk menikah. Ini kota yang berbahaya kalau terus-terusan melajang hidup sendirian. 

Ustad Samsu berkali-kali mengingatkan itu. Kata beliau, jangan terlalu cemas dengan penghasilan. Bukan besarnya yang penting. Tapi berkahnya. Dan menikah adalah jalan untuk memanen keberkahan.     
 
Bang Ado sekali lagi memberi selamat sebelum aku keluar dari ruangannya.  Saya sedikit terbebani oleh pesannya yang terakhir, ”hati-hati saja sama Eel,” katanya.

Saya bertanya, ”Kenapa, Bang? Saya malah sejak awal agak berhati-hati sama Mas Jon…”

”Jon sudah selesai, sudah bisa kamu atasi itu. Bertahun-tahun koran ini tergantung sama dia, sejak kamu ada, tak bisa lagi dia mengatur berita semau dia. Sandra itu buktinya.  Kalau tak ada kamu, Dur, tak akan bisa jadi semenarik itu liputan koran kita,” kata Bang Ado.

”Kalau Bang Eel kenapa?”

”Pokoknya hati-hati sajalah. Nanti kamu tahu sendirilah.”

Aku menduga-duga, apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam? Selangkah sebelum keluar, di pintu ruangan Bang Ado aku bertanya, ”Abang kenal Bang Ameng?”

”Kenal. Tapi Eel yang lebih dekat dengan dia,” kata Bang Ado, sambil tersenyum penuh isyarat.

Baru saja saya keluar dari ruang Bang Ado, Mas Jon muncul. Begitu melihat saya dia menunjuk-nunjukkan koran kami dan koran pesaing. ”Kalah kita hari ini, Dur.

Coba lihat, koran lain angkat berita soal hasil otopsi itu, yang Sandra hamil itu. Ini beritamu nggak ada. Parah ini… kecolongan,” kata Mas Jon, bicara seperti berteriak-teriak.  

Bang Eel muncul di pintu ruangannya, ”Kenapa Jon? Aku yang ngedit beritanya.

Dur dapat kok info itu,  tapi kemarin belum terlalu jelas konfirmasinya, dokter di Pusdokkes tak mau disebut sebagai sumbernya,  jadi aku pending dulu… Ndak usah teriak-teriak gitulah kau. Nanti kita bahas di rapat,” kata Bang Eel.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya