Berita

Pembangkit Listrik Linkou di Kota Taipei Baru mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara ultra-supercritical pertama di Taiwan/Net

Dunia

Hentikan Pembelian Batu Bara dari Rusia, Taiwan Pertimbangkan Pasar Lain Termasuk Indonesia

JUMAT, 26 AGUSTUS 2022 | 10:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perusahaan energi Taiwan Power Company (Taipower) akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembelian batu bara dari Rusia.

Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan mendapat kritik terus-menerus karena tetap membeli batu bara di tengah invasi Rusia ke Ukraina, meskipun kesepakatan pembelian sebenarnya sudah diambil sebelum konflik pecah pada Februari lalu.

Juru bicara Taipower Wu Chin-chung mengatakan pada Rabu (24/8) bahwa sebelum perang, perusahaannya telah menandatangani perjanjian pembelian untuk mendapatkan 1,16 juta ton batu bara dari Rusia seharga 280 juta dolar AS untuk tahun ini. Namun, Wu mengatakan bahwa pembayaran akhir sebesar 150 juta dolar AS telah dilakukan pada bulan Agustus.


Wu berjanji bahwa utilitas yang dikelola negara tidak akan melakukan pembelian batu bara lebih lanjut dari Rusia.

"Taipower berencana mengakuisisi batu bara dari negara lain seperti Indonesia, Australia, Kolombia, dan Afrika Selatan," kata Wu, seperti dikutip dari Taiwan News, Jumat (26/8).

Nikkei Asia melaporkan pada Selasa (23/8) bahwa Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan telah mengimpor batu bara, minyak, dan gas senilai total 5,5 miliar dolar AS dari Rusia mulai 24 Februari hingga 31 Juli.

Menurut Center for Research on Energy and Clear Air (CREA), dari impor ini, Taiwan menyumbang 1,2 miliar dolar AS, sementara Jepang mengimpor 2,6 miliar dolar AS dan Korea Selatan menghasilkan 1,7 miliar dolar AS.

Menurut pusat tersebut, pembelian bahan bakar fosil dari ketiga negara tersebut menggelontorkan 1 miliar dolar AS ke pundi-pundi Rusia selama periode tersebut.

"Ketika demokrasi Barat berusaha mendukung Ukraina dengan menghentikan pembelian bahan bakar fosil Rusia, negara-negara di Asia Timur pada dasarnya akan dibiarkan sebagai pembeli utama bahan bakar fosil Rusia," kata Lauri Myllyvirta, peneliti utama di CREA.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya