Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pertumbuhan Ekspor China Melambat, Ternyata Bukan Cuma karena Aturan Covid yang Jadi Penyebab

SELASA, 10 MEI 2022 | 13:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pertumbuhan ekspor China turun tajam menjadi 3,9 persen pada April. Aturan ketat Covid-19 yang mengunci dunia perdagangan China baru-baru ini, menjadi salah satu faktornya.

Ini adalah pukul terlemah sejak Juni 2020, saat China juga harus menutup negaranya karena Covid gelombang pertama.

Shanghai, pelabuhan terbesar di dunia, mengalami gangguan besar-besaran sejak Covid-19 kembali mewabah di negara itu pada akhir Maret. Kebijakan nol-Covid-19 telah membuat pabrik-pabrik tutup di seluruh kota, serta penundaan pengiriman besar-besaran di pelabuhan.


Jaringan transportasi dan logistik juga ikut terpengaruh. Pembatasan yang diberlakukan, memukul pengiriman barang di seluruh negeri dan ke pelabuhan dengan koneksi pengiriman global utama.

Pusat manufaktur Shenzhen dan di Jilin yang terkunci juga memberikan efek lesunya ekonomi China.

Namun begitu, juru bicara bea cukai China Li Kuiwen mengatakan bahwa "fundamental positif" ekonomi China tidak berubah.

Beberapa analis memperingatkan bahwa angka perdagangan akan terus memburuk jika situasinya seperti ini terus menerus. Ia  menggarisbawahi sejauh mana masalah yang ditimbulkan oleh penguncian yang saat ini diberlakukan di China.

"Pertumbuhan ekspor bisa memburuk dalam beberapa bulan ke depan karena pandemi dan langkah-langkah penahanan Covid yang ketat di China, penurunan permintaan eksternal dan hilangnya pesanan ke wilayah lain," kata kepala ekonom China Nomura Ting Lu kepada kantor berita AFP.

Dia mengatakan bahwa pertumbuhan ekspor telah menjadi pendorong utama ekonomi Tiongkok selama dua tahun terakhir dan bahwa perubahan yang berkepanjangan sekarang akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian.

Para ekonom justru meragukan bahwa bahwa aturan penguncian China saat ini, salah satu yang paling ketat di dunia, adalah penyebab melambatnya angka perdagangan.

"Wabah virus di China menyebabkan kesulitan besar dalam rantai produksi dan rantai pasokan," kata Chang Ran, seorang analis senior di Zhixin Investment Research Institute. Ia mengatakan, beberapa negara di Asia Tenggara telah beralih dari pemulihan ke ekspansi produksi, menggantikan ekspor China sampai batas tertentu," tambahnya.

Para ahli memperkirakan, bahwa perdagangan China mengalami penurunan karena diperparah dengan melemahnya permintaan global, terutama di Uni Eropa dan AS, di mana saat ini inflasi yang melonjak telah memukul daya beli.

"Penurunan paling tajam terjadi pada pengiriman ke UE dan AS, di mana inflasi tinggi membebani pendapatan rumah tangga riil," kata Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics.

Di tengah perang Rusia-Ukraina beberapa negara harus mengalami dampak buruk dari perang itu sendiri, dari mulai ditutupnya pelabuhan, dibatalkannya penerbangan, serta sanksi-sanksi yang menyasar Rusia tetapi berdampak pada negara-negara di sekitarnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya