Berita

Gennady Gatilov, perwakilan tetap Rusia untuk PBB di Jenewa/Net

Dunia

Singgung Peran Barat, Diplomat Senior Rusia Yakin Perang di Ukraina Semakin Sulit Diselesaikan dengan Damai

SELASA, 23 AGUSTUS 2022 | 06:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Semakin lama konflik antara Rusia dan Ukraina berlangsung, semakin sulit pula untuk diakhiri dengan solusi damai.

Begitu disampaikan perwakilan tetap Rusia untuk PBB di Jenewa, Gennady Gatilov, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times baru-baru ini.  Ia mengatakan posisi Ukraina saat ini membuat kontak diplomatik dengan Rusia menjadi tidak mungkin.

"AS dan sekutunya menggunakan permusuhan di Ukraina sebagai tekanan terhadap Rusia, sebagai alat isolasi Rusia. Meusak posisi kami, secara ekonomi dan politik," kata Gatilov, seperti dikutip dari RT, Senin (22/8).


"Akibatnya, Kiev memutuskan pembicaraan langsung dengan Rusia pada Maret, yang menjanjikan kemungkinan penyelesaian konflik," kata diplomat itu, menambahkan bahwa pembicaraan damai telah diupayakan beberapa kali tetapi menemui jalan buntu.

Presiden Ukraina Vladimir Zelensky mengklaim pembicaraan dengan Rusia tidak mungkin lagi terjadi setelah pada April lalu menuduh Moskow melakukan kejahatan perang di kota Bucha dekat Kiev. Sebuah klaim yang dibantah Rusia.

Zelensky berulang kali mengatakan dia siap untuk berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri konflik, tetapi akan melakukannya hanya setelah semua pasukan Rusia mundur ke posisi pra-2014.

"Ini membuat Moskow semakin yakin bahwa tidak ada platform praktis untuk pertemuan Putin-Zelensky," kata Gatilov.

"Sekarang, saya tidak melihat kemungkinan untuk kontak diplomatik," ujarnya.

Dan semakin banyak konflik berlangsung, semakin sulit untuk memiliki solusi diplomatik, menurutnya.

Diplomat senior itu juga menyoroti peran Barat dalam konflik Rusia-Ukraina

"Hubungan Rusia dengan negara-negara Barat juga hampir tidak ada, dan delegasi yang dipimpinnya tidak memiliki kontak formal atau pribadi dengan rekan-rekan Barat mana pun," katanya.

"Rusia percaya bahwa AS tidak peduli dengan kepentingan tetangga Rusia dan ingin memerangi Rusia sampai Ukraina terakhir," demikian Gatilov.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Jaksa Agung Resmi Lantik Kuntadi sebagai Pengganti Febrie

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:25

Wasekjen AMPI: Hasil Rapat Pleno IX Cacat Hukum dan Tak Punya Legitimasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:23

Danantara Mulai Bentuk Perusahaan Manajemen Aset Raksasa

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:15

Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadirkan Desain Tipis dan Performa Tangguh

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:55

Indonesia Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Laut Merah

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:34

Perbaikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jadi PR Bersama

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:32

Panda Bond RI Laris, Pemerintah Raup Rp18,5 Triliun

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:27

Kemunculan Kabinet Bayangan Konsekuensi dari Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Iran: Trump akan Hadapi Konsekuensi jika Serangan AS Berlanjut

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar dari PT DSI, Sebut Bentuk Kepedulian untuk Korban

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:50

Selengkapnya