Berita

Ilustrasi kilang minyak/Net

Politik

Global Ekonomi: Tak Bisa Dipungkiri, Gejolak Energi Global Berdampak pada Indonesia

KAMIS, 07 APRIL 2022 | 22:13 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Gejolak perang antara Rusia dan Ukraina yang belum memberikan tanda akan usai, berimbas pada terganggunya kebutuhan energi secara global. Hal ini, menyebabkan harga minyak dunia melambung tinggi.

Di Indonesia sendiri, Pertamina terpaksa menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 12.500, dari sebelumnya Rp 9.000 perliter. Namun harga ini masih jauh lebih rendah dibanding harga keekonomiannya yang mencapai di atas Rp 16 ribu perliter.

Direktur Global Economi Politic Institute, Ronald Loblobly mengatakan, saat ini Rusia juga mengalami kesulitan dalam menyalurkan minyak dan gas yang mereka punya. Pasalnya, sejumlah negara berkomitmen untuk tidak membeli migas dari Rusia selama negara itu masih menginvasi Ukraina.


"Kenaikan harga dunia jadi tak bisa dihindari. Kondisi di luar ini juga pada akhirnya mempengaruhi kondisi di Indonesia," ujar Ronald dalam diskusi yang digelar Jakarta Journalist Center (JJC) dengan tema "Krisis Rusia-Ukraina, Mahalnya Minyak Dunia", Kamis (7/4).

Meski bukan kebijakan populis, menurut Ronald, keputusan kenaikan harga Pertamax harus diambil. Saat ini, yang perlu dilakukan yakni mengedukasi masyarakat tentang kelebihan produk Pertamax.

"Di sini kesadaran masyarakat menengah ke atas yang harus lebih teredukasi. Jangan mereka malah turun kelas dari menggunakan Pertamax jadi Pertalite," katanya.

Sebagai negara yang memiliki prinsip berpolitik bebas aktif, kata dia, Indonesia pasti mendapat tekanan dari pendukung blok barat. Hal ini lantaran mereka cenderung kontra dengan Rusia.

"Hal ini sudah terlihat saat Greenpeace mengadang kapal Pertamina saat membawa minyak dari Rusia. Di sini Indonesia memegang peranan cukup sentral untuk manfaatkan situasi kondisi yang ada," jelasnya.

Lanjutnya, pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan keadaan untuk bernegosiasi dengan Rusia terkait jual beli komoditas migas. Sehingga diharapkan Indonesia mendapat harga ekonomi terbaik.

"Kita bisa negosiasi sehingga mendapat harga ekonomi yang terbaik dengan Rusia, sehingga diharapkan bisa menguntungkan Indonesia. Ini opsi yang bagus untuk menstabilkan kondisi di Indonesia," pungkasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya