Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Hapus Ganja dari Narkotika Kategori 5, Warga Thailand Diperbolehkan Tanam Sendiri di Rumah

SELASA, 07 JUNI 2022 | 11:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Thailand akan segera menghapus ganja dari daftar narkotika Kategori 5 pada Kamis (9/6) waktu setempat, yang memungkinkan orang menanam tanaman dalam jumlah tak terbatas di rumah mereka.

Namun, itu tidak berarti masyarakat dapat menggunakannya secara bebas, terutama untuk rekreasi.

Ganja yang ditanam di rumah hanya diperbolehkan untuk tujuan kesehatan dan medis, dan orang-orang harus mendaftarkan penanamannya terlebih dahulu ke organisasi administratif provinsi, atau melalui aplikasi seluler Pluk Kan, yang dikembangkan dan dioperasikan oleh Food and Drug Administration, seperti dilaporkan Bangkok Post.


Meskipun ada pelonggaran hukum, ekstrak yang mengandung lebih dari 0,2 persen tetrahydrocannabinol (THC), senyawa psikoaktif utama dalam ganja, masih akan diakui sebagai zat Kategori 5 dan diatur dalam undang-undang yang berkaitan dengan pengendalian dan penindasan narkotika.

Aturan terbaru juga mengharuskan siapa pun yang berniat menanam tanaman ganja untuk tujuan komersial untuk meminta izin dari pihak berwenang yang bertanggung jawab.

Hanya minyak yang diekstraksi dari ganja dengan kandungan THC lebih besar dari 0,2 persen yang akan dikategorikan sebagai narkotika, artinya bagian lain dapat ditanam dan diperdagangkan secara legal untuk tujuan medis, promosi kesehatan, dan bisnis lainnya.

Kepala eksekutif JSP Pharmaceutical Manufacturing (Thailand), distributor obat-obatan dan suplemen gizi, Sittichai Daengprasert, menyambut baik aturan tersebut.

Sittichai mengatakan langkah itu harus memulai pengembangan ganja di berbagai industri, dari obat-obatan hingga kosmetik dan makanan, menandai "era baru" untuk pabrik di Thailand.

"Sementara pengusaha akan dapat mendirikan bisnis baru, masyarakat sekarang memiliki pilihan perawatan medis baru yang dapat membantu mereka menghemat uang," katanya.

Minyak Cannabidiol (CBD) yang diekstraksi dari ganja dapat digunakan untuk pengobatan banyak penyakit. Pasar minyak CBD diperkirakan bernilai 100 miliar baht, menurut JSP.

"Orang atau perusahaan yang ingin melakukan bisnis yang melibatkan perkebunan ganja dan ekstraksi minyak dapat mendaftar secara online atau melalui aplikasi seluler," kata Sittichai.

"Ini akan memungkinkan pemerintah untuk mengatur industri," ujarnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Selesaikan Bentrok di Matraman dengan Kepala Dingin

Senin, 27 Juli 2026 | 20:25

Metode Backfill Tailing jadi Andalan Tambang Bawah Tanah Lebih Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:24

Putusan Majelis Syura PKS: Dukung Kebijakan Ekonomi Prabowo Hingga Soroti LGBTQ

Senin, 27 Juli 2026 | 20:23

Pramono Minta Warga Kepala Dingin Sikapi Bentrokan di Matraman

Senin, 27 Juli 2026 | 20:16

Sebagai Wakil Rakyat, DPR Punya Tiga Tugas yang Wajib Dijalankan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:14

KSSK Bakal Libatkan Danantara dalam Setiap Pengambilan Keputusan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:02

Kuasa Hukum Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masih Abu-Abu

Senin, 27 Juli 2026 | 19:59

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Komunitas Lintas Iman Satukan Tekad Hadapi Krisis Iklim

Senin, 27 Juli 2026 | 19:49

Kompetisi Debat Pemilu ke-VI Bawaslu Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Senin, 27 Juli 2026 | 19:48

Selengkapnya