Berita

Mantan Menteri Perindustrian RI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Fahmi Idris/Net

Publika

Fahmi Idris

SENIN, 30 MEI 2022 | 13:48 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

MINGGU siang, 22 Mei 2022, saya dikejutkan berita duka: Bapak H. Fahmi Idris meninggal dunia pagi tadi jam 10.00 WIB di sebuah rumah sakit, di Jakarta. Perasaan saya kontan luruh oleh rasa sedih. Prihatin. Dan merasa kehilangan.

Pada waktu berlangsung Munas Golkar bulan Desember 2004 di Bali, dengan dukungan total dari almarhum dan kawan-kawan, JK (Jusuf Kalla) yang Wapresnya SBY itu, berjaya menggusur AT (Akbar Tanjung) selaku petahana.

Padahal sebelum Munas di Bali, almarhum dan kawan-kawan dipecat dari Golkar oleh AT karena tidak mematuhi keputusan Rapimnas Golkar yang mendukung pencalonan pasangan Capres Megawati-KH Hasyim Muzadi.


Pada waktu Munaslub Bali AT sudah tidak punya jabatan formal. Sebagai Ketua DPR RI telah digantikan Agung Laksono (Oktober 2004). Tradisi pengurus Golkar daerah sejak era Soeharto selalu lebih nyaman dipimpin Ketua Umum yang punya jabatan di kekuasaan.

Sebelum Munaslub Bali, kami sudah bergabung dengan almarhum dalam kubu “Eksponen Ormas Tri Karya” (EOTK), yang dibentuk Mayjen (Pur) Suhardiman bersama saya (Ormas MKGR) dan almarhum tokoh-tokoh dari Kosgoro 57 melalui forum “Deklarasi Makassar” berlangsung di Makassar (2002).

“EOTK” berfungsi sebagai moral force (kekuatan moral) untuk mengontrol kiprah pengurus Golkar supaya tetap konsisten berjalan di atas koridor doktrin Golkar “karya kekaryaan”. Dan menjadi rumah besar bangsa Indonesia.

Pada Pemilu 2009, “EOTK” memberikan dukungan kepada pasangan JK-Wiranto sebagai capres, namun kalah. Berlanjut pada Pemilu 2014 “EOTK kembali mendukung pasangan capres Joko Widodo-JK. Di dalam semua kiprah “EOTK” tersebut di atas, almarhum selalu bersama kami.

Pada waktu Pilpres 2014, kami dari “EOTK” menentang keputusan Aburizal Bakrie yang menjadikan Golkar sebagai opisisi karena dia lebih memilih mendukung pasangan capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Yang kemudian kalah.

Pada era pra Pilpres 2014 itu, saya bersama pak Suhardiman dan almarhum berkunjung ke Surabaya dan Palembang untuk mengampanyekan pasangan Jokowi- JK. Ketika kami ke Makassar dan Batam untuk tujuan yang sama kedua almarhum tidak ikut serta. Pak Suhardiman sendiri karena terkendala sakit.

Menjelang Pilpres 2019, pada rapat pleno Golkar (13/12/2017) Airlangga Hartarto disepakati menjadi Ketum Golkar menggantikan Setya Novanto yang ditahan KPK dalam kasus korupsi E-KTP. Dan ketika berlangsung pembukaan Munaslub di gedung JCC, Jakarta (18/12/2017) Golkar mengumumkan mendukung Joko Widodo sebagai capres 2019.

Yang paling saya ingat, sewaktu almarhum menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era SBY-JK (2004), hubungan saya dengan almarhum perlahan meningkat. Sebagai pengurus DPP Golkar yang membidangi Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era JK, otomatis saya sering bertemu almarhum terkait penugasan. Almarhum di pemerintahan. Saya di Golkar.

Saya pernah ikut dalam tim almarhum bersama SBY ke Kuala Lumpur membahas status Ilegal TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang banyak masuk ke Malaysia. Sesudahnya itu, kami berkali-kali bertemu. Paling sering di Gedung Transmigrasi kawasan Kalibata.

Gampang ditemui justru pada malam hari, sesudah Shalat Magrib. Almarhum nyantai, hanya pakai sarung. Kami berdiskusi 1-2 jam. Mbak Tini almarhumah, istri pertamanya, dengan setia mendampingi. Menyediakan makan malam yang dibawa dari rumah.

Lewat persinggungan dengan almarhum itulah saya memahami karakter aslinya sebagai “trouble shooter”. Mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Percaya dirinya sangat tinggi. Tidak suka main “dua kaki”, sebagaimana karakter busuk politisi penjilat untuk meraih jabatan.

Teman-teman menjuluki almrhum sebagai batu karang. Tangguh. Tidak bergeser dihantam ombak bertalu-talu. Selain itu  wajahnya tampan, macho dan tahan banting. Typologi pemimpin yang tidak akan berdiam diri membiarkan praktik ketidakadilan.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa almarhum disegani dan disenangi kawan maupun lawan, karena konsisten pada komitmen.

Diketahui luas almarhum berperan besar mengantar JK jadi Wapres. Menggoalkan jadi Ketum Golkar. Almarhum adalah salah seorang tokoh sentral yang membuka jalan “surga” JK ke puncak kekuasaan.

Tapi tidak terlihat pada dirinya ada gerak-gerik mau memanfaatkan jasanya itu. Tetap berpenampilan biasa-biasa. Terus merawat komunikasi dengan teman-teman yang ada dalam sistem. Maupun yang di luar.

Ketika almarhum jatuh sakit, saya sempat membesuk dua-tiga kali di rumahnya yang luas pekarangannya di kawasan Mampang, Kebayoran Baru. Menemuinya sedang berbaring di tempat tidur. Mendoakan supaya tabah dan cepat sembuh.

Almarhum berpesan supaya kami tetap konsisten dengan perjuangan. Terus merawat jati diri Golkar: menjadi rumah besar bangsa yang memihak kepada rakyat kecil (yang terpinggirkan).

Almarhum tidak menghendaki Golkar dipimpin seseorang yang haus kekuasaan. Menggadaikan kebesaran Golkar untuk kepentingan pribadi. Tidak berharga diri.

Almarhum menghendaki pemimpin itu harus punya sikap tegas dan teguh. Terus mewarisi karakter pemimpin pejuang yang tahan banting. Mempertahankan prinsip “setia hingga keyakinan terakhir”. Tetap berpegang kepada sikap: principle is not to be traded (prinsip tidak untuk diperdagangkan).

Sikap dan karakter almarhum itulah yang seyogyanya diwarisi dan dilestarikan kader-kader muda Golkar. Sikap yang konsisten pada pendirian. Itu penting demi merawat citra dan eksitensi Golkar sebagai partai politik besar yang bertanggung jawab menjadi obor penyuluh di kala kegelapan menutup negeri ini.

Menjadi obor ketika bangsa ini digelapkan oleh pemimpin palsu yang berwatak pragmatisme dan aji mimpung serta gampang meminggirkan norma dan etika berbangsa dan bernegara.

Saya sempat menghadiri resepsi pernikahan kedua almarhum (2015). Setahun sebelumnya almarhum pernah menjalani tindakan operasi di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, medio Oktober 2014. Lima tulang punggungnya harus diangkat karena terserang penyakit kanker darah “Multiple Myeloma”.

Sejak itu komunikasi saya secara fisik dengan almarhum sudah agak berkurang. Meskipun demikian kontak batin tidak terputus.

Akhirul kalam. Selamat jalan Bung Fahmi, saudaraku. Semangat perjuanganmu tidak akan lekang oleh panas dan tidak akan lapuk oleh hujan. Selamat beristirahat di sisi Allah SWT. Semoga husnul khotimah. Amin YRA. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.

Penulis adalah wartawan senior dan pemerhati masalah sosial dan budaya

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya